Membukukan Tulisan?

Setiap orang punya alasan tersendiri tentang mengapa mereka ingin membukukan tulisan-tulisan mereka. Termasuk pula diriku.
Sejak awal aku mulai aktif menulis, aku merasa perlu membukukan beberapa karya yang menurutku bagus (ya, hanya yang  menurutku bagus saja, bukan menurut orang lain). Namun rencana itu tak kunjung jua terealisasikan, ada saja halangannya. Mulai dari persoalan teknis karena laptop eror sehingga file-filenya tidak bisa aku akses, hingga persoalan pembuatan cover yang maju mundur lalu stop terabaikan begitu saja.

Demikian kisah maju-mundur-stuck nya naskahku untuk mewujud menjadi sebuah buku.

Bertahun-tahun kemudian setelah ide tersebut stuck, belum kunjung jua terealisasikan, tiba-tiba saja ingatan akan ide tersebut muncul kembali. Namun aku mencoba menganalisisnya dengan baik.

Rupa-rupanya..
Segala macam hambatan yang aku alami ketika akan mewujudkan naskah-naskah jadulku untuk menjadi sebuah buku adalah bagian dari rencana Allah SWT kepadaku. Rencana yang baru kusadari betapa indah, betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Apa aku keGRan? Tak mengapa, ke GRan dalam rangka berhusnudzon kepada Sang Khaliq tentu hal yang baik dan tidak dilarang dalam agama.

Ingatan kita terhadap sesuatu akan semakin kuat ketika kita menyimpannya dengan baik dan rajin mengulang-ulangnya.

Coba bayangkan saja. Jika naskah jadul itu dulu sukses mewujud menjadi sebuah buku yang kupublikasikan ke khalayak banyak, betapa malu nya aku kepada diriku sendiri. Malu kenapa? Bukankah itu hasil karyamu? Ya, tentu. Namun yg membuatku malu adalah kisah-kisah di balik setiap tulisan tersebut. Setiap tulisan yang kita torehkan, memiliki latar belakang kisahnya masing-masing. Dan sebagian besar, bahkan nyaris semua tulisan dari naskah jadul tersebut berlatarbelakang kekecewaanku, juga kebahagiaanku terhadap beberapa orang di masa lalu. Orang-orang yang tidak ingin kuingat-ingat lagi.

Tulisan-tulisan itu seperti memiliki tangan yang diam-diam membuka kotak pandora ingatan yang sebenarnya sungguh ingin kulupakan. Semakin aku membacanya maka satu per satu isi kotak keluar begitu saja memenuhi setiap rongga di pikiran. Dengan membukukannya maka sama saja dengan membekukannya dalam ingatan. Dan bagi diriku yang sekarang, sudah tidak ada gunanya untuk menyimpan kenangan beku masa lalu.

Kubiarkan saja mereka terbang, berharap terbang jauh dan semakin jauh.

Maka dengan begitu, hidupku terasa lebih tenang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *