Monthly Archives: April 2011

Chefnomist

Sore-sore makan kue sambil minum teh hangat..ditemani musik dan buku.. Rasanya cozy banget.
Iseng-iseng pikiran ini melayang..
Ternyata ekonom itu mirip-mirip ya dengan chef?

Chef
Menentukan kebutuhan (ingin masak apa?)
Mengecek kelengkapan bahan yang ada (apa cukup atau ada yang kurang untuk membuat masakan yang diinginkan?)
Meracik berbagai bahan dan bumbu sesuai takaran sehingga menghasilkan masakan yang lezat di lidah dan bermanfaat juga bagi tubuh.

Ekonom
Menentukan kebutuhan perekonomian negara (Berapa persen pertumbuhan yang ingin dicapai? Berapa banyak pengangguran dan persoalan kemiskinan yang ditargetkan diatasi? Etc)
Mengecek kelengkapan infrastruktur, suprastruktur, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai.
Membuat kebijakan, peraturan-peraturan terkait agar tujuan dapat tercapai.

Secara sederhana tampak ada persamaan antara chef dan ekonom.
Tapi ternyata ada perbedaannya juga.

Chef seminim apapun kemampuannya.. yang namanya chef sudah tentu ahli mengolah makanan menjadi masakan yang lezat.

Masakannya disukai sebagian besar orang-orang. Entah orang itu lapar atau tidak.

Sedangkan ekonom..tidak semua kebijakan yang dihasilkannya benar-benar “lezat” dan bermanfaat untuk semua pihak. Tetap saja ada yang dirugikan dari sebuah kebijakan yang diterapkan,entah itu banyak ataupun sedikit.

Coba lihat ekonom masa kini… Mereka sudah tampak seperti Farah Quinn.
Memasak dengan kombinasi bahan tradisional dengan cara memasak yang praktis, modern, dan ala barat. Hasilnya adalah masakan yang tampak sederhana cara membuatnya, dan tetap lezat rasanya.

Sama juga kan seperti beberapa ekonom masa kini?
Mengombinasikan permasalahan-permasalahan konvensional negara agraris dengan menggunakan teori-teori modern yang diterapkan di negara lain yang jauh lebih maju sebagai solusinya. Tapi bedanya..untuk yang ini..rasanya nggak selezat masakan ala chef Farah Quinn.

Makassar, 23 April 2011.

17.35 WITA.

NB: note ini juga diposting di blog ekonom gila.

Dibaca sebanyak: 436 kali.

Negro Cake alias Brownies Kukus Wanna Be

Ba’da isya tadi nyoba-nyoba bikin kue lagi.

Liat resep.. disitu pakai 10 telur.. Huaaa..busettt..banyak amat.. Hahhaa..padahal cuman mo bikin dikit.

Yang di resep itu utk porsi 4 loyang. Padahal kan saya cuman mo bikin 1 loyang.

 

Akhirnya coba bikin resep baru.. Kata ibu sih kuenya jadinya kecil, soalnya harusnya pakai loyang mini, bukan loyang lebar, pantesan aja waktu dituang, adonannya cuman setengah loyang. Dan pas jadi cuman mengembang jadi 3/4 loyang.

Huehehhe..tapi hasilnya enak, dan malah nggak kayak brownies.. Brownies kan kue nggak jadi..alias kue bantet.. Intinya emang sengaja dibikin bantet. Sedangkan kue yang kubuat itu nggak bantet.

 

Mo coba? Ini dia resepnya.. I call it

 

Negro Cake

 

Bahan:

2 butir putih telur

3 butir kuning telur

3/4 cangkir gula halus

3 sdm margarin yang telah dicairkan

1/2 sdt baking powder

1 sdt TBM

1/2 sdt vanili

3/4 cangkir tepung terigu

3/4 cangkir coklat bubuk

1/2 sdt kayu manis (untuk aroma khasnya aja)

1/4 cangkir air

 

Cara membuat:

1. Kocok telur, gula halus, TBM, dan vanili sampai berwarna agak keputihan.

2. Masukkan margarin yang telah dicairkan

3. Setelah rata, masukkan tepung terigu yang telah dicampurkan baking powder dan coklat bubuk. Tuang sedikit demi sedikit sambil terus dikocok dengan mixer kecepatan rendah.

4. Tuang di loyang ukuran 9×9 (PxL).

5. Masukkan di kukusan yang telah panas. Kukus selama 30 menit.

6. Angkat, dinginkan, dan sajikan.

 

Selamat mencoba..

 

Porsi untuk 15-20 potong.

 

Dibaca sebanyak: 4834 kali.

Keywords

  • resep bolu negro
  • resep kue negro
  • bolu negro
  • kue negro
  • cara membuat bolu negro

Why Economics?

Ilmu itu apa?

Ilmu itu sebenarnya pengetahuan yang mendalam tentang sesuatu.
Ilmu bumi, berarti pengerahuan yang mendalam tentang bumi. Ilmu tanah berarti pengetahuan yang mendalam tentang tanah. Begitu juga ilmu ekonomi, tentu saja merupakan pengetahuan yang mendalam tentang ekonomi.

Bagaimana menentukan kedalamannya?
Tengok saja kompleksitasnya dan ke-komprehensifannya.
Ilmu tentu saja pengetahuan yang kompleks dan komperehensif.

Tiap orang yang mempelajari ilmu, belum tentu menguasai ilmu tersebut secara keseluruhan karena sifat ilmu yang kompleks dan sangat komperehnsif. Bisa terus menerus digali, dan berkembang sesuai jaman yang ada.

Teori yang dipakai pada berabad-abad lampau, ada yang sudah tidak relevan diterapkan di era kekinian. Namun ada juga yang masih cocok untuk dipergunakan sebagai solusi atas permasalahan kekinian yang ada.

Dimana manusia berdiri?

Manusia adalah subjek amaupun objek dalam ilmu pengetahuan. Melalui pemikiran manusia, ilmu pengetahuan berkembang. Manusia pun berkarya. Sehingga berkembanglah sebuah perubahan dalam peradaban. Atau bahakan memunculkan peradaban baru yang sebenarnya merupakan hasil gesekan, maupun benturan dari nilai-nilai yang ada.

Manusia yang memberi values terhadap sesuatu.
Atau sesuatu itu yang memang sudah punya values?

benturan-benturan values, proses adapatasi dan asimilasi, semuanya berperan dalam pembentukan kebudayaan baru.

Perilaku masyarakat bisa berubah akibat gesekan-gesekan dan benturan-benturan itu, jika masyaarakat tidak punya values yang jelas terhadap dirinya.

Perilaku masyarakat ini tidak hanya berpengaruh terhadap perubahan sosial budaya semata, namun juga turut berperan dalam perkembangan perekonomian.

Why Economics?

Ilmu ekonomi itu apa? Menurut definisi umum, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang cara mengatur rumah tangga. Kita kembali ke definisi ilmu. Sekali lagi.. ilmu adalah pengetahuan yang mendalam.

Ilmu ekonomi berarti pengetahuan yang mendalam tentang ekonomi.

Jika orang-orang pada umumnya sudah tahu bahwa menurunnya nilai tukar rupiah akan menyebabkan inflasi (naiknya harga barang-barang), maka seseorang yang telah belajar ilmu ekonomi seharusnya paham lebih dari itu. a harus paham apa yang emnyebabkan turunhya nilai tukar? Bagaimana dampak inflasi yang terjadi? Serta langkah/kebijakan apa yang perlu diterapkan sebagai tindakan antisipasi maupun pengobatan ketika telah terjadi?

Ornag-orang yang berilmu itu seharusnya mampu menggunakan ilmunya sebaik mungkin. dan mendatangkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang.

Mungkin karena keistimewaan tersebut Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu sebanyak 1 derajat (kalo nggak salah,ini ayat Al Qur’an. tapi lupa ayat dan surah apa).

Mengapa? Mengapa Allah mengistimewakan ornag-orang yang berilmu?
Sebab orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang berpikir. Orang-orang yang seharusnya berpikir sebelum bertindak.

Bukan orang bodoh yang bertindak sesuak hatinya tanpa peduli akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya.

Orang berilmu itu paham atas kondisi yang dihadapinya dan sehingga mampu mengambil keputusan sesuai pemahamannya itu.

Lalu ornag-orang yang bodoh? Bukankah mereka juga paham terhadap kondisi yang dihadapainya? Meskipun pemahamannya mungkin kurang tepat. Tapi tetap saja disebut paham kan?

Tidak! Paham seharusnya ya paham terhadap sesuatu yang benar dan baik.

Lho? Pahaman yang mereka jadikan landasan itu mereka anggap benar dan baik kok..

Lihat saja anggota DPR mau bikin gedung baru.. Nah, mereka beranggapan itu benar dan baik. Itu landasan pahaman mereka.

Bukan benar dan baik seperti itu.

Tapi benar dan baik untuk khalayak banyak.

Sesuatu yang hanya mendatangkan kemanfaatan untuk segelintir orang saja, tidak pantas disebut sebagai kebijakan yang benar!..

Makassar, 21 April 2011, 22.38 WITA

Dibaca sebanyak: 401 kali.