Monthly Archives: May 2011

Mama

“Ma. aku hamil”

Mama diam dan terhenyak mendengar ucapanku. Aku menduga-duga.. Mungkin sebentar lagi beliau pingsan, lalu terjadi kehebohan di rumah ini, kemudian aku diusir dari rumah. Yaa…seperti gambaran yang ada di sinetron-sinetron kacangan di sebuah kotak bernama televisi.

Detik detik berlalu. Mama hanya diam, tetap mengupas wortel yang ada di tangannya. Aku bingung, tak mengerti. Apa mama tuli? Ah, tidak. Pendengaran mamaku masih sangat baik.

Kembali ingin kuulang perkataanku pada beliau. Tapi aku ragu. Aku benar-benar takut pisau itu tiba-tiba dihunuskan kepadaku. Pikiran burukku mulai berkecamuk. Bagaimana jika tiba-tiba mama menghujamkan pisau itu ke perutku? Mungkin karena rasa depresi dan kepenatan yang sangat melanda jiwanya? Atau bagaimana jika tiba-tiba mama malah menusukkan pisau itu ke tubuhnya sendiri? Ah, aku semakin bingung. Seringkali kenyataan memang berbeda dengan fakta yang terjadi.

Kucoba menepis segala gundah dan ragu. Perlahan ku berjalan lebih dekat lagi ke mamaku. Mengambil posisi yang tepat agar tidak terkena pisau jika memang pisau itu akan terhujam untukku, atau paling tidak, aku sudah bersiap untuk menangkis serangan pisau jika itu memang harus terjadi.

“Ma, aku hamil”

Kuamati gerak mama. Mama masih tetap sibuk mengupas wortel yang kedua. Namun gerakannya makin cepat daripada saat mengupas wortel yang pertama.

Jantungku semakin berdegup kencang. Aku tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelah kuutarakan hal ini untuk ketiga kalinya. Kali ini aku semakin dekat dengan mama. Aku tidak begitu peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Aku harus siap jika nasib buruk harus menimpaku.

“Ma, aku hamil”

Ujarku datar dan sedikit gemetar.

Kuamati gerakan tangan mama. Tiba -tiba mama meletakkan pisaunya dan berbalik ke arahku. Menatap jauh ke dalam mataku, seolah ingin menelanku saat itu juga.

Detik demi detik berlalu..

Hanya ada kebisuan antara aku dan mama. Mata kami bertatapan dan hingga akhirnya aku menyerah. Aku menunduk, tak sanggup melihat mata mama yang dihiasi kaca bening. Mata itu membuatku merasa menjadi seorang anak yang paling berdosa di dunia ini. Bagaimana mungkin aku bisa melakukan semua perbuatan konyol ini dan mengkhianati kepercayaan yang mama berikan kepadaku. Aku masih tak percaya pada diriku sendiri dan pada semua hal yang kualami.

“Lalu kenapa kalau kamu hamil?”, suara mama memecah keheningan.

Aku yang tadinya tertunduk malu, terpaksa harus mengangkat wajah, menatap mata mama lagi. Aku diam, bingung, tak tahu harus menjawab apa. Mungkin mama akan menyuruhku menggugurkan kandungan ini. Tapi apa aku sanggup? Apa aku sanggup membunuh janin tak berdosa ini?

“Lalu kenapa kalau kamu hamil? Kamu mau menggugurkannya? Begitu?”

Belum sempat aku menjawab, mama sudah bertanya lagi. Aku semakin gundah, sebab nada bicara mama semakin meninggi. Aku takut tiba-tiba mama berbuat sesuatu di luar kendali. Aku pun membuka suara.

“Alin mau nikah, Ma. Alin mau nikah sama Ardian. Alin nggak mau menggugurkan janin ini.. Janin ini nggak berdosa, Ma”, ucapku tersendat-sendat, berusaha menahan air mata yang rasanya sudah tak mampu kubendung lagi.

 Aku tertunduk. Malu. Aku malu pada mama, dan juga pada Tuhan.

“Ma, cuma mama yang Alin punyai di dunia ini. Alin nggak sanggup pergi kalo seandainya mama mengusir Alin dari rumah ini. Alin tau apa yang sudah Alin lakukan ini salah.. Tapi Alin nggak mau berbuat kesalahan yang lebih besar lagi jika Alin menggugurkan kandungan ini”, aku kembali memberi penjelasan pada mama. Aku berharap mama mengerti.

Aku tak mendengar suara mama. Kuangkat wajahku, kulihat mama hanya berdiri mematung melihatku tak berkedip.

“Ma…”

Mama lalu pergi dari hadapanku. Menuju ke kamar, mencari-cari sesuatu dari kotak tua lama tempat mama menyimpan semua benda berharganya di sana.

Aku mengamati dari belakang.

Mama mengambil sebuah album foto usang yang baru kulihat pertama kali itu.

Mama mengajakku duduk di tepi tempat tidur. Dari dekat kuamati wajahnya yang sudah berhias guaratan-guratan keriput. Namun aku masih bisa melihat sisa-sisa kecantikan wajahnya.

“Kamu tahu kenapa mama melarang kamu bergaul dengan Ardian?”, tanya mama datar kepadaku.

Aku hanya menggeleng.

“Kamu buka album ini”, ujar mama seraya menyerahkan album foto ke tanganku.

Aku membukanya perlahan-lahan. Aku melihat foto anak-anak di dalamnya, entah siapa mereka. Aku juga melihat foto mama waktu masih muda, dan foto seorang lelaki yang tidak kuketahui. Aku berusaha mencerna semuanya dengan pikiran jernih. Mungkinkah lelaki di foto ini adalah ayahku?

“Foto lelaki di album itu adalah ayahmu. Dan foto anak lelaki yang digendongnya adalah Ardian. Ardian itu kakak kandungmu, Lin”, mama menjelaskan semuanya kepadaku.

Aku tersentak mendengarnya. Tanganku bergetar hingga kubiarkan saja album foto usang itu jatuh dari tanganku.

Dari sudut mataku, kulihat mama beranjak keluar kamar dengan mata berkaca-kaca. Aku teringat apa ynag pernah diucapkan mama.

Jangan pernah kamu melakukan hal aneh dengan Ardian. Kecuali jika kamu ingin melihat mama tak ada lagi di dunia ini.

Aku berlari, keluar kamar, mencari mama.

“Mama…!”

Aku menemukan mama di dapur, terbujur kaku, penuh darah, dan pisau terhunus di pergelangan tangannya.

NB: juga diposting di kompasiana

Dibaca sebanyak: 306 kali.

Lukisan Mama

Hari ini mama pulang. Hmm..dah berapa hari ya aku tidak bertemu mama. Mungkin 5 hari, eh bukan, tepatnya 7 hari, alias seminggu. Lama juga ternyata. Kira-kira mama bawa oleh-oleh apa ya dari Paris? Semoga mama jadi membelikan lukisan cantik itu. Lukisan cantik yang dua tahun lalu kulihat di salah satu gerai lukisan di Paris. Lukisan yang membuatku nyaris tak ingin pulang ke Indonesia karena mama tak membeli lukisan itu. Tapi akhirnya aku tetap ikut pulang ke Indonesia sebab mama berjanji akan membelikan lukisan itu untukku tahun depan. Ternyata janji tinggallah janji. Tahun lalu adalah waktu yang seharusnya ditepati mama untuk memenuhi janjinya, tapi lukisan itu tidak dibelinya dengan alasan bahwa sewaktu kunjungan kerja ke Paris, ada anggota pengawas yang ikut, jadi mama nggak bisa deh jalan-jalan.

            Tahun ini mama ke Paris lagi, khusus untuk membeli lukisan itu. Dan ini adalah hari tibanya mama di Indonesia. Aku sudah tidak sabar melihat mama menenteng membawa lukisan cantik itu.

            Ya, aku dan mama sama-sama suka seni. Kami suka melukis dan suka mengoleksi lukisan-lukisan indah, mulai dari lukisan ternama hingga lukisan karya pelukis pinggir jalan. Lukisan dalam dan luar negeri, kami koleksi. Mulai dari Affandi hingga Pablo Picaso. Saking cintanya kami dengan lukisan, aku dan mama lebih memilih makan nasi dan tempe goreng selama sebulan untuk menghemat demi membeli sebuah lukisan yang kami incar. Tapi itu dulu, sewaktu mama masih menjadi pengajar di sebuah unversitas terkemuka di negeri ini. Sekarang mama sudah naik jabatan, bukan lagi sekedar pengajar, namun sudah menjadi salah satu politisi wanita terkemuka diantara deretan-deretan nama politisi terkenal di negeri ini.

            Waktu berlalu. Lama sekali rasanya menunggu di sini. Seharusnya pesawat mama telah tiba sejak tadi, namun belum ada kulihat wajah mama muncul diantara orang-orang yang berdatangan dari Eropa itu. Hmm..mungkin pesawatnya agak terlambat. Kuputuskan untuk menunggu di kafe bandara. Memesan segelas cappuchino dan burger tuna favoritku.

            Kuhirup aroma cappuchino dan kumanjakan lidahku dengannya. Minuman ini mengingatkanku pada lukisan yang pernah dibuat papa di acara perayaan ulang tahunku yang ke 21. Sewaktu itu papa memberikan kado berupa lukisan secangkir cappuchino plus secangkir cappuchino racikannya. Aku suka sekali dengan cappuchino dan papa tahu betul itu. Papa juga tahu takaran-takaran yang pas untuk cappuchino favoritku. Aku suka cappuchino yang pekat seperti espresso, beraroma kuat seperti kopi tubruk, namun tetap lembut seperti karakter cappuchino pada umumnya. Seperti itu pula aku mendefinisikan citra diriku. Sebagai seorang wanita usia dewasa awal yang berwawasan luas seperti pekatnya espresso, punya ketenaran layaknya aroma kuat dari seduhan kopi tubruk, namun elegan seperti wanita-wanita berpendidikan pada umumnya. Aku menyontek citra diri itu dari mama. Kata orang-orang, aku dan mama sangat mirip. Mulai dari wajah, hingga karakter. Namun ada satu hal yang membedakanku dari mama, yaitu aku sangat mencintai papa, sedangkan mama? Mama tidak mencintai papa seperti besarnya cintaku pada papa.

            Ah..aku tak mengerti mengapa papa mau menikah dengan mama? Seseorang yang jelas-jelas tidak mencintainya. Apa papa sudah dapat menduga bahwa mama akan melahirkanku, seorang yang akan terus mencintainya? Entahlah.. kadangkala teka-teki Tuhan begitu menakjubkan. Yang kutahu, hanya satu hal yang menyatukan kami bertiga sebagai keluarga, apalagi kalau bukan lukisan? Ya!.. Lukisan.

            Aku tak tahu sejak kapan tepatnya aku suka dengan lukisan dan berbakat untuk melukis. Mungkin bakatku ini benar-benar diturunkan sempurna oleh kedua orangtuaku kepadaku. Bagaimana tidak? Aku lebih peka soal warna, soal karakter, dan gerakan usapan kuas ketika melukis. Aku ibarat gabungan karakter dari papaku si pelukis perfeksionis dan mamaku si pelukis naturalis ekspresionis. Maka jadilah aku pelukis ekspresionis yang perfeksionis. Sebuah karakter yang tidak semua pelukis mmampu menjadi seperti itu. Kedengarannya terkesan sombong. Namun kenyataannya memang demikian adanya,

            Satu tegukan lagi cappuchino di cangkirku akan segera habis. Sementara burger tuna yang kupesan, belum kusentuh sama sekali. Burger tuna ini adalah hal lain yang membuatku berbeda dengan mama. Aku sangat menyukai burger tuna seperti aku mencintai papa dan mencintai lukisan. Dan tentu saja kebalikan dari mama, mama tidak pernah menyukai burger tuna karena sebuah alasan konyol yang menurutku sangat tidak masuk akal. Mama tidak menyukai burger tuna karena itu adalah makanan favorit papa!.. Membenci makanan enak yang sangat disukai oleh orang yang kita benci, bukankah itu hal yang tidak masuk akal? Tapi itulah mamaku, aneh dengan segala ketidakrasionalannya terhadap papaku.

            Kuhabiskan tegukan terakhir cappuchinoku. Nikmat sekali rasanya tegukan terakhir itu, senikmat tegukan pertama. Tidak semua orang akan bertahan mencicipi hingga tegukan terakhir. Menurutku sama seperti cinta. Tidak semua orang mau dan sanggup menikmati dinamikanya hingga tegukan terakhir.

            Kuamati pintu kafe yang terbuka, tampak seorang wanita menenteng lukisan terbungkus. Entah lukisan apa, tapi aku yakin itu adalah sebuah lukisan. Kulihat wanita itu merobek kertas pembungkus lukisannya. Ah, aku tak bisa mengintip lukisan apa itu sebenarnya. Tapi rasa penasaranku begitu kuat. Ingin kudekati wanita paruh baya itu lalu berbasa-basi untuk akhirnya minta ijin ikut melihat lukisa yang ada di tangannya. Ragu menjalari sekujur tubuhku. Tumben sekali ada rasa seperti ini. Biasanya aku akan dengan PD-nya berbicara dengan orang yang tidak kukenal.

            Wajah wanita itu tampak serius memandangi lukisan yang dipegangnya. Aku semakin penasaran. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan getaran hp di tasku.

“Vin, kamu dimana, Nak? Pesawat mama baru aja mendarat nih. Ini lagi ngantri ngambil barang bagasi”, Mama menghamburkan kata-kata,

“Iya Ma, aku dah nunggu dari tadi. Aku lagi di kafe bandara, entar aku langsung kesitu jemput mama setelah makananku habis ya Ma”

“Oke sayang…jangan lama yaa”

Mama pun menutup teleponnya. Aku harus segera menjemput mama, tapi aku juga penasaran dengan lukisan yang dipegang wanita yang duduk di meja pojok itu, ditambah lagi, aku belum menghabiskan burger tuna favoritku. Tidak mungkin aku membiarkan burger tuna ini sia-sia tak kumakan, sebab itu sama saja dengan mengabaikan papaku. Dan aku tidak sama seperti mama yang bisa mengabaikan papa dengan mudah.

Kuputuskan membawa burgerku menuju meja wanita itu. Dengan mantap kulangkahkan kaki. Entah apa yang begitu mendorongku untuk mengetahui lukisan apa yang ada di tangan wanita itu.

“Hai!.. Selamat sore!.. Saya Vina, boleh saya gabung duduk di sini Mbak?”

Wanita itu agak terkejut, dan menjawab terbata-bata.

“Eeehh….bo..boleh kok. Silakan”, ujarnya dengan senyum yang agak dipaksakan.

“Dari tadi saya sebenarnya penasaran dengan lukisan yang mbak bawa. Oh ya maaf sebelumnya, saya bicara dengan mbak siapa ya?”, aku berusaha ramah

“Saya Melanie”, katanya seraya menjulurkan tangan berkenalan

“Vina”

“Mbak Vina ini suka lukisan juga?”, tanyanya

“Iya, saya suka lukisan dan saya juga suka melukis. By the way, itu lukisan apa ya yang Mbak Melanie pegang?”

“Oh ini lukisan beli di temen. Katanya ini lukisan seorang wanita yang diselingkuhi terang-terangan oleh suaminya”

“Diselingkuhi terang-terangan? Maksudnya?”

“Iya, lukisan ini dibuat oleh seorang istri yang diam-diam memergoki suaminya berselingkuh. Konon kabarnya, si istri melukis lukisan ini dari balik jendela tempatnya ngintip. Hahaaa..ada-ada aja sih, tapi unik juga. Apalagi menurut cerita temen saya, gara-gara lukisan ini si istri jadi benci banget sama suaminya, tapi tetep nggak cerai soalnya demi menjaga masa depan anaknya”

“Emang kenapa sampai sebegitu bencinya si istri?”, aku penasaran dan berusaha melongo-longo ke arah lukisan.

“Ssst..jangan berisik ya.. Lukisan ini menggambarkan suami yang sedang bermesraan dengan pasangan selingkuhannya..dan mereka itu homo!…”

“Haaa???? Hahhaha ironis banget ya mbak?”, aku tergelak mendengarnya.

Mencoba membayangkan bagaimana kuatnya sang istri membuat lukisan itu dan mengetahui fakta bahwa suaminya adalah seorang homo? Aku dan Melanie hanya bisa terbahak-bahak.

“Boleh saya lihat lukisannya Mbak?”

“Mbak Vina yakin mau lihat?”, Melanie bertanya berusaha menyakinkan

“Iya..bener…saya penasaran banget sih”, aku menjawab seraya tersenyum

“Oke lah..tapi jangan kaget ya, soalnya lukisannya agak saru. Hehehehe. Ini dia”

Melanie menyodorkan lukisan ke tanganku. Aku gugup. Lukisan ini begitu mencengangkan. Aku mencari-cari pojok lukisan, dan menemukan sebuah tanda tangan di sana. Itu tanda tangan mama. Dan salah satu pria dalam lukisan ini adalah papa.

Kepalaku seperti dihujani batu bertubi-tubi. Dada terasa sesak dan tercabik-cabik. Aku berusaha menahan diri untuk tidak menangis di depan Melanie.

“Mbak Vina kenapa?”, tanya Melanie heran.

HPku berdering. Berat sekali rasanya kuucapkan kata halo pada suara di ujung telepon.

“Halo!.. Vina, mama dah nunggu di depan nih. Kamu masih di kafe? Mama kesana aja ya. Klik!”

Mama langsung menutup telepon tanpa sempat aku berucap apa-apa.

Aku bingung. Gelisah. Melanie memandangiku keheranan.

“Mbak, sorry saya buru-buru nih. Kayaknya Mbak Vina suka ya dengan lukisan itu, ambil aja kalo gitu mbak. Saya duluan ya, soalnya jemputan saya dah datang”, Melanie pergi begitu saja.

Dan tidak lama kemudian, tiba-tiba saja mama sudah ada di hadapanku. Mama tertegun melihatku duduk di depan burger tuna yang sama sekali belum kusentuh. Namun yang membuatnya lebih terkejut, lukisan ini. Lukisan yang ada di tanganku.

Aku berjalan keluar kafe bersama mama. Menenteng lukisan ironi dan burger tuna yang sedari tadi masih utuh. Mama hanya diam, tak berusaha menjelaskan apapun tentang papa. Kubiarkan mama jalan duluan. Dan aku berhenti di tong sampah. Membuang burger tuna dan lukisan yang ada di tanganku, rasanya seperti ingin membuang papa juga dari kehidupanku, tapi aku tidak bisa benar-benar membenci dan membuang papa sepenuhnya dari kehidupanku.

Aku berlari kecil menuju mama. Memeluknya dari belakang.

“Ma, aku sayang mama”

Sekarang aku mengerti mama sepenuhnya dengan segala ketidakrasionalannya. Ia.. mamaku.

-*-

Dibaca sebanyak: 325 kali.

The Logic of Marriage and The Power Of Money

Tulisan ini berkaitan dengan tulisan tentang uang yang telah dibahas sebelum-sebelumnya. Mungkin semacam tulisan balasan (atau kelanjutan) untuk tulisan yang berjudul “Romansa Cinta yang Paling Tinggi bagi Ekonom (Gila)”. Di tulisan itu, ada satu kalimat menarik yang sekaligus menjadi inti tulisan, yaitu: “Kemunculan Uang itu Karena pada Hakikatnya Kita Saling Membutuhkan”.
Ya!.. saling membutuhkan uang sebagai alat tukar. Lamat-lamat saya coba mengamati, bisakah uang dianalogikan dengan pernikahan? Saya pikir bisa, sebab keduanya sama-sama berfungsi sebagai alat. Alat untuk lebih mendekatkan kita kepadaNya. Yaa…idealnya seperti itu 🙂

Pernikahan, Cinta dan Sejarah Uang
Barter (cikal bakal munculnya uang) terjadi ketika ada double coincidence of wants. Sama halnya sepeti pernikahan yang terjadi ketika ada double coincidence of wants. Eitss…benarkah? Tentu saja tidak seideal itu. Hal itu hanya terjadi di dunia ceteris paribus, alias jika semua hal dianggap konstan. Pada kenyataannya ada invisible hand (baca: Tuhan) yang turut berperan serta mengatur semuanya. Transaksi perdagangan antara A dan B tidak akan terjadi jika Dia tidak berkehendak mempertemukan keduanya, meskipun keduanya sama-sama (merasa) saling membutuhkan. Dalam bertransaksi, A bisa saja malah bertemu C dan atau D sebab ketika bertransaksi dengan B, tidak ada kesepakatan yang cocok meskipun keduanya sama-sama (merasa) butuh. Sama halnya dengan pernikahan, Dia tidak akan mempertemukan A dan B dalam pernikahan meskipun keduanya sama-sama ingin (wants) dan juga sama-sama (merasa) butuh. Pernikahan hanya terjadi ketika menurut Tuhan, kedua pihak tersebut benar-benar saling membutuhkan, jadi definisi butuh yang digunakan agar terjadi pertemuan adalah definisi butuh menurut Tuhan sebab Tuhan yang paling tahu segala macam yang dibutuhkan manusia. Meskipun logika Tuhan itu tidak dapat benar-benar dipahami manusia. Hehehhee.. Jadi ini ngambil contohnya untuk pernikahan secara umum aja. 🙂
Tiga Motif Orang Menyimpan Uang (dan Menikah/Menjaga Pernikahan)
Itu tadi baru soal pertemuan awal. Untuk yang selanjutnya, kita bahas tentang motif orang menyimpan uang yang ternyata logikanya sama dengan motif orang menikah (menjaga pernikahan). Apakah itu? Menurut J.M.Keynes, ada tiga motif orang menyimpan uang yaitu:

1. Transaction motive
Orang menyimpan uang agar dapat terus melakukan kegiatan transaksi selama hidupnya agar dapat berkembang menjadi lebih baik. Sama halnya dengan pernikahan. Orang menikah juga agar dapat lebih berkembang melalui “transaksi-transaksi” pasca pernikahan. Dalam hal ini yang saya maksud sebagai transaction motive dalam pernikahan yaitu saling terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mendasar, seperti kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman. kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Walaupun kebutuhan-kebutuhan tersebut juga dapat terpenuhi dari hal-hal di luar penikahan, namun dalam hubungan pernikahan lah semuanya (kebutuhan-kebutuhan tersebut) komplit Insya Allah terpenuhi. Hihihiiii… Kata Allan dan Barbara Pease dalam buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps disebutkan bahwa, “seks adalah harga yang dibayarkan wanita untuk pernikahan, dan pernikahan adalah harga yang dibayarkan pria untuk seks”. Hihihihi… apakah benar demikian? Tergantung sudut pandang masing-masing. Menurus saya sih tidak seperti itu. Hehehee.
2. Precautionary motive
Orang menyimpan uang untuk berjaga-jaga bila ada kebutuhan mendesak di masa yang akan datang, intinya untuk menjaga diri dari hal yang tidak terduga. Sama halnya dengan pernikahan yang salah satu fungsinya adalah untuk menjaga diri dari godaan-godaan yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia.
3. Speculative motive
Orang menyimpan uang dengan harapan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar di masa yang akan datang. Sama juga dengan pernikahan yang dilakukan dengan tujuan mengharapkan ridlo dariNya.
Dari ulasan yang dah dibahas di atas, mungkin itu lah alasannya kenapa perempuan pada umumnya (punya citra) suka uang dan lebih tertarik untuk menikah, dibandingkan para laki-laki. Rupanya ada logika yang sama antara uang dan pernikahan. Percaya atau tidak percaya, jaman sekarang tidak sedikit perempuan yang sudah berkelimpahan dan mapan merasa tidak butuh untuk menikah sebab semua kebutuhannya sudah dapat terpenuhi dengan uang. Uang dan pernikahan, keduanya sama-sama alat, jika dipergunakan dengan baik, yaa..sesuai fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan hidup, untuk terus bergerak ke titik equilibrium..menuju kesempurnaan.
NB:
Tulisan ini dibuat dengan penyederhanaan. Uang jelas berbeda dengan pernikahan. Tulisan di atas hanya berusaha menunjukkan latar belakang keduanya (uang maupun pernikahan).
Tulisan ini dibuat gara-gara teringat waktu “nguping” pa’dhe saya yang ngasih nasihat pernikahan ke sepupu. Sebuah catatan yang pada akhirnya membuat saya semakin takjub dengan agama yang saya anut.
Makassar, Ahad, 22 Mei 2011, 3.26 AM.

Dibaca sebanyak: 544 kali.

Bersyukur itu Bukan Hanya Mengucapkan Alhamdulillah

Bersyukur itu bukan hanya mengucapkan alhamdulillah saja…
Menurut tulisan Dr.M.Quraish Shihab, bersyukur itu ada 3, yaitu:
1. bersyukur dengan hati
2. bersyukur dengan lisan
3. bersyukur dengan perbuatan.

Kalau kita cermati, memang sama dengan konsep iman (beriman) kan ya?

Seseorang dikatakan beriman jika ia meyakini dalam hati, melisankannya, dan menunjukkannya dengan perbuatan.

Tiga pilar utama untuk mendapatkan pengakuan bahwa seseorang benar-benar beriman, ternyata berat.

Beriman itu berarti melaksanakan segala perintahNYA dan menjauhi segala laranganNYA.
PerintahNYA ada banyak.. diantaranya yaitu sabar, syukur, ikhlas, dan berbagai akhlaqul karimah lainnya.

Kita ambil dua contoh aja.. sabar dan syukur.. sebab dua itu pasti selalu terkait dengan kehidupan kita sehari-hari.
Seseorang yang beriman, akan bersabar dan bersyukur tidak hanya sekedar ucapan, tapi juga diyakini dalam hati dan ada pengejawantahan nilainya dalam perbuatan.

Masya Allah…

Bahkan untuk beryukur pun kita harus meminta pertolongan Allah..

Jangan-jangan selama ini kita belum beryukur dengan sempurna?

Benar kata Ustadz Rosidi.. “surga itu mahal”..

Allah…mampukah saya menggapai surgaMU?

Pragmatism!.. harusnya bukan itu pertanyaannya dyah!..
Harusnya nanyanya “mampukah saya menggapai ridloMU?”

Ridlo Allah SWT itu.. subhanallah.. saya nggak bisa membayangkan seperti apa.

Jauh banget bahas ridlo..
Harusnya pertanyaan utamanya…

“sudahkah saya beriman dengan benar?”

T_T

Allah…aku ingin kembali kepadaMU dalam keadaan suci seperti ketika Engkau menurunkanku ke bumi…

Mampukah saya menggapai keadaan itu?

Keadaan suci.. bersih.. tanpa dosa..

Perjalanan menujuMU berat banget ya Allah.. hamba cuma bisa memohon untuk dikuatkan dalam perjalanan panjang ini…

Perjalanan mengenalMU..

HIngga akhir hayat…

T_T jadi sedih nulis ini…

Ternyata manusia itu tidak punya pilihan lain selain berbuat baik…jika memang ingin kembali kepada Rabbnya.

Jadi ingat waktu Dilla curhat dan nangis waktu dia bilang
“Jangan-jangan selama ini kita belum beriman? Jangan-jangan kita adalah orang-orang yang berada di garis batas antara orang beriman dan tidak beriman?”

Entahlah…

Tapi saya yakin…

Secara fitrawi..setiap manusia rindu kepada penciptanya.. dan setiap langkah dalam hidup manusia semua bergerak menuju padaNYA.. Yang Maha Sempurna..

Sungguh…surga itu mahal..

Dibaca sebanyak: 419 kali.

Keywords

  • mengucapkan alhamdulillah paling sempurnah
  • mengucapkan alhamdulillah tapi hati tidak alhamdulillah

How to Get Your Woman ala Alhe

Sore tadi, saya, Arifah, Aswar, Kak Alhe, Andry dan Adry berbncang-bincang di gazebo. Segala macam topik kami bahas, mulai dari TOEFL, politik, persoalan bola, materialitas, audit, lagaligo, sawerigading, sampai ke persoalan lamar melamar. Hahhaa… nyampur-nyampur deh topiknya!.. 😀

Hingga sampai di suatu topik tentang teori menaklukkan wanita menurut analisis Kak Alhe. Hahhaa.. serius.. dudulzzz banget… 😀 mau tau? Ini dia

1. Teori Bulan Purnama

Di teori ini, konon laki-laki akan menampilkan dirinya ibarat bulan purnama. Kayak gimana tuh? Ya terang sendiri dibandingkan yang lain. Jadi dalam suatu komunitas, laki-laki tersebut akan berusaha menjadi yang paling “bersinar diantara laki-laki lain yang ada dalam komunitas itu untuk mendapatkan  perhatian dari wanita idamannya.

2. Teori Snipper

Di teori ini, laki-laki sudah mengincar si wanita sejak awal dan diam-diam selalu mengawasinya dari jauh. Kalo di teori bulan purnama si laki-laki berusana menjadikan dirinya fokus, teori snipper ini kebalikannya sebab di teori ini si laki-laki lah yang memfokuskan perhatiannya apda si perempuan incarannya. Diam-diam dan di saat yang tepat akan menembak dan tentu saja tepat sasaran. Bisa diibaratkan para snipper ini biasanya orang yang cenderung pendiam tapi penagmat yang baik juga. Ibarat kata, belom kenal baik. langsung nembak ngajak nikah, tapi yang cewek juga mau (tepat sasaran soalnya yang cowok juga tahu betul gimana karakter si cewek.

3. Teori Pukat Harimau

Teori ini berlaku untuk laki-laki yang memilih siapa aja deh, semua dicaplok, segala macam usia dan karakter. Ibarat pukat harimau kan? Hehehhehe 😀

4. Teori Snowball

Teori ini menggambarkan laki-laki yang mulai pendekatan setahap demi setahap pada si wanita. Mulai dari teman dekatnya, hingga lama-lama makin banyak informasi yang dimiliki tentang si wanita.

5. Teori truk sampah

Teori ini kata Kak ALhe, digunakan untuk menggambarkan pria-pria yang mendapatkan wanita “sisa”, soalnya yang bagus-bagus dan high quality dah habis stoknya. emangnya barang?!…

hahaha….gitu ajaa.. ini buat lucu-lucuan aja… tp emang teorinya kak alhe itu lucu-lucu… 😀

Dibaca sebanyak: 283 kali.

Catatan Perjalanan 34 Jam

Tana Toraja.

Saat pertama kali akan kesana, tidak sedikit cerita seram dari teman-teman membayangi kepala. Mulai dari jalannya yang katanya menyebalkan dan bikin muntah-muntah, sampai berbagai cerita mistis tentang tempat itu.

Tapi Alhamdulillah..saya justru mendapatkan pengalaman yang menyenangkan selama di sana.

Saya dan teman-teman menemani Mbak Dee (salah satu pengurus FLP Pusat) ke Tana Toraja.

Kami berangkat 8 orang (kami bertujuh ditambah bang supir).

Kami mulai start dari Makassar jam 22.30, dan tiba di Makale jam 6 pagi.

Pemandangan yang indah dan udara yang menyejukkan menjadi suguhan awal kami tiba di sana.

Saat mencari masjid untuk shalat subuh, susah sekali. Akhirnya kami menemukan Masjid Nurul Jihad, yang ternyata tidak jauh dari rumah Kak Uleng (salah seorang kawan saya).

Udaranya memang dingin, tapi tidak sedingin di Malino atau di Gunung Kidul.

Banyak yang bilang saat perjalanan ke Toraja, yang tidak terbiasa perjalanan jauh pasti pusing dan muntah-muntah. Tapi alhamdulillah kami tidak mengalami itu. Meskipun memang jalannya jelek, tapi supirnya jago nyetirnya.. hehehhee…

Seusai shalat subuh, kami langsung jalan menuju Rantepao, hendak mencari sarapan, meksipun memang sihhhh masih kepagian. Hehhehehe..

Selama di perjalanan, melihat alam Toraja mengingatkan saya pada Gunung Kidul. Meskipun udara GUnung Kidul masih lebih dingin. Tapi pemandangannya mirip, bahkan bisa dibilang sama. Karena itu saya tidak begitu takjub ketika tiba di Toraja, sebab pemandangan indah semacam itu bukan pertama kalinya hadir di depan mata saya (wuuiihh…sombong amat!.. ehhehe…nggak lah.. cuman sharing aja kok ;))

Kami sarapan pagi di warung sop sodara yang ada di Rantepao. Ada beberapa hal yang agak membuat risih, ketika harus pinjem tolietnya, pas masuk dan liat airnya, waduuuhhh kok warnanya gitu. Pas tanya temen, dia tetep pake airnya, katanya sih air gunung ya kayak gitu.

Lalu pas mau bayar biaya menu yang kami pesan. Wow.. mahal juga. Sop sodara yang biasanya di Makassar dah dapet yang mengenyangkan dengan harga maksimal 15ribu saja, di situ kami harus membayar 25ribu per porsinya. Hahaahaaa..yang lain juga pada shock. 😀

Setelah itu kami mengunjungi Batu Tumonga, Kete Kesu, Londa, dan Lemo. Di hari selasanya kami menemani Mbak Dee mengunjungi Bantimurung dan Leang-leang.

Perjalanan 34 jam yang melelahkan, menyenangkan. 🙂

Dibaca sebanyak: 307 kali.

Peran Pa’gandeng (Tukang Sayur) dalam Penciptaan Titik Equilibrium

Sayur!.. Sayur!.. Sayur!.. Tiap pagi suara tukang sayur keliling selalu menghiasi hari yang baru dimulai. Biasanya mereka berkeliling dari kompleks perumahan yang satu ke kompleks perumahan lainnya. Di Makassar, mereka biasa disebut dengan istilah Pa’gandeng (bacanya ‘e’ nya seperti saat baca ‘e’ pada kata ‘dendeng’). Para pa’gandeng ini tidak berasal dari Kota Makassar lhoh!.. Mereka berasal dari wilayah-wilayah kabupaten yang ada mengelilingi Makassar, biasanya dari Kabupaten Maros, Gowa, atau bahkan Takalar. Jaraknya tidak tanggung-tanggung yang mereka tempuh tiap harinya. Total jarak pulang pergi bisa mencapai 100 KM!… Terbayangkah bersepeda sejauh itu? Bagi yang belum terbiasa, harap tidak usah mencobanya, soalnya di tengah jalan nggak ada tukang tambal betis 😛
Ya…meskipun banyak juga yang sudah memakai motor, tapi sebagian besar pa’gandeng yang ada di Makassar masih menggunakan sepeda ketika berkeliling menjajakan sayur dagangannya. Dan kedatangan mereka selalu disambut ramai oleh ibu-ibu. Bahkan tidak jarang jadi tempat gossip. Makanya jangan heran kalau pa’gandeng adalah sumber informasi yang baik. Hihihiii..ngasal deh kalo yang ini!… 😀
Btw soal belanja, tahu kan hobinya cewek kalo berbelanja? Apalagi kalau bukan nawar!… 😀
Ya!.. Keriuhan tawar menawar antara pa’gandeng dengan ibu-ibu yang membeli sayurannya selalu menjadi cerita lucu tersendiri. Beda 100rupiah pun seringkali si ibu-ibu nggak mau ngalah dari pa’gandeng. Eitsss..jangan salah.. itu bukan cuma soal hemat-menghemat anggaran, tapi juga menyangkut psikologis dan bisa ditinjau dari sudut pandang ilmu ekonomi juga lho!… 😀

Pa’gandeng dan Titik Equilibrium
Proses tawar menawar antara pa’gandeng dengan pembelinya itu merupakan salah satu contoh proses terjadinya titik pertemuan antara supply dan demand sehingga membentuk titik equilibrium ketika harga telah disepakati.
Perilaku Konsumen yang Tidak Rasional
Kita semua sepakat kan bahwa pa’gandeng (tukang sayur) adalah pedagang kecil. Bila dibandingkan dengan sayuran di supermarket jelas berbeda. Harga sayuran yang dijual oleh pa’gandeng dengan yang dijual di supermarket, benar-benar kompetitif. Masing-masing punya keunggulan tersendiri. Seringkali malah harga sayuran yang dijual pa’gandeng lebih mahal daripada harga sayuran di supermarket, meskipun bagi sebagian orang tidak material (hihihii..minjem istilah akuntansi :D).
Pa’gandeng memulai usahanya di dini hari ketika orang-orang masih terlelap. Dan mulai mengayuh sepedanya seusai shalat subuh. Datang ke satu kompleks ke kompleks berikutnya, seharian menjajakan sayuran yang harus dilariskan hari itu juga, sebab sayuran bukan produk yang tahan lama.
Satu hal menarik yang membuat saya tergelitik, yaitu ketika ada pelanggan pa’gandeng yang nawarnya sadis. Padahal secara finansial sangat berlebih. Huehehehe.. Nah..untuk yang dah tahu konsep ekonomi, menurut saya kalau mau nawar beli sayur di pa’gandeng ya nawar sewajarnya aja. Malah seharusnya nggak usah nawar lhoh!… :p itung-itung bagi rejeki gitu… Hhaaahaa..
Lhoh? Kenapa? Kok malah nawarin nggak usah nawar? 🙂 iya..soalnya kalau belanja di supermarket aja kita bisa, ngapain nawar saat belanja di pa’gandeng? Kalau ke supermarket, kita harus keluar tenaga menuju ke supermarketnya, apalagi kalau masih pagi-pagi banget pasti belom buka. Bandingkan dengan pa’gandeng yang memudahkan kita membeli sayur dari depan pagar rumah kita sendiri. Kita nggak perlu repot, nggak keluar tenaga. Yang capek cuma pa’gandengnya. Ditambah lagi kita pesan ke pa’gandengnya untuk membawakan sayur tertentu di keesokan harinya. Nah.. karena semua alasan itu, bisa kan kita sedikit menghargai usaha para pa’gandeng? 😉 Caranya? Ya itu tadi.. kalo nawar nggak usah sadis-sadis. Wkwkwkkwk…
:p
Melalui jasa pa’gandeng, satu titik keseimbangan terjadi setiap harinya. 😉 Dunia itu harus balance seperti neraca dalam akuntansi. Dan keseimbangan makrocosmos hanya dapat terjadi ketika terjadi keseimbangan di mikrocosmos lebih dulu (waduh apa nih artinya? Artinya kalo belanja di pa’gandeng ataupun pdagang kecil lainnya nggak usah nawar sadis-sadis kalo emang mampu dompetnya). ^_^ 😀

Dibaca sebanyak: 564 kali.

Kapital di Setiap Petak Bumi yang Kita Pijak

Sering mendengar istilah kapital? Kapitalisme? Istilah yang selalu dikonotasikan negatif, padahal setiap kata hanya simbol semantik tanpa nilai.Yang memberi nilai kemudian adalah si pemilik persepsi yang mencermati “kata” tersebut.
Setuju nggak?
Oh iya, back to capital. Selama ini orang-orang selalu mendefinisikan capital itu berarti modal.. Dan senantiasa terkait dengan yang namanya uang. Tapi apa benar seperti itu? Apa kapital itu hanya uang semata?
Menurut Hernando de Soto dalam bukunya”The Mystery of Capital”, dalam bahasa Latin abad pertengahan, kata “kapital” (capital) diartikan sebagai seekor sapi atau hewan ternak lainnya, yang merupakan sumber kekayaan penting disamping daging yang mereka sediakan. Contoh misalnya: kambing yang bisa dimanfaatkan dagingnya, bulunya, susunya, dan juga tanduknya. Sapi juga demikian. Lebih jauh lagi, susu yang dihasilkan juga dapat diolah menjadi yoghurt, keju, dan produk-produk olahan lainnya.
Dengan demikian istilah kapital berawal dari melakukan dua pekerjaan secara bersamaan, menangkap dimensi fisik aset-aset (dalam hal ini contohnya hewan ternak) sebagaimana potensi mereka untuk menghasilkan nilai tambah.
Sehingga bila dikaitkan dengan negara, para ekonom umumnya mendefinisikan “kapital” sebagai bagian dari aset-aset sebuah negara yang mengawali surplus produksi dan meningkatkan produktivitas.
Tulisan De Soto dalam bukunya (The Mystery of Capital) tersebut sebenarnya membahas tentang kontroversi kepemilikan lahan. Lahan-lahan kosong menurut De Soto seharusnya segera dikapitalisasi oleh pemerintah terkait agar lahan tersebut bisa lebih produktif dan memberi kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian suatu negara.
Terkait tentang produktivitas, De Soto percaya bahwa Adam Smith dan Karl Max meyakini bahwa kapital adalah mesin yang menggerakkan ekonomi pasar.
Bagi Smith, spesialisasi adalah sumber dari produktivitas dan kekayaan bangsa-bangsa. Smith percaya bahwa fenomena kapital adalah konsekuensi dari kemajuan alamiah manusia dari sebuah masyarakat berburu dan meramu, pedesaan serta pertanian, menuju masyarakat perdagangan. Atau secara sederhana, fenomena kapital adalah keniscayaan dari perkembangan masyarakat dari tradisional menuju masyarakat modern.
Smith menekankan satu hal yang merupakan inti dari misteri kapital: agar aset yang dikumpulkan bisa menjadi kapital aktif dan faktor produksi di dalamnya bisa bekerja, maka ia harus ditentukan dan diwujudkan ke dalam bentuk subjek tertentu “yang berlangsung beberapa waktu, paling tidak setelah itu tenaga buruh tidak diperlukan lagi. Persediaan tenaga buruh dalam jumlah tertentu diperlukan agar bisa dipergunakan di kesempatan lain”. Smith mengingatkan bahwa tenaga buruh yang diinvestasikan dalam menghasilkan aset tidak akan lagi mampu menciptakan nilai apabila tidak ditentukan dengan persis.
De Soto memaknai kapital yang dimaksudkan Smith bukanlah akumulasi aset itu sendiri, melainkan potensi yang ia miliki untuk menciptakan kegiatan produksi yang baru. Potensi ini bersifat abstrak dan harus diolah menjadi bentuk nyata sebelum kita dapat melepasnya. Dalam hal ini, Soto mengibaratkan kapital seperti potensi energi nuklir dalam batu bata Einstein. Menciptakan kapital juga memerlukan proses konversi semacam itu.
Dalam sejarah, kapital telah kehilangan makna intinya..
Setujukah Anda???
NB: tulisan ini sebenarnya sudah pernah saya posting di note fb. Namun ditambah sedikit penambahan-penambahan. Btw juga diposting di www.ekonomgila.org

Dibaca sebanyak: 410 kali.

Membedah Film Tanda Tanya dari Kacamata Dyah

Penasaran sama film Tanda Tanya setelah dengar cerita adik saya yang sudah duluan menontonnya. Karena penasaran dengan film yang kabarnya pro kontra itu, pekan lalu saya nonton sama Anet. Slaha seorang kawan beda agama. Saya mau tahu juga bagaimana pendapatnya tentang film itu soalnya kata adik saya yang dah nonton, film itu berbicara tentang berbagai agama.

Okelah..saya pun menontonnya.

Telat 5 menit, tapi adegan awal di mana ada berita tentang seorang pastur yang dibunuh, memang tidak begitu penting. Maksud saya, tidak mempengaruhi citra film secara keseluruhan.

Film Tanda Tanya karya Hanung Bramantyo ini menurut saya, wajar jika mendapat larangan dari MUI maupun NU, sebab ada beberapa hal yang memang bisa membuat persepsi orang jadi berubah.

Seharusnya film ini dilarang tayang seperti film C(i)nta. Tapi saya nggak tahu kenaoa film ini tetap tayang.

Beberapa hal yang saya soroti dari Film Tanda Tanya:
1. Tokoh utama yang bernama Soleh, di akhir cerita ketika menemukan bom di gereja yang dijaganya, kenapa dia nggak membuang bom itu? Kenapa dia malah memeluknya? Untuk alasan demi kemanusiaan? Berjihad kah seperti itu? Menurut saya itu bukan jihad. Jihad itu kalau si Soleh mengorbankan dirinya untuk membela agamanya, Islam. Tokoh Soleh juga terkesan bodoh. Seharusnya kan dia langsung melempar bom itu, bukannya malah memeluknya. Lagipula, ada hal yang aneh juga di film itu, mungkin kesalahan yang dianggap tidak fatal, tapi menurut saya itu fatal untuk kategori film yang layak tayang di bioskop. Apa kesalahannya? Yaitu properti bom yang digunakan, disitu jelas-jelas ada timernya tapi timernya nggak nyala. jadi secara logika. mana mungkin bom-nya meledak sesuai perkiraan waktu yang dipikirkan si Soleh?

2. Tokoh Mennuk (Istri Soleh). Diperankan Oleh Revalina S. Temat. Kejanggalan untuk tokoh ini menurut saya, yaitu dia selalu mengucapkan “Assalamu’alaikum” pada orang-orang di non muslim. Padahal kan itu nggak boleh. kalau mau ngucapin salam ke non muslim, yang diucapkan berbeda dengan salam yang ditujukan untuk muslim. Untuk orang-orang yang nggak mencerna film ini baik-baik dan nggak tahu hukum dalam mengucapkan salam, bisa-bisa malah ikut-ikutan seperti si Mennuk.

3. Tokoh Surya. Seorang pria yang terobsesi banget untuk jadi artis. Bertahun-tahun menjadi peran pembantu di sinetron-sinetron. Ketika ditawari main drama di gereja untuk memerankan yesus, dia bingung. gundah. Setelah menjalani, merasa bersalah. Eh..tapi pas ditawari lagi untuk drama paskah, dia mau lagi. Jadi apa arti penyesalannya yang kemaren?

4. Restoran cina tempat Mennuk bekerja. Disitu menjual makanan halal dan haram. Peralatan untuk memasak terlihat dibedakan tapi masih tetap satu dapur. Ada satu ketentuan dalam Islam yang tampaknya belum dipahami betul oleh Hanung Bramantyo, yaitu yang halal dan yang haram itu nggak boleh disatukan. Itu jelas hukumnya. Entah Hanung Bramantyo yang sengaja ingin menentang ketentuan tersebut atau bagaimana? Wallahu’alam.

5. Tokoh Rika yang murtad karena tidak bisa menerima suaminya yang ingin berpoligami. What the hell?!.. Hal ini bisa benar-benar meracuni pikiran penonton yang menelan mentah-mentah pesan tersebut tanpa mencernanya. Poligami itu salah satu hukum dari Allah SWT yang tidak boleh kita ingkari keberadaannya (hukum itu). Tapi tiap wanita berhak memilih setuju dipoligami atau tidak. Sama juga kayak adanya rukun iman yang harus kita terima keberadaanya. Bedanya..kalo rukun iman tidak dijalankan, ya kita tidak beriman, kita rugi. Tapi kalo poligami tidak kita jalankan, nggak ada dosa dan nggak ada pahala juga (intinya balance).

Saya nggak tahu pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Hanung dalam Film Tanda Tanya ini. Pesan saling toleransi? Oke bolehlah kalo memang mau itu pesannya.. tapiiiiiiiiiiii untuk menunjukkan pesan toleransi antar umat beragama, tidak semestinya Hanung mendeskripsikan pesan yang “keliru” tentang salah satu agama. Pantas saja film ini dikecam oleh MUI.

Tapi memang, film-filmnya Hanung Bramantyo, menurut saya, tidak menggambarkan Islam yang secara tepat. Wow!.. Dyah!.. Who you are?!.. Emang pemahamanmu tentang Islam sudah banyak? Memang belum.. Tapi dalam pahaman umum yang saya ketahui dan pelajari tentang Islam, film-film Hanung tidak menggambarkannya secara benar.

Contoh:

-Film Ayat-ayat Cinta, ketika Aisyah mengembalikan tasbih milik Fahri, tak sengaja tangan Aisyah bersentuhan dengan tangan Fahri. Seharusnya itu tidak terjadi, apalagi tokoh Aisyah digambarkan sebagai tokoh yang paham betul tentang agama Islam. Tentu dalam menggambarkan tokoh Aisyah, adalah tokoh yang sangat menjaga diri agar tidak terjadi sentuhan dengan lawan jenis.

Lalu tokoh Fahri di Film Ayat-ayat Cinta yang selalu berduaan dengan Maria ketika mengerjakan terjemahan (berduaan tanpa ada yang mendampingi). Bukankah itu sesuatu hal yang aneh? Sebab tokoh Fahri digambarkan tokoh yang juga paham agama. Jadi agamanya dikemanakan ketika itu?

Dan masih banyak contoh-contoh lain yang akan terlalu panjang bila diulas disini.

Oke.. finally.. saya tahu bikin film itu tidak mudah dan butuh proses yang juga tidak singkat. Saya memahami itu.

Saya menghargai kerja keras sineas seperti Hanung Bramantyo yang selalu berkarya. Tapi… saya berharap suatu saat bisa menemukan film Hanung yang benar-benar mencerahkan dan benar-benar menunjukkan konsep Islam yang sebenarnya, bukan konsep Islam gaul. Bagaimanapun juga film salah satu unsur pembentuk budaya pop. Hanung perlu riset yang lebih banyak lagi sebelum membuat sebuah film.

Okey..thanks.. Gitu aja.. Pasti banyak yang protes nih baca tulisan ini. hahhaa.. nggak masalah. Berbeda itu hal yang biasa. ^_^

Makassar, 8 Mei 2011, 22.27 WITA

Dibaca sebanyak: 23687 kali.

Keywords

  • kejanggalan film tanda tanya
  • reviw film tanda tanya dalam persepsi hukum