Monthly Archives: June 2011

Tahun Keempat

Ini tahun keempat. Hari dimana terakhir kali kita bertemu di taman itu. Taman tempat kita bercanda tawa dan berfoto bersama rusa-rusa lucu yg tak pernah bosan kau kunjungi.

Ini musim hujan keempat yang telah kita lalui. Hari itu ketika kita harus berpisah dan membunuh anak kita yang bahkan belum berwujud adanya.

Masihkah kau mengingat smuanya? Hari terakhir kita berjumpa, berbicara panjang lebar, tertawa-tawa, dan akhirnya diwarnai sesenggukan tangis.

Tepat hari itu..
Kita berpisah dan melepaskan cincin yang telah menghiasi jari kita 730 hari lamanya.

Hari ini kita bertemu lagi di taman ini.. Membawa segenggam rindu yang kusembunyikan.
Segenggam rindu yang kubiarkan jatuh berhamburan ke tanah dan berterbangan di udara.. Ketika kau menemuiku sambil membawa malaikat mungil yang kau sebut anakmu..

Dibaca sebanyak: 1277 kali.

Medkom dan Saya: Sebuah Kado Catatan untuk Medkom

Hari ini Media Ekonomi (salah satu buletin yang ada di FE UNHAS) genap berusia 6 tahun. Jika dihitung sejak saya masuk di UNHAS, berarti Medkom ada 1 tahun sebelum saya resmi menjadi mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi UNHAS (lengkap amat!.. hahaa).

Ya!.. Dan saya pertama kali berkenalan dengan Medkom di acara pelatihan jurnalistik yang diadakan pada tahun 2007. Januari 2007 tepatnya. Ketika musim libur mulai tiba dan kawan-kawan saya yang sebagian besar tinggal di daerah pada pulang kampung. Sementara saya? Ya tetap di Makassar, sok sibuk ikut ini itu untuk mengisi liburan. Padahal aslinya karena ogah di rumah sendiri!.. hahahaa..

Ketika itu, hanya beberapa orang saja yang seangkatan saya yang juga ikut diklat itu. Diantaranya Erwin, Pipi’, Ayu, dan sepertinya ada juga Arifah dan Uzob.

Yang jelasnya itu merupakan diklat jurnalistik pertama yang saya ikuti. Dan di tempat itu pula saya pertama kali bertemu dengan Kak Yanuardi Syukur. Seorang penulis yang terkenal dengan tulisan-tulisannya yang penuh hikmah. Ketika itu Kak Yanuardi mengadakan semacam kuis atau games ya? Saya lupa-lupa ingat. Yang jelasnya yang menang kuis atau games, bisa mendapatkan hadiah buku dari Kak Yan. Menarik!.. Dan saya cukup kecewa waktu itu tidak memenangkan buku itu.. hahahaha… Dasar!.. Tapi ketika itu sempat terlintas hal ini di pikiran saya “biarin deh nggak dapet bukunya Kak Yan, yang penting bisa sharing ilmu, dan nanti saya akan lebih banyak diskusi sama Kak Yan tentang dunia tulis-menulis”. Padahal setelah itu, saya nggak pernah lagi ketemu Kak Yan dan nggak pernah berdiskusi tentang dunia tulis-menulis. Hahhaa.. ketika itu saya hanya menganggap semuanya mimpi. Hingga suatu hari, saya bertemu kembali dengan Kak Yan di sebuah organisasi bernama Forum Lingkar Pena Wilayah Sulsel, dan tetap berkomunikasi hingga hari ini. Bukan hanya tentang dunia tulis-menulis, sebab diskusi telah meningkat ke dunia penerbitan.

Selain Kak Yan, di diklat itu juga saya pertama kali kenal dengan sebuah komunitas bernama Panyingkul. Sebuah komunitas jurnalisme warga. Awalnya saya nggak ngerti, jurnalisme warga itu apa sih? Tapi setelah mendapatkan materi dari perwakilan yang aktif di Panyingkul ketika itu, saya jadi tahu, o…begini ya rupanya jurnalisme warga. Yang di kemudian hari, saya terlibat di PPWI Sulsel (semacam organisasi sejenis panyingkul). Saya juga jadi tahu siapa-siapa penulis terkenal di Makassar, salah satunya Kak Aan Mansyur -seorang penyair yang karya-karyanya sudah sering dimuat di media nasional-.

Btw diklat jurnalistik yang diketuai oleh Kak Rasdiana Rustam di tahun 2007 itu ternyata menjadi titik awal yang membuat saya semakin suka dengan dunia tulis-menulis (saya dah suka dengan dunia tulis- menulis sejak kecil). berbagai diklat pun saya ikuti. Dimana-mana, bahkan sampai pernah ikut workshop kepenulisan di sastra (FIB) yang pesertanya cuman 10 orang!.. Bayangkan!.. Kami cuma ber-10 dan menerima materi di Aula Mattulada (sebuah aula yang berkapasitas untuk 200 orang). Apa yang membuat saya tetap kukuh ikut diklat itu? Tidak lain karena ada nama Aan Mansyur disana!… Tercantum sebagai salah satu pemateri. Soalnya nama pemateri yang lain waktu itu saya belum kenal. Hahhahaa.. Terus selain itu bersyukur juga bisa ikut workshop di FIB itu, soalnya saya jadi kenal juga bahwa ada penulis bernama Puthut EA. Dan saya suka dengan gaya penulisan Puthut EA. Menarik, ending sering menggantung, tapi tulisannya mencerahkan!.. Hihihii…

Saya masih ingat semuanya. Seakan-akan semuanya baru hari kemarin, padahal Diklat Medkom yang pertama kali saya ikuti itu sudah 4 tahun yang lalu. Wow!.. 4 tahun yang lalu?!… Iya!.. Sejak adik saya masih SMP, dan sekarang adik saya sudah kuliah. Hahaahaa.. lama juga ya. 😀

Saya juga masih ingat pernah menjadi wartawan Medkom walau hanya sekejap. Waktu itu Pipi’ atau Arifah ya yang jadi pimred? hehehe…maaph lupa!.. Yang jelasnya, karena nggak suka dikejar-kejar dateline, akhirnya saya mengundurkan diri dari posisi jurnalis medkom. Hahhaa.. 😀 susah ternyata jadi jurnalis itu!… Nggak gampang!.. Saya selalu salut sama jurnalis yang selalu up to date beritanya dan tajam analisisnya. Maaph, saya penikmat feature news banget. Hehehehee..

Terus.. hal lain tentang Medkom yang ada di benak saya, yaitu buletin!.. Hampir setiap tahun, selalu ada kendala Medkom dalam menerbitkan buletin. Entah dari persoalan PJ, layout, content yang belum lengkap, sampai persoalan klasik (dana). Masalah bersama yang membuat kita semua sama-sama belajar dan tumbuh dewasa. Ya kan? (ayo diiyakan saja!… hihihiihi).

Tapi saya salut sama Medkom!.. Medkom berusaha terus tumbuh meski lambat dan nyaris punah (menurut berita beberapa tahun lalu). Bahkan sampai ada issue, medkom nggak punya regenerasi. Kata siapa? See now!.. Medkom berusaha mengeja makna di usianya yang ke-6.

Selamat milad Medkom!.. Terima kasih pernah menjadi titik katalisator kecintaan saya terhadap dunia tulis-menulis!.. Saya percaya Medkom akan menjadi besar suatu hari nanti!.. Hanya perlu kemauan dan usaha untuk mewujudkannya.

Gud Luck!.. ^_^

Makassar, 15 Juni 2011, 03.24 WITA.

Dibaca sebanyak: 356 kali.

Bertemu Rosiana Silalahi

Sabtu, 11 Juni 2011. Sejak pagi saya dah siap-siap berangkat ke Baruga Andi Pangeran Pettarani UNHAS untuk ikut acara Rossy Goes to Campus. Siapa sih yang nggak mau melihat Rosiana Silalahi secara langsung? Hehehee…sebagai salah seorang yang mengidolakan Mbak Rossy sedari kecil, tentu saja saya harus ikut di acara Rossy Goes to Campus yang diadakan di almamater saya.
Awalnya saya nggak tahu adanya acara ini, untungnya sejak Senin, saya diberitahu kawan saya.
“Haluw!… Kamu mo ikutan acaranya Rossy Goes to Campus nggak? ^_^ kebetulan saya ada tiket gratis :D”
“Rosiana Silalahi? Wah mau mau!.. Hehehehe..kapan acaranya?”
“Acaranya Sabtu atau Minggu. Nanti saya tanyain om saya lagi”
“Loh? Emang tiketnya dari om-mu?”’
“Iya. Abis dapet email dari Om, katanya Mbak Rossy mo ke UNHAS dalam rangka acara Rossy Goes to Campus. Ajak aja yang lain juga, dan kalo bisa konfirmasinya hari ini ya, biar kabarin ke Om saya berapa orang yang butuh tiket”
“Oke oke… Hihihii..tengkyuu yah”

#Hari H

Teman saya bilang janjian datang jam 8. Macet melanda dan saya baru tiba di UNHAS jam 8 lewat 15 menit. Dengan berjalan cepat, saya mencari teman saya diantara kerumunan orang-orang yang nongkrong di Baruga. Pas ketemu, eh teman saya ternyata masih duduk-duduk sama kakak dan adiknya.
Lima belas menit berlalu, sudah banyak orang yang masuk ke Baruga. Sementara kami (saya, teman saya dan saudara-saudaranya) masih duduk-duduk di luar.
“Kita masih nunggu siapa lagi? Nunggu Chapunk ya? Kalau Chapunk sih tidak usah ditunggu, jam segini biasanya belum bangun”, saya membuka topik pembicaraan baru setelah sedari tadi ngobrol beragam topik.
“Iya nunggu Chapunk dan nunggu MC acaranya datang”, jawab teman saya
“Acaranya kayaknya masih lama dimulai, soalnya MC-nya saja belum datang. Hehehhee”, lanjut teman saya.
“Om-mu MC nya ya?”, tanya saya polos
“Hahhaa…bukan tau.. MCnya ya Mbak Rossiana Silalahi lah.”, jawab teman saya seraya tertawa
“Hahhaa..iya ya. Dodol nih.. Hahaha”, saya berceletuk menyadari kebodohan saya.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 9. Dari luar, kami mendengar suara dari dalam Baruga sangat heboh. Wah wah ada gamesnya mungkin, pikir saya. Sementara itu para penonton sudah mulai masuk lewat tangga atas. Itu berarti kursi di lantai bawah sudah penuh. Huhuu..parah nih kalo dapet tempat duduk di lantai atas.. Pasti nggak keliatan jelas acara talkshownya. Palingan cuman liat dari layar doank kalo duduk di lantai atas.

“Eh ya masuk yuk!.. Chapunk tidak usah ditunggu. HPnya saja nggak aktif”, saya menyarankan agar kami segera masuk Baruga.
“Bukan tunggu Chapunk. Kita lagi nunggu tiketnya nih. Hahaha”, jawab teman saya
“Haa? Jadi tiketnya masih di jalan? Coba telp Om mu dah di mana sekarang”’
“Katanya dah di jalan. Kita tunggu saja”’
“Okelah”

Lima menit berlalu. Akhirnya bertemu dengan Om-nya teman saya.
“Halo!.. wah sudah dari tadi ya? Maaf ya lama”, sapa hangat dari Om teman saya sambil menyalami kami satu per satu dan memperkenalkan dirinya.
Saya nggak melihat Om temen saya pegang tiket. Tapi si Om langsung panggil salah satu panitia, memberi kode dan kami pun mengikuti jalan di belakang. Ternyata kami sudah disediakan tempat di dalam. Hehehe..dan dapat di lantai bawah. Wuuahh…senangnya… Tempat duduk kami berada di deretan kedua di atas deretan tempat duduk orang penting (Pak JK, Pak Rektor, dll).

Acara pun berlangsung. Rasanya terharu pas melihat Mbak Rossy secara langsung (lebaydotcom!.. Hahhaa..tapi serius, emang terharu). It’s so unbelievable melihat tokoh yang idola yang biasanya cuman kita lihat di TV, tahu-tahu ada di depan kita.

Acara talkshow Rossy Goes to Campus yang bertema “Makassar untuk Indonesia” tersebut menghadirkan Pak Jusuf Kalla, Pak Erwin Aksa (Ketua HIPMI), Pak Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulsel), dan Pak Ilham Arief Sirajuddin (Walikota Makassar). Acaranya berlangsung santai tapi sarat hikmah. Banyak hal yang dapat kita jadikan pelajaran dari orang-orang besar tersebut. Tentang bagaimana mereka mencapai cita-cita mereka, dan semangat mereka untuk terus do something for Indonesia.

Di tengah-tengah acara, saya sempat ngobrol dengan teman saya.
“Suaminya mbak Rossy sibuk foto juga ya”, kata teman saya
“Yang mana suaminya?”
“Itu tuh.. Loh tadi kan dah lihat?”
“Yang mana?”, tanya saya sambil mencari-cari sosok suami Rosiana Silalahi yang saya sendiri nggak tahu gimana rupanya. Hehhehe
“Jiiahhh..kamu ini. Itu yang tadi pagi kita salaman sama-sama. Itu suaminya Mbak Rossy”, jawab teman saya sambil senyum-senyum.
“Haa?!? Maksudnya Om Dino, Om mu itu suaminya Mbak Rossy? Jadi Mbak Rossy itu tantemu?!”, saya sangat terkejut.
Teman saya hanya mengangguk lalu berbisik
“Ssst…jangan keras-keras ngomongnya”, sambil tetap cengengesan.

Hahahahaa..saya dan teman saya seketika tertawa lebar. Pengennya tertawa ngakak, tapi nanti Pak Rektor terganggu. Hihihihihi..saya masih nggak percaya dengan kejutan dari teman saya itu. Dunia seperti semakin sempit saja rasanya. Rosiana Silalahi yang saya kagumi sejak SD, ternyata adalah tante teman dekat saya.

Finally setelah acara talkshow usai, ada Ari Lasso yang menghibur kami dengan beberapa lagu. Itu kali pertama juga saya melihat Ari Lasso langsung di depan mata. Dan memang saya akui, keren banget suaranya. Nyanyinya mulus, nggak terdengar suara tarikan nafas pas nyanyi. Para peserta juga pada ikut nyanyi saat Ari Lasso nyanyi. Wah wah, benar-benar tepat memang acara Rossy Goes to Campus ini. Tepat karena diadakan setelah pekan ujian berakhir, jadi ikut di acara ini seperti refreshing bagi otak. Hahhaa..

Setelah semua rangkaian acara selesai. Kami langsung keluar Baruga. Sempat nanya sama teman saya
“Boleh foto sama Tante Rossy nggak ya? Hehheee”
“Eh boleh kok. Ini ada sms dari Om Dino, katanya kalo mau foto, ditunggu depan halte”
Langsunglah kami menuju depan halte. Mbak Rossy ternyata ada dalam mobil. Mulanya salah seorang teman saya duluan foto, terus pas saya mau foto, eh tiba-tiba langsung banyak orang berdatangan dan nyerobot mau foto. Untung Om Dino (suami Mbak Rossy) langsung menangani dengan cepat. Pintu mobil pun ditutup. Huhuu..mobilnya kayaknya dah mo balik ke hotel lagi, pikir saya. Tapi terus Om Dino keluar lagi dan ngobrol sama keponakannya (teman saya), sambil nunggu sopirnya yang belom datang-datang juga. Akhirnya saat itu lah saya berfoto dan berjabat tangan dengan seorang Rosiana Silalahi yang sangat ramah dan bersahabat. Huhuyy… seperti mimpi.
Teman saya ngajak saya ke rumahnya jam 4 sore karena Om Dino dan istrinya (Rosiana Silalahi) mau ke rumah teman saya. Tapi saya nggak ikutan karena saya kan pemalu. Hihihihi..mereka pasti mau reunian keluarga, jadi nggak enaklah kalau saya datang. Hihihiii..
She’s one of the Indonesia’s most powerfull women. Hope I’ll be the next Indonesia’s most powerfull woman likes Rossy!!! 😀

Makassar, 13 Juni 2011, 19.13 WITA

Dibaca sebanyak: 298 kali.

Eksternalitas dan Kebebasan Memilih Melakukan Apapun

Manusia bebas memilih dan bertindak sesuai apa yang ia inginkan. Tapi setiap tindakan selalu punya konsekuensinya tersendiri, entah konsekuensi yang dapat kita prediksi, maupun segala konsekuensi yang tak bisa diprediksi.

Tiap preferensi mempunyai alasan rasional tersendiri bagi si pemilik keputusan. Dan tiap keputusan yang dijalani selalu menghasilkan eksternalitas. Positif ataupun negatif, eksternalitas tetap ada.

Ternyata manusia tidak benar-benar bebas sekehendaknya. Adanya eksternalitas yang menjadi faktor penyebabnya. Manusia selalu mempertimbangkan segala bentuk dan macam dampak yang muncul dari setiap keputusan yang dijalaninya. Dan petimbangan yang paling sering dilakukan adalah utilitas. Bagaimana sebuah keputusan / tindakan yang dijalani dapat memberikan utilitas pada dirinya.

Seketika saya teringat dengan theory of moral sentiments.

Kenapa seseorang membuat roti lalu menjualnya kepada orang lain? Kenapa seseorang mendesain pakaian, menjahitnya dan memajangnya di sebuah butik? Semua karena dorongan individu personal untuk mengejar utilitas pribadi. Bukan demi utilitas pihak lain di luar dirinya. Meskioun tetap terbuka kemungkinan bahwa preferensi seseorang terhadap sebuah keputusan, dilatarbelakangi oleh kepekaannya terhadap utilitas pihak lain.

But if we back to the reason why people do that?
Kenapa masih tetap ada orang yang bertindak dengan mementingkan kepentingan publik?
Bukankah manusia bebas memilih dan bertindak apapun?

Itu teori.
Kenyataannya, manusia tidak benar-benar bebas bertindak apapun.
Ada “tembok” nilai dari dalam diri manusia yang menjadi penghalang dari segala macam kebebasan tanpa batas itu.
Dan “tembok” itu dibangun dari pemahaman si manusia itu sendiri terhadap eksternalitas yang diperhitungkannya (atau mungkin hanya dibayangkannya).
Meskipun belum tentu eksternalitas itu yang akan timbul.
Kita nggak pernah tahu seperti apa eksternalitas yang berfungsi sebagai efek dari sebuah tindakan.
Kita hanya bisa mengira-ngira dan melakukan keputusan berdasarkan ketidakpastian itu.
Ya.. di dunia mana ada yang pasti?
Bahkan satu detik ke depan pun adalah hal yang ghaib bila belum dilalui.

Waduh, ini kok malah jadi OOT yah saya nulisnya?

Hehehe..anggap aja buah pikiran yang berserak..
Soalnya memang berserak..berantakan..nggak beraturan.

Makassar, 8 Juni 2011, 00.00 WITA

Dibaca sebanyak: 278 kali.

Note Usang

Kadang-kadang sebuah note usang bisa menjadi sebuah bukti otentik.
Sebuah rekaman sejarah untuk segala macam rasa dan pikiran yang terjadi di masa itu.

Kadang-kadang sebuah note usang membuat kita belajar banyak hal.
Membuat kita mengetahui dan menyadari bagaimana tingkat pengetahuan kita ketika itu.

Kadang-kadang sebuah note usang membuat kita selalu ingat dengan sebuah pelajaran.
Sebuah hikmah..
Yang tersimpan kuat di ingatan..
Mengalahkan ingatan kita kepada hari dan tanggal lahir kita.

Seringkali sebuah note usang adalah penanda.
Ya..
Penanda yang digoreskan oleh petanda-petanda dalam mozaik kehidupan kita.
Semuanya..
Membentuk tanda.

Makassar, 7 Juni 2011, 00.44 WITA

Dibaca sebanyak: 320 kali.

Cinta Ungu Kita di Bulan Juni

Ini Juni tahun kedua..
Dan tiga hari lagi adalah hari dimana Tuhan mempertemukan kita dengan sengaja.
Ibarat sebuah skenario drama yang menyejukkan jiwa.

Ini Juni tahun kedua..
Semuanya telah berubah..
Kampusmu tak lagi biru..
Kampusku tak lagi merah..
Dan cinta kita tak lagi berwarna ungu..
Semuanya telah berubah menjadi putih..

Ya..Putih..
Warna tunggal untukmu..
Dan untukku..

Juni tahun pertama, ungu berubah menjadi hitam..
Juni tahun kedua, hitam berubah menjadi putih..

Kadangkala aku rindu dengan usapan angin dingin
Yang menyapa setelah hujan beranjak dari tanah kering itu
Tanah kering tempat pertama kali kita bertemu..
Dengan wajah malu-malu bersemu kemerahan

Cinta kita tak lagi ungu..
Hujan pun tak sedang menampakkan kesegarannya..

Tapi aku bahagia
Dengan cinta ungu yang pernah ada..
Bahagia dengan cinta ungu yang telah bergradasi menjadi putih
Cinta ungu yang pernah menjadi warna
Di sepenggal babak kehidupan yang dirancang Tuhan untuk kita
Pada episode Juni dua tahun lalu

Aku bahagia..
Tuhan..

Juni 2011

 

Dibaca sebanyak: 421 kali.

Jika Tuhan Bertanya

Jika suatu hari Tuhan bertanya padamu

“Apakah kau mengenalKU?

Apa yang akan kau jawab kepadaNYA?

Jika suatu hari Tuhan bertanya padamu

“Apakah kau mencintaiKU?”

Apa yang akan kau katakan kepadaNYA?

Bagaimana mungkin cinta tumbuh tanpa engkau mengenalNYA?

Bagaimana mungkin kau bisa berkata cinta padaNYA sedangkan kau bahkan tidak mengenal dirimu sendiri?

Tuhan bisa bertanya kapan saja.

Dan kematian adalah titik final pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya.

Mampukah kita mengenalNYA dengan benar dan baik?

Sanggupkah kita untuk mencintaiNYA sepenuh hati.

Kadang-kadang kita khilaf… Kita lupa..

Bahwa adanya kita di dunia ini.. tidak lain untuk beribadah kepadaNYA.

Ya..hanya untuk beribadah kepadaNYA..

KepadaNYA..

Bukan kepada Yang lain.

Tapi kadang-kadang mata hati kita buta.

Tawaf di Mall terus menghiasi keseharian kita.

Ayat-ayat suciNYA dengan mudah tergantikan oleh lagu-lagu pop yang terlalu melenakan jiwa.

Tuhan menyayangi kita lebih dari yang kita duga.

Sementara kita?…….

Maka persiapkan “jawaban” sebelum Tuhan bertanya.

Dibaca sebanyak: 297 kali.