Monthly Archives: July 2011

Love (Crisis) Phobia in Term Economy

“Jika kau benar-benar ingin pergi, kenapa kembali?”

Kutipan salah satu dialog di Film Love Phobia itu melayang-layang di ingatan. Bagaimana tidak? Coba kita pikirkan sejenak.. Sejenak saja. Kutipan itu benar adanya. Kutipan tersebut merupakan dialog Jo-Kang pada Ari ketika Ari (gadis yang membuatnya jatuh hati sedari kecil) hendak pergi meninggalkannya lagi dengan alasan akan berangkat ke Amerika. Ari selalu saja pergi menghilang begitu saja, lalu kembali di waktu yang tak terduga (untuk lebih lengkapnya, silakan download filmnya. Hihihii). Sama hal-nya seperti krisis dalam perekonomian. Krisis dalam perekonomian, tidak pernah ingin benar-benar pergi, sebab ia selalu saja kembali (baca: datang) di waktu yang tidak terduga.

Love phobia..
Sama halnya dengan krisis phobia..
Seseorang nggak akan pernah bisa menghindari cinta (waduh maaph lagi lebay ini..hahaha) sama seperti halnya seseorang yang nggak akan pernah bisa menghindari krisis ketika keduanya datang menghampiri. Seseorang (atau: sebuah negara) hanya bisa melakukan tindakan-tindakan agar cinta (atau: krisis) dapat ia kendalikan dengan baik sehingga tidak bersifat merusak atau merugikan.

Why Love Phobia?
Menurut sumber ini, secara sederhana, phobia adalah ketakutan yang kuat/berlebihan terhadap sesuatu. Orang-orang yang mengalami phobia terhadap sesuatu, akan berusaha sebisa mungkin untuk menjauh dari sesuatu itu. Namun kasus special untuk Love Phobia.

Seseorang bisa saja trauma, benci, dan berkomitmen untuk nggak jatuh cinta (lagi) sama seseorang (wuidihh..rada bikin merinding yak kata-katanya? Wkwkwkwkk), tapi seseorang nggak akan pernah bisa menghindar ketika rasa/perasaan itu datang. Segala upaya apapun yang dilakukan untuk menghilangkan rasanya, tetap saja nggak akan bisa.

Sama halnya dengan krisis perekonomian di sebuah negara. Ketika krisis datang, kita nggak bisa menolak dan “mengusir” krisis itu begitu saja dalam waktu sekejap. Semua ada proses dan tahapannya.

Solusi untuk Love / Crisis Phobia
Jadi gimana dong kalau kita nggak bisa menghindar?
Ya, satu-satunya jalan adalah beradaptasi dengan fenomena yang terjadi (fenomena “serangan” cinta ataupun krisis).
Bagaimana caranya? Jawabnya: do everything what you can do!..
Ya!.. Kita bisa melakukan hal-hal agar efek krisis (ataupun cinta) tidak membuat logika kita kehilangan arah. Hihihiii… lebay banget ini.

Untuk krisis misalnya, jika kita sudah tahu bahwa krisis adalah pola alamiah dari business cycle sebuah negara, maka setiap orang tentu saja harus siap ketika krisis itu datang, entah datangnya dalam gelombang kecil atau besar (berupa depresi).

Maka tepatlah jika kita katakan bahwa krisis (dan juga cintai) tidak pernah benar-benar ingin pergi sebab ia selalu bisa kembali kapan saja.
Seperti kata Jo-Kang pada Ari di malam itu..

“Jika kau benar-benar ingin pergi, kenapa kembali?”

NB: maaph ya tulisannya berantakan, silakan dikritik banyak-banyak… ^_^

Dibaca sebanyak: 350 kali.

Film Franchise

 

Siapa yang suka nonton Harry Potter? Ayo angkat tangan!.. Hehehhee…Ssst..ternyata Harry Potter bisa ditinjau dari segi ekonomi loh. Salah satunya yaitu dari segi franchise (tulisan sebelum-sebelumnya tentang franchise ada disini dan disini). Film Harry Potter merupakan salah satu film franchise yang menghasilkan keuntungan terbesar kedua setelah Star Wars menurut data dari sini. By the way, apa sih film franchise itu?

Dikutip dari sini, film franchise adalah cerita bergambar berseri yang di dalamnya terdapat karakter yang sama dari film ke film. Tidak hanya itu saja. Film franchise (waralaba film) juga memiliki beberapa ciri sebagai berikut:
1. Paling tidak, memiliki tiga film yang sangat signifikan (salah satunya signifikan dari segi kontinuitas cerita).
2. Mampu menghasilkan pendapatan kotor minimal 400 juta USD tidak termasuk pendapatan dari penjualan merchandise (400 juta USD setara dengan Rp 3,4 Triliun dengan asumsi Rp 8500,-/ 1 USD. Wow…bisa dipakai buat cicilan bayar utangnya Indonesia kali’ ya?. Hehehee)
3. Menampilkan bintang-bintang besar dan biaya produksi yang tidak sedikit.

Terkait ciri film franchise yang telah dibahas di atas, berikut adalah 10 film franchise dengan pendapatan terbesar dikutip dari sini:
1. Star Wars Trilogy and Prequels ($2,183 million)
2. Harry Potter ($2,008 million for 7 films only)
3. James Bond ($1,554 million for 22 films only)
4. The Batman ($1,450 million)
5. Shrek ($1,270 million)
6. Spider-Man ($1,114 million)
7. “Pirates of The Caribbean” ($1,038 million for 3 films only)
8. The Lord of the Rings Trilogy ($1,034 million)
9. Star Trek ($1,013 million)
10. The “Indiana Jones” ($937 million).

Film Franchise di Indonesia
Jika kita cermati perfilman di Indonesia (dari kacamata orang biasa seperti saya, hehehee). Film franchise sudah berusaha dimulai langkahnya. Salah satunya oleh Laskar Pelangi. Sama seperti Harry Potter yang langkahnya diawali dari sebuah novel, demikian juga Laskar Pelangi. Meskipun tokoh-tokoh yang kemudian ada di film berikutnya (Sang Pemimpi), sudah berbeda aktornya. Atau bagaimana dengan Film Ketika Cinta Bertasbih? Get Merried? Kedua film ini juga belum kategori franchise sebab hanya ada dua seri (salah satu ciri film franchise yaitu minimal terdiri dari 3 seri yang signifikan). Jadi ada nggak ya film franchise di Indonesia? Sepertinya belum ada ya? Hehehhee..

Resep Kejayaan Perfilman
Wow..sub judul di atas kesannya lebay banget ya? Siapa sih saya? Hehehhe..Hanya orang awam saja. Resep yang akan saya tuliskan, hanya berdasarkan studi literatur saya (orang awam yang lebih suka nonton film-film box office saja. Hihiiiihiii..).

Jika kita mencermati resep perfilman di barat, kita tahu bahwa film-film terpopuler dengan pendapatan terbesar adalah film-film franchise yang sebagian besarnya berangkat dari teks narasi (novel maupun komik). Menurut The Economist, ide film-film tersebut laris duluan sebelum filmnya tayang di bioskop (we can call it “pre-sold”). Film-film tersebut memiliki ide-ide cerita yang unik dan sarat hikmah, sehingga memiliki nilai jual tersendiri.

Namun film franchise tidaklah seperti beberapa sinetron panjang di Indonesia yang bisa beranak pinak sampai tujuh turunan cerita. Heheheee.. Film franchise juga punya kendala-kendala yang membuatnya tidak akan bersifat seperti sinetron yang saya sebutkan di atas. Berdasarkan literatur ini, beberapa kendala tersebut antara lain: Yang pertama yaitu faktor penuaan (pertambahan usia) para aktor/aktris yang menyebabkan si aktor/aktris tidak cocok lagi menjadi tokoh dalam film tersebut sehingga film harus berhenti ceritanya sampai di suatu titik. Faktor kedua yaitu permintaan aktor/aktris yang menuntut honor yang jauh lebih besar seiring larisnya film dan naiknya popularitas mereka. Lalu yang ketiga yaitu sumber cerita yang memang menyebabkan cerita film harus berhenti sampai disitu (tidak ada novel lanjutan).

So, untuk para sineas Indonesia..Film franchise merupakan salah satu metode untuk membangkitkan kembali perfilman Indonesia ke arah yang lebih positif. Untuk para penulis di Indonesia, siapa tahu novel Anda yang akan menjadi pilihan untuk film franchise yang dibuat para sineas? Just write the best of your idea!.. ^_^ Lalu untuk para ekonom apa dong? Mari mengurus perekonomian negara dengan baik sehingga kemajuan perfilman dan kemajuan perekonomian dapat berjalan sinkron (hihihihi…ini aneh-aneh aja ya nyambung-nyambunginnya). 😀

NB: Maaf jika tulisannya rada berantakan. Hahhaa.. 😀

12 Juli 2011, 23.54 WITA

Dibaca sebanyak: 421 kali.

Kebahagiaan dan Skala Ekonomi dalam Hidup Kita

Apa yang dicari manusia dalam hidup? Kekayaan? Jabatan? Kebahagiaan? Tentu banyak yang menjawab kebahagiaan. Bahagia yang timbul darimana? Bahagia yang timbul dari kepemilikan harta yang banyak? Atau dari jabatan yang tinggi? Apa gunanya semua itu jika sama sekali tidak bermanfaat untuk orang lain? Puncak kebahagiaan tertinggi, konon yaitu saat kita bisa berbagi dengan orang lain. Berbagi sehingga orang-orang dapat tersenyum. Di tulisan kali ini saya akan menganalogikan kebahagiaan dengan skala ekonomi.

Seseorang dapat dikatakan berbahagia ketika apa yang ia bagikan tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, namun juga bermanfaat untuk pihak-pihak lain sehingga pihak-pihak lain tersebut juga merasa bahagia. Dalam skala ekonomi, kita dapat mengibaratkan hal ini seperti increase return to scale. Increase return to scale yaitu ketika skala input yang kita gunakan dapat menghasilkan skala output yang lebih besar (baca: dapat membuat kita bahagia dan orang lain juga bahagia).

Jika apa yang kita bagikan ternyata hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri secara sementara, dan dalam jangka panjang tidak ada perubahan signifikan terhadap perkembangan diri kita, maka ini bisa diibaratkan sebagai constant return to scale. Constant return to scale terjadi ketika skala input yang digunakan sama dengan skala ouput yang dihasilkan. Dalam hal ini bisa dikatakan balance.

Berbeda lagi halnya ketika apa yang kita bagikan (what we share to others), justru tidak memberikan kemanfaatan yang signifikan terhadap diri kita apalagi orang lain. Hal ini disebut decrease return to scale, yaitu ketika apa yang kita lakukan tidak membuat kita bahagia meskipun ada sedikit manfaatnya. Misal: kita nggak suka ekonomi tapi terpaksa masuk fakultas ekonomi. Ketika kita terus menerus menjalani keterpaksaan, kita nggak bahagia meskipun tetap ada secuil ilmu yang nyangkut di ingatan kita, tapi kita juga nggak berminat untuk share dengan yang lain karena ketidaksukaan kita terhadap bidang ekonomi.

Dalam hidup, increase return to scale, constant return to scale, dan decrease return to scale merupakan fase alamiah yang bisa dialami siapa saja. Kita bisa saja mengalami increase return to scale untuk suatu bidang / moment tertentu dalam kehidupan kita, namun constant ataupun decrease return to scale untuk bidang yang lain ataupun untuk suatu waktu yang lain. Kita hanya perlu menikmati dinamikanya!..

Semoga bermanfaat!.. ^_^

Makassar, 12 Juni 2011, 00.08 WITA

Dibaca sebanyak: 373 kali.