Monthly Archives: September 2011

Sajadah

Sajadah. Sebuah benda yang sudah sangat tidak asing bagi kita. Sesuatu yang seharusnya berfungsi sebagai alas tempat shalat, namun mengalami pergeseran makna secara perlahan.

Berapa ukuran sajadah Anda?

Heran saja mengapa sajadah jaman sekarang itu besar-besar dan bisa memuat untuk dua orang (yang tubuhnya seukuran saya).

Atau kalaupun hanya muat untuk satu orang, tetap akan ada space yang lebih.

Pengalaman mengikuti shalat tarawih di masjid membuat saya berpikir, mengapa orang-orang begitu ekslusif dengan sajadah yang mereka kenakan?

Ketika itu saya berada di deretan orang-orang yang menggunakan sajadah besar-besar. Lalu iqamat mulai dikumandangkan, beberapa orang tidak benar-benar merapat, dengan alasan

“Ini sajadah saya, ruang berdiri saya hanya sampai disini. Dan itu sajadah kamu, jadi kamu disitu saja.”

Efeknya, shaf yang terbentuk tidaklah rapat. Ditambah, tidak ada pula orang yang berada di shaf belakang yang mau maju. Jadilah shaf yang renggang. Seperti inikah yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW? Tentu tidak ya ukhti!..

Merapatkan shaf dalam shalat itu wajib. Mengapa? Apa urgensi Allah memerintahkan kita untuk meluruskan dan merapatkan shaf ketika shalat berjama’ah? Tidak lain agar kita tidak mudah dicerai berai.

Maka pikiran saya pun melayang pada sebuah logika yang mungkin saja salah menurut pendapat Anda, mungkin pula benar.

Lihat kondisi umat Islam sekarang. Mudah terpecah belah. Mudah berselisih.

Mengapa? Mengapa hal itu terjadi?

Tengoklah shalat di masjid-masjid kita..

Amati shaf-nya..

Shaf seringkali sangat lah renggang…

Jika ketika shalat berjamaah saja, kita tidak mau bersatu merapatkan shaf (baca: masih mempertahankan ego kita), maka tentu saja untuk persoalan yang lebih besar, kita akan mudah terpecah belah, sebab kita lupa.. khilaf.. Bahwa sesama muslim itu bersaudara dan harus merapatkan barisan.

Mengapa kita perlu merapatkan shaf dalam shalat berjamaah?

Agar syaitan tidak dapat masuk, nyempil diantara kita dan mengganggu ketenangan shalat kita.

Mengapa kita perlu merapatkan barisan umat islam?

Agar kita tidak mudah dimasuki penyusup yang berkepentingan memecah belah kerukunan umat islam, lalu perlahan membuat umat islam menghancurkan agamanya sendiri.

Maka benarlah bahwa shalat adalah tiang agama.

Dengan melaksanakan shalat yang baik.. Yakinlah.. Insya Allah kita turut berusaha menegakkan Islam sesuai perintah Allah SWT.

Karena itu, lupakan ekslusifitas sajadah anda ketika shalat berjama’ah, rapatkan shaf, dan rapikan.

Allah senantiasa melihat kita dan mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan.

Wallahu’alam.

Dibaca sebanyak: 675 kali.

Cara Kapitalisme Mencekoki Pikiran Kita

Tahukah Anda? Kurang lebih setiap 3 detik, potongan-potongan gambar yang muncul di televisi berubah. Mengapa? Agar otak tetap terfokus pada apa yang kita tonton. Dan tahukah Anda ada berapa jenis iklan untuk setiap kali break acara tv? Dan ada berapa kali penayangan untuk iklan-iklan tertentu?

Otak kita belajar dan menyerap informasi dari sesuatu yang terus diulang-ulang. Informasi tersebut tertanam dan menancapkan sebuah value yang mungkin saja akan kita yakini sebagai sesuatu yang benar jika kita tidak memiliki perbandingan informasi (baca: sumber informasi lain) tentang sesuatu yang kita anggap value baru tersebut.

Seperti itu lah cara kapitalisme bekerja di dunia pertelevisian. Kita “dipaksa” secara halus untuk menerima setiap nilai dari setiap hal yang kita tonton berulang-ulang, baik itu iklan maupun konten acara tv itu sendiri. Menurut Bourdieu, hal tersebut bisa disebut sebagai kekerasan simbolik. Tanpa sadar, korban kekerasan simbolik, tidak merasa menjadi korban, bahkan merasa nyaman dengan adanya kekerasan simbolik tersebut.

Dunia bergerak semakin cepat seiring perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin dahsyat. Sadar ataupun tidak sadar, kita terjebak dalam sebuah rekayasa sosial, yang seringkali membuat kita turut terjebak dalam arus mainstream yang ada.

Hidup kita seakan dirancang dikondisikan untuk berada dalam budaya konsumerisme. Serangan-serangan penawaran berbagai produk dengan teknologi canggih bermunculan setiap harinya, mencekoki pikiran agar kita merasa bahwa sesuatu itu penting dan sangat kita butuhkan. Kita bahkan belum sempat berpikir apakah kita benar-benar membutuhkan apa yang kita inginkan itu? Sebab tidak semua hal yang kita inginkan adalah sesuatu yang kita butuhkan.

Kecepatan arus menyebabkan kepanikan terjadi dalam masyarakat kita yang masih gagap nilai. Masyarakat menjadi panik uang, media, komoditi, seks, dan tontonan. Semuanya datang dan pergi begitu cepat, tanpa meninggalkan jejak yang membekas. Mulai dari kita bangun tidur, televisi menyuguhkan kita tontonan yang hanya membuat otak kita semakin tumpul, mendesak-desak pikiran kita dengan hal-hal yang tidak begitu penting, hingga akhirnya membentuk nilai-nilai baru yang kita sebut sebagai budaya pop. Budaya yang mengusung nilai-nilai kapitalisme ke dalam diri kita.

Apakah kita telah kalah?

Kita belum kalah jika kita memiliki standar value dalam diri kita. Apa standar value itu? Nilai-nilai agama dan nilai-nilai kearifan universal yang mampu menjaga hati dan pikiran kita agar kita bisa menjadi manusia yang sadar dengan kemanusiaan kita. Seperti kata Multatuli, tugas manusia adalah menjadi manusia. Maka apakah kita telah berusaha menjalankan tugas kita sebagai manusia? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Sabtu, 20.36 WITA. 10 September 2011.

Dibaca sebanyak: 319 kali.

Kegagalan dan Perubahan

“Perubahan adalah sesuatu yang normal” – Wilbert Moore on his book The Normality of Change

Seperti kata Wilbert Moore bahwa perubahan adalah sesuatu yang normal. Karena ia adalah sesuatu yang normal, maka kita pun harus menyiapkan diri menghadapi kedatangannya dalam bentuk apapun. Titik picu datangnya perubahan kadangkala berasal dari fase kegagalan ataupun fase keberhasilan dalam hidup kita. Selalu ada moment-moment dimana kita merasa gagal karena tidak mencapai target, impian, ataupun harapan-harapan yang telah kita ukirkan sejak lama di sanubari kita. Namun tak jarang pula moment-moment keberhasilan menghampiri diri kita.

Saat kegagalan datang, beberapa kita kadangkala lupa pada moment-moment keberhasilan yang pernah kita kecup dalam kehidupan. Sehingga fokus pada pikiran kita hanya tertuju pada satu pertanyaan besar saja, yaitu

“Mengapa bisa gagal?”

Kita pun mencari tahu berbagai penyebab kegagalan kita. Kita bingung dan merasa terpuruk. Seringkali bahkan meminta jawabannya kepada Tuhan.

“Tuhan, kenapa sih saya gagal? Padahal kan saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Padahal saya sudah berkorban ini itu untuk meraih semuanya. Tuhan, kenapa saya gagal?”

Maka mungkin Tuhan pun akan menjawab

“Kamu cari sendiri aja yah jawabannya”

Pikiran kita pun berputar-putar disitu-situ saja. Menyesali dan kecewa berat dengan apa yan terjadi. Mata kita tertutup. Kita jadi lupa bahwa kita pernah berada di fase keberhasilan di suatu waktu yang lampau.

Bagaimana menyikapi kegagalan?

Beberapa orang memilih untuk merenung, merenung, dan merenung tanpa tindakan. Beberapa yang lain memilih untuk merenung lalu bertindak, bertindak, dan bertindak. We can choose everything what we wanna do.

Entah kita sadari atau tidak kita sadari, fase kegagalan maupun keberhasilan dalam hidup kita adalah sebuah kondisi prasyarat yang diberikan Tuhan untuk sebuah perubahan dalam diri kita. Di dalam setiap kegagalan dan keberhasilan, selalu ada hikmah/ pelajaran yang dapat kita petik untuk kita gunakan agar bisa lebih berhasil lagi.

Tinggal kita sendiri apakah akan memanfaatkan kondisi prasyarat yang telah disediakan Tuhan untuk mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik ataukah ke arah yang lebih kurang baik?

Kita bisa memilih apapun. Setiap keputusan yang kita buat, konsekuensinya selalu akan kembali ke diri kita. Tapi kita belajar untuk setiap fase kehidupan yang kita jalani. Ketika kita masih balita, kita berkali-kali jatuh ketika hendak berdiri, namun akhirnya kita bisa berdiri. Ketika sudah bisa berdiri, kita mencoba melangkah dan terjatuh lagi, namun kita bangkit lagi dan mencoba melangkah lagi hingga akhirnya kita bisa berjalan. Kita telah belajar banyak dari proses tumbuh kembang kita sebagai manusia, hingga kini kita bisa tetap bertahan di usia sekarang dan membaca tulisan ini. Dan kita akan terus belajar sebelum nafas hanya tinggal di kerongkongan.

Maka katakan pada diri kita di pagi ini

“Saya sedang dalam proses menjadi orang yang lebih . . . . . . “ (silakan isi titik-titiknya sendiri)

Maka percayalah, perubahan adalah sesuatu yang normal, dan kita memang harus berubah menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik.

NB: a spesial note for Iza. Trust me, u can!.. 🙂

Dibaca sebanyak: 334 kali.