Monthly Archives: November 2011

Pasar-pasar Jodoh

Untuk kalian yang akan menikah, ingin menikah, dan atau baru saja menikah. 🙂

(untuk Mas Syarif dan Mbak Kiki, untuk Dilla dan Kak Ato, untuk semuanya :D)

“Nikah? Duh, please jangan bahas itu donk, gw stress dengernya.”

“Nikah? Hahha..belom lah, kita kan masih muda, saatnya senang-senang dulu lah… Nikah itu perkara serius yang belum siap gw jalani.”

“Nikah? Hmm..do’ain aja yaa..”

Bla bla bla

Bicara soal nikah, tiap orang tentu punya respon yang berbeda. Berhubung kemarin menghadiri acara pernikahan teman (pernikahannya kawan saya Dilla dan Kak Ato yang sesama aktivis HMI), jadi ikutan nulis aja tentang nikah ah. Hihihii.. tapi bukan soal respon ataupun latar belakang kenapa orang menikah atau bagaimana agar mendapatkan pasangan yang ideal yang ingin saya bahas disini. (soalnya itu dah dibahas di tulisannya kak Yoga PS). Ini cuman catatan kecil nan ringan tentang jodoh.

Kata ustadzah saya, tiap orang sudah diatur jodoh, rezeki, dan waktu kematiannya. Kita nggak pernah tahu yang mana yang lebih dulu datang, apakah jodoh dulu atau rezeki non-jodoh dulu? (jodoh itu termasuk rezeki juga loh.. hehee). Yang jelas, yang manapun yang duluan datang, mau nggak mau ya ambil aja dan tentu harus disyukuri. 🙂

Tiga Sistem dalam Perekonomian (dan Dunia Perjodohan)

Masih inget kan kalau dalam ilmu ekonomi, kita mengenal beberapa sistem yang bisa digunakan untuk mengatur perekonomian, antara lain yaitu:

– Sistem Pasar Bebas / Liberalism / Neoliberalism / Laizess Faire, dan sejenisnya

Dalam sistem ini, semua pelaku ekonomi berhak dan bebas menggunakan dan mengumpulkan sumber daya/asset sebanyak apapun mereka inginkan. Titik-titik penawaran dan permintaan bergerak bebas, tidak beraturan, dan sangat cepat. Bila dikaitkan dengan sistem dalam menemukan pasangan hidup, maka bila menggunakan sistem ini berarti seseorang mencarinya dengan bebas. Nggak ada aturan si A nggak boleh sama si B. Maka jangan heran, dalam sistem ini, ada sebuah kelemahan yang timbul, diantaranya misalnya yaitu tidak sedikitnya orang yang menjalani hubungan dengan orang lain yang dah punya pasangan, sebab kebebasan adalah hal utama dalam sistem pasar bebas ini.

–  Sistem Komando / Marxisme / Penganut golongan kiri

Berbeda halnya dengan sistem pasar bebas. Dalam sistem komando, segala sesuatu yang berkaitan dengan perekonomian diatur oleh negara, bahkan kepemilikan individu pun diatur dengan ketat oleh negara, segala sesuatu untuk negara. Sistem seperti ini cenderung sangat mengikat para warganya. Titik-titik penawaran dan permintaan dalam sistem ini bergerak secara kaku (rigid). Bila dikaitkan dengan urusan hati, contoh konkret untuk sistem ini yaitu dua orang yang menikah karena perjodohan. Ya, misalnya kisah siti nurbaya dan datuk maringgi. Hehhee.. Mereka dijodohkan, dan tidak berhak untuk menolak.

–  Sistem Islam

Nah, lalu bagaimana dengan sistem Islam? 🙂 sistem islam yang saya maksud disini tidak hanya untuk para muslim dan muslimah saja, tapi untuk siapa saja, sebab saya percaya nilai-nilai islam itu nilai-nilai universal.

Jika dibandingkan dengan sistem liberalism dan marxisme, sistem islam adalah penyeimbang keduanya. Segala hal sudah diatur dalam islam, termasuk dalam hal memilih pasangan hidup. 🙂 ada empat hal yang menjadi pertimbangan, yaitu: paras wajah, kekayaan, keturunan yang baik, dan agama. Namun yang menjadi point utama yaitu agama. Jadi, walaupun tampan, kaya, dari keluarga yang baik, tapi jika beda agama? Maka carilah yang lain. 🙂

Lalu, jika nggak tampan, belum kaya materi, dari keturunan biasa-biasa saja, tapi agamanya bagus, maka adakah alasan untuk menolak? 🙂

Bukan hanya soal memilih pasangan, tapi islam juga mengajarkan kita untuk tidak sekedar memilih yang baik, namun juga melalui proses-proses yang baik.

Jadi? Ingin menemukan jodoh dari sistem yang mana? 🙂

Menentukan pasangan hidup itu perkara hati.

Seperti yang sudah disebutkan di awal, semua orang punya jodoh, rezeki, dan voucher hidup di dunia yang berbeda-beda. Kita hanya perlu menyiapkan diri untuk menerima yang mana saja yang duluan datang. 🙂

Jodoh kita adalah pilihan kita.

Gud Luck!…

Makassar, Ahad, 27 November 2011.

*NB: note ini juga untuk diri saya sendiri 😀

Dibaca sebanyak: 474 kali.

Kak, Minta Kak..

Siang tadi seusai nonton seminar proposalnya Adit, Anet, Rasma, dan Sri, saya langsung bergegas keluar kampus. Mau pulang, tapi pikir-pikir lagi kayaknya enak nih beli roti dulu, di salah satu toko roti yang ada di depan Diknas.

Akhirnya saya pun singgah dan membeli beberapa roti kesukaan adik saya (tentu kesukaan saya juga, huehehe). Setelah membayar dan keluar dari toko roti, saya menengok ke kanan, ada anak kecil yang berjalan ke arah saya sambil memegang bungkus teh kotak yang dijadikannya seperti semacam dus untuk menampung sesuatu (entah recehan atau apa). Saya terus berjalan ke depan, dekat jalan raya untuk menyetop angkot. Anak kecil berusia sekitar 11 tahun itu mengejar langkah saya  seraya berkata

“Kak, minta kak..”

“Nggak Dek”

Saya terus saja jalan. Saya melihatnya sekilas, ya ampun, bajunya rapi gitu, nggak kucel kok minta-minta. Saya tetap jalan seperti biasa dan berkata tidak.

Anak itu terus saja berkata

“Kak, minta kak… Kak, minta kak..”, seraya terus menyodorkan dus bekas teh kotaknya ke saya. Mungkin berharap saya memberinya selebaran uang untuk dimasukkan ke dus itu.

Saya melihat angkot 07 dah ada, saya terus saja berjalan menyetop angkot, lalu bocah itu pergi dengan sendirinya.

Di dalam angkot saya merasa bersalah, kasihan, tapi di sisi lain ada suara di pikiran saya yang bilang

Nanti anak itu jadi manja dan terbiasa minta-minta kalau tadi saya kasih duit. Dia pasti akan belajar bagaimana cara melunakkan hati orang agar mau mengeluarkan uang untuknya.

Allah.. apa saya salah.. Jadi ingat dulu kata-katanya Adhi yang pernah bilang

“Kalau sama anak-anak yang kayak gitu, kalau mau ngasih ya kasih aja, aku sih nggak pernah mikir dampak ke depannya gimana.”

Mungkin saya bakalan ngasih kalau emang saya ngerasa dia perlu dan dia nggak minta-minta dengan maksa. Tapi entahlah………………………………….

Anggap saja saya tega. :p

Saya pikir itulah the real poor of society. Ketika ada orang yang terlihat sehat, baik-baik saja, tapi kerjanya cuma mengemis atau bahkan tidak sedikit yang mengemis sambil pura-pura lumpuh, saya pikir itu adalah miskin yang paling miskin.

Semoga suatu hari saya bisa ikut membantu mengentaskan kemiskinan di Indonesia, minimal di lingkungan sekitar… Amiien..

*big hope.

Makassar, 29 November 2011, 05.15 sore, saat hujan baru saja reda.

Dibaca sebanyak: 446 kali.

Kemiripan Dua Orang yang Berjodoh

Siang tadi datang di acara nikahannya Dilla. Actually, I’m still unbelieveble kalau Dilla dah resmi jadi seorang istri. Rasanya baru kemarin kami berbincang tentang perjalanan keimanan kami masing-masing, tentang cita-cita kami setelah lulus dari kampus merah, dan juga tentang hal-hal lain yang jauh dari sebuah kata bernama “pernikahan”. Yaa..meskipun kadangkala kami sharing tentang calon pasangan ideal. Hahhaa..benar-benar masih ngerasa nggak percaya.

Mmm..saat di pernikahan Dilla, waktu lagi ngumpul sama teman-teman, kami sempat membahas tentang senior kami yang benar-benar kami nanti-nantikan undangan pernikahannya.

“Eh eh bentar ada kak XXX loh… mo tanyain ah, kakak kapan nyusul? Hehhe”, kata A

“Iiihh..nggak usah, kesian si kakak kalau ditanyain terus, nanti merasa tidak enak hati. Mending kita do’ain aja”, kata B.

Benar juga kata B.

Btw waktu di akhir acara, Dilla berfoto sama suaminya, langsung deh pada rame komentar

“Bener-bener serasi yaa..”

“Cocok banget!”

Dan komentar-komentar senada lainnya.

Lalu Kak XXX berkomentar

“Yang namanya kalau dua orang sudah menikah, ya pasti kita melihatnya serasi. Serasi ataupun nggak serasi, tetep terlihat serasi.”

Jadi ingat juga, ada yang bilang bahwa sepasang suami istri akan mirip wajahnya dari hari ke hari seiring waktu yang senantiasa dilalui bersama. Benarkah? Mmm..data-data di lapangan menunjukkan demikian. Hehhehee..

Dillaa… selamat yaa.. Semoga keluarganya sakinah, mawaddah, dan penuh rahmat. Amiin… ^_^

Bahagia sekali rasanya melihat Dilla yang tampak sangat bahagia hari ini.

Dibaca sebanyak: 419 kali.

[Fiksi] Sebelum Desember

#Juli 2011#

“So, u will back to Indonesia on Dec?”

“Yup, insya Allah. Kamu jemput aku kan?”

“Um..jemput nggak yaaa.. Jemput nggak ya..”

“Jemput donk.. Masa’ sih kamu nggak mau jemput aku?”

“Kamu kan bisa naik taksi. Lagian, nanti aku dikira keponakanmu kalau aku ikutan jemput. Hihihii…”

“Nggak lah, kan ada mamaku. Hehehe. So? Jemput kan?”

“Nanti aku diintai sama para revolusioner karena jemput orang dari Libya. :P”

“Mana berani mereka sampai ke Indonesia dan memata-matai calonku. :p”

“Calon apa ya?”

“Loh? Kita kan sepasang calon . . . . Ya kan? Tunggu aku yaa.. :)”

“Aku belum siap.”

“Pasti siap..masa’ sih belum siap?”

“Iya, belum siap… Kamu cari yang lain aja. Hehee”

“Beneran?…” tanyamu seraya tertawa lucu.

Aku hanya menjawab dengan senyuman.

 

#September 2011#

“Kamu jadi balik ke Indonesia?”

“Belum tahu bisa balik Desember atau nggak, ini lagi ngurus dokumen-dokumen disini, rada ribet. Tapi nanti aku kabarin kamu ya.”

 

#November 2011#

“Kamu?”

“Ehh..maaf. Kamu?”

“Kok kamu nggak bilang kamu dah balik ke Indonesia? Katamu baru balik Desember?”

“Eh..mm.. duh..Maaf aku nggak bilang. Aku dapat jadwal keberangkatan di awal, soalnya dah ada orang yang bisa gantikan tugasku di KBRI di Libya.”

“O.. gitu ya. Eh iya itu siapa? Sepupumu ya?”

“Oh iya kenalkan, ini Lili, tunanganku…” Jawabmu terbata-bata.

“Tu..na..ngan..?”

Detik itu aku merasa jarum-jarum waktu menusuk-nusuk dadaku, memukul-mukul kepalaku, dan menggetarkan langkahku meninggalkanmu. Ah, lelaki, bukan cuma dirimu.

 

 

Dibaca sebanyak: 669 kali.

Perempuan

Sewaktu kemarin mengunjungi Tira, saya dan teman-teman sempat ngobrol banyak sama tantenya. Kami berbincang tentang perempuan. Berikut beberapa pesan yang disampaikan tantenya Tira yang sebenarnya sudah seusia dengan nenek saya. Ucapannya dalam bahasa agak ke-bugis-bugisan, cuman ini sudah saya translate. 🙂

“Jadi perempuan itu harus tahu atur waktu dengan baik. Saat masih muda, kalau nggak nikah, pasti nyesel soalnya nggak ada keturunan yang akan merawat kita nanti. Tapi kalau nikah, konsekuensinya juga banyak. Kita harus rawat anak dan rawat suami. Apalagi jadi wanita rumah tangga jaman sekarang, harus lebih ekstra jaga suami agar tidak berpaling. Perempuan jaman sekarang, banyak yang genit, suami orang diincar juga.” ucapnya serius sambil tersenyum.

“Belum lagi kalau sudah menikah, terus mau lanjut sekolah, waktu harus diatur baik-baik. Perempuan itu banyak sekali tugasnya. Yaa..tapi itulah hidup. Yang penting kita jalani dengan baik karena kita semua kan menuju padaNYA yang Maha Baik.”

Abis denger petuah itu, saya dan teman-teman pada bengong. Entah apa yang ada di pikiran masing-masing, yang jelas petuah itu benar adanya. Cukup jalani hidup dengan baik dan benar, insya Allah semuanya lancar.

Dibaca sebanyak: 400 kali.

Rumi’s Daily Secrets

Jalaluddin Rumi atau yang biasa disebut Rumi, adalah seorang sufi yang turut mempengaruhi kecintaan saya pada karya-karya puisi bernuansa filsafat. Setiap kata-katanya, punya makna yang begitu dalam. Buku Rumi yang pertama saya baca adalah I-Diwan I-Syams I-Tabris, untaian kata-kata di dalamnya begitu bermakna.

Tapi di tulisan kali ini yang akan saya bahas adalah buku yang berjudul Rumi’s Daily Secrets. Di dalamnya ada banyak renungan-renungan yang bisa kita baca setiap hari. Setiap kali membaca satu per satu kalimat-kalimat renungan itu, saya merasa tenang, semacam ada keseimbangan antara hati dan pikiran. Tentu kalimat-kalimat itu bukan sekedar untuk dibaca, namun biarkan maknanya meresap ke dalam jiwa, hingga mampu teraplikasikan dalam keseharian kita. Mungkin terasa berat awalnya, tapi dengan belajar dan terus berusaha, insya Allah bisa, saya yakin.

Berikut sedikit kutipan dari salah satu syairnya:

Rasa itu adalah benih, dan pikiran adalah buahnya;

rasa itu laut, dan pikiran adalah mutiaranya.

Memakan makanan yang halal melahirkan kecenderungan beribadah kepada Tuhan dan berketetapan untuk pergi ke duniaNYA.

Kalimat-kalimat itu tidak akan bermanfaat jika tidak kita maknai dan resap maknanya dengan baik ^_^

Judul buku: Rumi’s Daily Secrets; Renungan Harian untuk Mencapai Kebahagiaan.

Penerjemah: H.B. Jassin

Penerbit: Bentang

Cetakan I, September 2008.

Semoga bermanfaat!.. 🙂

Dibaca sebanyak: 497 kali.

Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang Belum Hasanuddin

Universitas Hasanuddin.. Saat pertama kali mendengar namanya yang merupakan salah satu Universitas terbaik di Makasssar bahkan di Sulawesi, keraguan saya untuk memilih melanjutkan studi di UNHAS menjadi sirna. Saya percaya dan yakin bahwa apa yang saya pilih adalah pilihan yang baik, sebab saran dari kedua orangtua juga demikian.

Selepas SMA, saya meninggalkan kota pelajar dan ketenangannya, menuju Makassar dan UNHAS dengan keriuhannya. Apakah saya menyesal? Tidak. Saya tidak pernah menyesal untuk segala bentuk keputusan yang telah/pernah saya ambil. Lalu? Apakah saya malu menjadi mahasiswa UNHAS (melihat citra UNHAS sekarang ini)? Tidak. Saya tidak pernah malu menjadi mahasiswa UNHAS.

Sedikitpun saya tidak pernah malu menjadi mahasiswa UNHAS, sebuah kampus yang dicitrakan suka demo dan vandalism. Saya tidak malu. Semua hanya citra kosong, bagi saya. Orang boleh memberikan persepsi masing-masing, dan tiap-tiap dari kita tidak berhak mencemooh persepsi orang lain yang seringkali berbeda dengan apa yang kita yakini.

Saya tahu, saya sadar, dan saya tidak menutup mata atas apa yang sedang terjadi tentang UNHAS. Di tulisan ini, saya hanya mencurahka uneg-uneg yang ada. Sejujurnya saya agak sedikit jenuh dengan pemberitaan media yang terlalu “lebay”, jenuh terhadap komentar negatif orang-orang di luar UNHAS (terutama di luar Sulawesi) tentang mahasiswa UNHAS.

Mereka yang tawuran, itu hanya sebagian kecil saja dari total persentase mahasiswa yang ada. Apa sebagian kecil itu sudah dianggap mewakili mahasiswa UNHAS keseluruhan? Tentu tidak kawan!… 🙂

Banyak mahasiswa UNHAS yang berprestasi. Tapi semuanya seakan-akan tertutupi oleh citra mahasiswa UNHAS suka tawuran.

Untuk teman-teman yang pernah terlibat tawuran, tolong jaga almamater kita dengan baik. Kita hanya perlu menjadi mahasiswa UNHAS yang baik.

UNHAS.. Universitas Hasanuddin. Seharusnya kita sebagai mahasiswa UNHAS, punya perilaku yang hasanuddin. Apa itu hasanuddin? Hasanuddin berasal dari kata “hasan” dan “Ad-Din”. Hasan berarti baik, sedangkan Ad-din berarti agama. Jadi hasanuddin bisa berarti beragama yang baik / baik dan beragama / baik yang beragama. Baik saja tidak cukup, tapi diperlukan agama juga. Begitu juga beragama saja tidak cukup, tapi harus baik juga (dalam menjalankan dakwah-dakwah agama).

Tawuran mungkin di persepsi para pelaku adalah sesuatu yang baik, katanya merupakan upaya mempertahankan kehormatan diri. Tapi apakah sikap itu sudah “hasanuddin”? 🙂 baik sesuai agama? Dalam hal ini saya bicara soal agama secara general. Saya yakin semua agama mengajarkan kebaikan yang universal, tidak ada yang mengajarkan kekerasan dan berlaku sewenang-wenang terhadap hak-hak orang lain (membakar kendaraan orang lain secara sembarangan, etc). Agama mengajarkan kita menjadi orang yang mampu mengendalikan emosi kita. Agama mengajarkan kita menjadi orang yang mampu memberi manfaat bagi sesama.

Jika semua mahasiswa UNHAS sudah “hasanuddin”, insya Allah UNHAS bisa berakselerasi lebih cepat menuju perubahan yang jauh lebih baik dari hari ini.

Kita mahasiswa. Di pundak-pundak kita inilah segala bentuk tanggungjawab sosial sedang mulai dan akan bertambah tanggungannya semakin hari tanpa kita sadari. Di tangan-tangan kita inilah nantinya keputusan penting menyangkut orang banyak akan kita putuskan, jadi tidak usah disalahgunakan untuk menyalakan korek api atau untuk melempar segala macam benda. Lebih baik kita gunakan untuk membaca buku, melakukan bakti sosial, dan kegiatan-kegitan lain yang jauh lebih bermanfaat.

Teman-teman.. jangan pernah mengharapkan dan berteriak-teriak tentang revolusi jika usaha untuk perubahan tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Ini UNHAS kita, almamater kita, jika memberi kontribusi besar terhadap almamater ini kita belum mampu, maka apa salahnya mewujudkan nilai “hasanuddin” dalam diri sebagai bentuk positif kepedulian kita?

Semuanya untuk UNHAS yang lebih baik!…. ^_^

NB:

1. Tulisan ini spesial untuk semua teman-teman se-almamaterku (Universitas Hasanuddin), trust me, we can do the best to make UNHAS proud!..

2. Anggap saja tulisan ini sekedar retorika. Retorika kekecewaan terhadap teman-teman yang belum sadar bahwa masih banyak hal positif yang bisa kita lakukan selain tawuran. Rabu ini kampus libur gara-gara Selasa kemaren ada tawuran.

Dibaca sebanyak: 370 kali.

Instrument-instrument Pasar Keuangan dan Pertumbuhan Ekonomi

Pas seminar judul awal November, dapat banyak komentar dari penguji kalau SBI itu nggak ngaruh ke GDP. Terus disuruh ganti jadi suku bunga bank umum aja. Tapi tahun 1999 kan masih perbaikan sistem perbankan pasca krisis, emang datanya ada? Sedangkan dokumen-dokumen aja banyak yang hilang. Range waktu penelitianku mulai tahun 1999, memang bikin rada ribet datanya (ribet apa karena belom nemu aja ya? hihihiii).

Terus disaranin ganti pake JIBOR aja, soalnya kata pembimbing, data JIBOR selalu ada. Huaa..apa pula JIBOR itu? Denger aja baru saat itu!.. Gubrak!… Ini nih ketahuan, belajarnya cuma kalau di kelas aja. Hhahaha..

Hmm..tapi sekarang mikir.. SBI dan BI rate aja nggak ada pengaruhnya ke GDP (di beberapa penelitian), apalagi JIBOR? Yang notebene-nya lebih jauh lagi dari sektor riil. Menurutku di Indonesia yang notebene-nya, ada gap antara sektor riil dan sektor moneter, tetep hasilnya nggak akan ada pengaruh antara instrument-instrument pasar keuangan terhadap GDP. Kalaupun ada, itu pasti negatif dan atau sangat kecil. Kecuali untuk instrument-instrument tahap 1 (istilah yang kubuat sendiri). Instrument tahap satu maksudnya yaitu instrument-instrument yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, yaitu suku bunga bank umum (terutama suku bunga kredit). Tinggi rendahnya tingkat suku bunga kredit bakalan langsung berpengaruh ke keinginan orang untuk berinvestasi. Kalau suku bunga kredit tinggi, orang rada males pinjem duit di bank buat investasi, soalnya agak takut susah mengembalikannya. Tapi sebenernya tetep ada juga yang berani ngambil risiko meskipun bunga tinggi, yaitu ketika kondisi perekonomian dianggap sedang stabil dan diprediksi akan turut berkontribusi positif terhadap bidang usaha yang digeluti.

Sedangkan JIBOR?

JIBOR itu kan suku bunga pinjaman antar bank. Nah, ngaruhnya ke preferensi masyarakat untuk berinvestasi kan jauh, alias tidak langsung. Huahaha..gimana yaaa… Di web BI juga datanya cuman ada dari tahun 2008, jadi kudu ke kantor BI langsung nih buat nanyain lagi. Hehehee… 😀

Semangat dyah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! ^_^ Insya Allah semuanya akan terjawab setelah penelitian!… 😀

Dibaca sebanyak: 11260 kali.

Ceritaku tentang Kapal Laut

Ada banyak sarana transportasi di Indonesia, dan kapal laut salah satunya. Saya jadi tertarik untuk menuliskannya setelah membaca tulisan Mbak Ary Amhir di blognya.

Sebenarnya kalau cerita tentang pengalaman naik kapal, sepintas nyaris nggak ada pengalaman menyenangkan. Soalnya setiap kali naik kapal, kadang-kadang saya diserang mabuk laut. Apalagi ketika cuaca buruk (musim hujan), kapal jadi terasa banget olengnya. Terutama jika dapat di kamar dek bawah. Belum lagi kamar mandinya yang selalu kotor dan banjir karena orang-orang sering lupa matikan keran air sehabis dari kamar mandi.

Saya pertama kali naik kapal kelas 1 SD sewaktu ke rumah simbah. Waktu itu saya, Debi, Ibu, Bapak, Mbah Putri, dan Bule’ Mesmi berangkat bersama-sama naik kapal ke Surabaya. Saya paling ingat ketika Bapak membantu saya duduk di atas besi-besi yang ada di pinggiran tempat orang-orang berdiri memandang laut. Saat itu nyaman sekali rasanya menikmati hembusan angin yang menerpa wajah. Juga ketika kami berada di dek atas (kawasan kafe) dan berdiri dekat pagar pembatas, indah sekali melihat riak-riak air yang timbul dari gerakan baling-baling kapal. Saat itu saya dan Debi memegang sebuah apel, tapi apel yang kami pegang malah jatuh ke laut.

Bicara tentang kafe kapal, memang mahal. Saat itu Bapak mengajak kami duduk-duduk saja di bangku kafe. Kami minta jajan Chitato. Bapak membelikan tapi kaget dengan harganya yang di luar dugaan. Memang Bapak sudah menduga harganya lebih mahal, tapi tidak menyangka sampai lima kali lipat. Ah..saat itu kami taunya cuma mau keinginan kami terpenuhi, tak peduli pada harga.

Hal lain yang paling saya ingat yaitu Ibu selalu membawa makanan dari rumah ketika kami akan naik kapal. Nasi di kapal selalu keras, jadi untuk meminimalkan makan nasi yang keras, Ibu membawa nasi. Tidak hanya itu, Ibu juga membawa mie instant (yang bisa diseduh kapan saja), abon, dan kadang-kadang sambal kering. Perjalanan Makassar-Surabaya memang hanya 23 jam, tapi berada di lautan lepas di waktu yang sedemikian itu terasa sangat lama bagi saya.

Kalau naik kapal, memang nggak enak kalau di kelas ekonomi, soalnya harus tidur di dek. Itupun harus ekstra hati-hati sama copet yang bisa saja mengambil barang-barang kita ketika kita tidur. Saya masih ingat betul ketika kami pernah naik kapal di kelas ekonomi, Ibu dan Bapak bergantian tidur untuk menjaga barang-barang kami yang banyak. Duh, ini mungkin kekurangan kami saat mudik ketika itu, barang kami tetap banyak, maklum saat itu kami masih anak-anak jadi sering sekali ganti baju. Tapi di tahun-tahun berikutnya, kami tidak lagi di kelas ekonomi sebab bapak mengusahakan membeli tiket kelas 3 atau kelas 2. Jadi yang dibelikan tiket kelas cuma kami (anak-anak) dan Ibu, sedangkan Bapak pakai tiket ekonomi. Tapi kadang juga kami semua pakai tiket kelas saat Bapak punya uang untuk membeli tiket kelas. Mudik dengan banyak anak memang butuh hitung-hitungan cerdas agar tetap hemat anggaran. Bagi kami, nggak masalah dikit repot naik kapal, yang penting bisa hemat, jadi lebih banyak uang yang disisihkan untuk membeli oleh-oleh. Hehehehe..

Hmm..oh iya, satu peristiwa lagi yang tidak mungkin bisa saya lupakan. Yaitu berdesak-desakan ketika naik dan turun dari kapal. Sulit diceritakan, untuk mengetahuinya langsung, teman-teman bisa cek di Pelabuhan terdekat. Kapal selalu delay, alias telat datangnya. Kadang sampai 5 jam, bahkan pernah telat sampai 1 hari!… Dan saat naik ke kapal, kami sudah membagi-bagi tugas membawa tentengan barang. Walaupun ketika itu saya dan adik saya masih kecil, tapi kami sudah diberi tugas membantu membawa barang yag sanggup kami angkat. Jadi Bapak jalan di depan sambil bawa barang, terus saya di belakang bapak, disuruh pegangan di saku belakang celananya, Debi juga pegangan saya, dan paling belakang Ibu. Kami harus berjalan berurutan begitu sebab kalau tidak, bisa-bisa kami hilang dan bingung. Hehhee. Nah..suatu ketika saat pulang ke Makassar, dompet saya jatuh di sela-sela tangga tempat kami melangkah. Sedihnya melihat dompet itu jatuh di laut, padahal isinya adalah salam tempel yang sudah saya kumpulkan selama lebaran di Jawa. Hihhihiii..

Sekarang kami nggak pernah naik kapal lagi, soalnya tiket pesawat dah mulai terjangkau. Cepat dan tidak menyebabkan mabuk perjalanan. Hehehe.. Hmm..tapi saya tetap tertarik untuk naik kapal lagi, penasaran ingin nyobain kelas 1 di kapal itu seperti apa. Mungkin suatu hari.. 🙂

Dibaca sebanyak: 6584 kali.

Keywords

  • apakah aman naik kapal laut saat hujan
  • contoh pengalaman menyenangkan dengan naik kapal
  • dari surabaya naik kapal laut
  • kapal pelni buruk
  • naik kapal laut saat hujan

Sebuah Catatan untuk Buku Nasional.Is.Me-nya Pandji Pragiwaksono

Buku Pandji Pragiwaksono yang berjudul Nasional.Is.Me menurut saya adalah sebuah buku yang sangat bagus untuk dibaca oleh para generasi muda (pada khususnya). Di buku itu, Pandji berusaha menunjukkan “Ini loh Indonesia kita, yang harus kita banggakan”. Soalnya nggak bisa dipungkiri, sebagian dari generasi muda Indonesia sekarang sudah mulai terserang rasa cinta berlebih pada bangsa luar daripada bangsanya sendiri.

Ini loh Indonesia!.. Baca bukunya Pandji, kita akan tahu sedikit cerita tentang Indonesia. Tentang alamnya yang begitu indah dan kaya namun ada titik memprihatinkannya juga (untuk persoalan sumber daya manusia di kawasan Indonesia Bagian Timur). Salah satunya cerita tentang Kupang yang membuat saya terhenyak saat membacanya.

Tapi di balik semua cerita menarik yang dikemas Pandji Pragiwaksono dalam bukunya ini, ada 1 catatan penting yang menurut saya perlu untuk dituliskan. Mungkin ini sepele aja, sebab menyangkut penulisan sebuah kabupaten.

Di buku Nasional.Is.Me, saya mendapatkan kata “Jenne Pontoh” untuk menyebutkan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenal banyak kudanya. Sedikit koreksi, nama yang benar seharusnya “Jeneponto”.

Sebuah buku/tulisan seringkali menjadi sebuah panutan, entah dalam hal nilai atau sekedar menambah perbendaharaan pengetahuan. Dan saya pikir tulisan keliru kata “Jenne Pontoh” bisa membuat orang-orang yang tidak mengetahui juga turut ikut-ikutan menyebut kabupaten tersebut “Jenne Pontoh”, padahal seharusnya “Jeneponto”.

Saya memang bukan orang Jeneponto. Saya hanya sedikit mengoreksi saja berdasarkan pengetahuan umum saya selama berada di wilayah Sulawesi Selatan bertahun-tahun.

Memang tidak bisa dipungkiri, nama wilayah seringkali punya dialek tersendiri untuk mengucapkan namanya. Sama halnya seperti kabupaten “Majene” (huruf “e” diucapkan seperti huruf “e” pada kata “jejer”), yang seringkali salah diucapkan menjadi “Majene” (huruf “e” diucapkan seperti huruf “e” pada kata “emas”).

Semoga bermanfaat!… 🙂

Dibaca sebanyak: 22940 kali.

« Older Entries