Monthly Archives: December 2011

Review Centro Mall Bali

Jum’at, 23 Desember 2011.ย Jalan-jalan ke Mall Centro di Bali. Mall ini sebenarnya bernama Discovery Shopping Mall, cuman orang lebih sering menyebutnya Centro (karena emang namanya juga Centro. hihihii). Ada apa di dalam Mall Centro? Segala macam barang untuk lifestyle. Saya sendiri kesana, cuma untuk jalan-jalan aja. Hhihihiii..ke Bali kok ujung-ujungnya ke Mall juga???

Lihat-lihat buku di toko buku impor (saya lupa namanya apa). Toko buku ini juga pernah saya lihat di Bandara Adisutjipto Jogja di bulan Februari 2011. Di Makassar, nggak ada deh kayaknya (masih bilang kayaknya, soalnya nggak pernah perhatiin di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar toko buku itu ada atau nggak). Akhirnya beli bukunya Paul Arden (ini sih udah agak lama, tapi belom punya dan nggak pernah lihat versi bahasa inggrisnya di toko buku di Makassar) dan buku tentang ekonomi islam. Bukunya nggak boleh dibuka plastiknya, jadi nggak tahu apa buku yang soal ekonomi islam itu terbitan 2011 atau bukan. Belakangan baru ngecek, ternyata buku terbitan tahun 2009. ๐Ÿ˜€

Terus, selain ke toko buku, menyempatkan diri lihat-lihat sepatu juga, soalnya kaki saya agak susah menemukan ukuran sepatu yang cocok. Dan wow, ternyata disana saya menemukan sepatu yang pas dengan ukuran kaki saya, merknya Hush Puppies. Pas tengok harganya, ajiiiib mahaalll banget. Huehehehee… Mikir-mikir lagi buat beli, soalnya nggak cocok sama kantong =)). Yaa..paling tidak saya dah menemukan satu merk sepatu yang cocok dengan ukuran kaki saya. Mungkin suatu hari saya akan membelinya kalau dah punya penghasilan yang stabil. ๐Ÿ˜€ Saya lebih memilih satu sepatu mahal nan nyaman yang bisa dipakai dalam jangka waktu lama daripada sepuluh pasang sepatu murah tapi nggak nyaman dan hanya bisa dipakai sebulan.

Terus nyoba nyari ke lantai berikutnya, saya pun menemukan satu merk lain -Amanda Jane’s-, tapi modelnya pake tali-tali gitu, saya menunda beli karena mo nyoba nyari yang lain.

Jalan-jalan sampe bosan, pas jalan terus ke belakang, ternyata di belakangnya Centro ada pantai. Pemandangannya ciamik banget. Terus ada kafe-kafe juga. Ada satu kafe yang keren banget, namanya Ocean 27.

Abis dari Centro, terus cari makan (mo review tapi nggak catet nama tempat makannya apa :D). Setelah itu, menikmati sore di pantai kuta sambil baca buku (ke pantai kok baca buku!… :D) dan menikmati suasana pantai.

Review tentang kafe Ocean 27, dipostingan selanjutnyaaa.. ๐Ÿ˜‰

Bukunya Paul Arden -take foto di pantai kuta-
Buku tentang ekonomi islam (view sekilas, belom selese baca)
-take di pantai kuta-

NB: harusnya ini dah diposting lama, tapi kelupaan. ๐Ÿ˜€

Dibaca sebanyak: 10489 kali.

Review Khaima Bali Moroccan Restaurant

Waktu sudah menunjukkan sekitar jam 9 malam. Kami baru saja tiba di Santika, setelah pulang dari Tanah Lot. Cuaca nggak begitu bagus, air laut pasang, jadi ekstra hati-hati saat mengambil foto di Tanah Lot sebab beberapa kali ombak datang tiba-tiba. Kalau nggak hati-hati, bisa basah kena ombak. ๐Ÿ˜€

Hmm..setelah mandi, bersih-bersih, terus siap-siap pergi makan. Walaupun KFC cuma tinggal nyebrang, bosen juga makan KFC setiap saat. Nyoba searching di google. Searching restoran arab, dan menemukan nama Khaima Bali Restoran. Ada nomor kontaknya, nyoba telepon nanya apa restorannya masih buka apa nggak, soalnya dah jam 9 lewat, ternyata masih buka, terus nanya lagi makanannya halal apa nggak, dijawabnya halal. Pelayanan di telepon, ramah. Jadi saya pikir sepertinya restorannya bagus. Hhehehe..

Dari Santika ke Khaima Bali Restoran, butuh waktu sekitar 15 menit. Restoran Khaima Bali terletak di kawasan Seminyak, tepatnya di Jalan Oberoi. Kata driver, nama jalannya udah ganti, dan bukan Jalan Oberoi lagi, cuman orang-orang tetep sukanya nyebut Jalan Oberoi.

Kata driver, nama jalannya diganti karena sama dengan nama hotel, dan itu nggak boleh. Ternyata di jalan itu ada sebuah hotel ternama yang terkenal sejak dulu sampai sekarang, namanya yaitu Hotel Oberoi, karena itulah kenapa jalan itu disebut Jalan Oberoi. Tapi saya lupa nama baru untuk Jalan Oberoi apaan. Hehehe ๐Ÿ˜€

Pas masuk kawasan Seminyak, wuiihh.. rada beda ya dengan kawasan Kuta dan Legian, terutama soal kemacetannya. Di kawasan Seminyak, nggak macet kayak di Kuta atau Legian. Mungkin karena kawasan eksklusif, dan harga di atas rata-rata, jadinya jarang yang ke Seminyak, nggak seperti di kawasan Kuta dan Legian.

###

Taksi yang kami tumpangi pun berhenti. Katanya restorannya di sebelah kanan saya. Saya nggak lihat ada tulisan Khaima, pas ditunjukkin baru lihat. Papan tulisannya kecil, tulisannya juga kecil, nggak terlalu kelihatan. Jadilah turun dari taksi cepat-cepat, biar kendaraan di belakang nggak keburu meng-klakson. Jalan Oberoi ini rada kecil, cuman muat pas untuk dua mobil, jalannya juga dua arah, jadi ya tahu sendiri, kita nggak bisa mendahului kendaraan yang ada di depan.

Ketika masuk di Restoran Khaima, suasana ke-Arab-araban belum terasa, soalnya musik yang diputar bukan musik timur tengah, malah musik barat. Suasanya crowded banget. Kalau bicara sama kawan di depan kita aja, harus rada keras, biar kedengeran. Hehehhe..musiknya terlalu besar soalnya.

Btw saat masuk, kami ditanya mau kursi untuk berapa orang. Karena cuma berdua, ya bilang untuk dua orang. Kami ditawari dua macam pilihan kursi. Yang pertama, model kursi kayak di tempat makan (dining table) atau yang kayak bar mini (tempat duduk dan mejanya tinggi). Kami memilih yang dining table aja, soalnya yang model bar mini, kelihatannya mejanya lebih kecil dan tempat duduk macam itu kurang nyaman untuk makan.

Setelah duduk, waitressnya bawain baki kecil berisi bumbu-bumbu. Ada tiga macam, yaitu garam, merica/lada, dan satunya saya nggak tahu apaan, mirip lada. Tapi nggak tahu tepatnya apaan soalnya nggak nyicipin. Kemudian, lembaran menunya pun datang. Wuiihh..banyak sekali. Dan harganya pun, mahal untuk kantong mahasiswa. Makan di tempat kayak gini, cukup sekali atau dua kali aja dalam setahun. Huehehehe..

Awalnya saya bingung mau pesan apa. Mau nyoba makanan Arab, tapi saya lihat di menunya masakan Arab yang bernasi (baca: ada nasinya) cuman yang ada daging kambingnya, sedangkan saya hanya suka daging kambing kalau dibuat sate aja. Akhirnya pesan Ayam Rica-rica dan nasi (2 porsi) dan Aqua botol (2). Jauh-jauh ke Khaima cuman pesen Ayam Rica-rica. ๐Ÿ˜€

Makanan pun nyampe, karena laper banget, ya udah makan langsung. Di suapan pertama, kok nggak pedes ya. Demikian pikir saya. Apa lidah saya yang lagi aneh? Hehhehe.. Tapi saya nanya dia, dia juga bilang makanannya sama sekali nggak pedas. Tapi bagusnya, Ayam Rica-rica yang dihidangkan sudah tidak bertulang, jadi cuman potongan fillet ayam aja yang dimasak pakai bumbu rica-rica.

Terus, kami pesan satu menu lagi.. Tapi saya lupa nama menunya apaan. Yang jelas makanan Arab, yang kata dia, makanan itu hanya ada di bulan Ramadhan, menemani buka puasa katanya. Di menu kayaknya Feta atau Kefta ya? Saya lupa. Hehhehe..

Kata dia, nama makanan Arab yang kami pesan itu Samosa. Kami pesen tiga biji aja. Pas dateng, ย disajikan di piring persegi panjang. Samosa-nya berbentuk segitiga, dilengkapi sedikit sayuran sebagai hiasan yang bisa juga dimakan -sayurannya yaitu yang biasa untuk salad (selada air, bawang bombay, irisan wortel, dan daun yang saya nggak tahu itu daun apaan), serta dua wadah kecil saus (warna putih dan kemerahan). Sejenis pastel. Isinya daging sapi. Kulitnya crispy banget, tapi dalemnya full, hanya daging. Cara makannya dicocolin ke saus. Saus yang putih, ternyata terbuat dari yogurt dan beberapa rempah yang bikin sausnya khas banget. Terus saus yag satunya lagi -mirip sambal-, tapi nggak pedes, rasanya juga khas. Saya sendiri lebih suka pakai saus yang putih, ย cita rasa Arab-nya jadi terasa banget. Dia pun bilang kalau Samosa yang kami pesan itu sama kok rasanya dengan Samosa yang biasanya dia makan kalau bulan Ramadhan.

Samosa sebenarnya appetizer, alias makanan pembuka, tapi kami makannya malah sebagai makanan penutup. Hihihiii..

Oh iya, sejak kami tiba di Restoran Khaima, ada dua kali pertunjukkan Belly Dance. Ssstt..belly dancernya seksi banget. Makan Samosa, ditemani musik timur tengah, pertunjukkan belly dance, dan para pengunjung yang mayoritas turis asing, serasa tidak sedang berada di Indonesia. ๐Ÿ˜€

Selain suasana, sekarang review toilet. Sewaktu saya ke toiletnya, kesan pertama yaitu bersih banget. Hanya ada dua toilet di toilet perempuan. Perbedaan toilet perempuan dan toilet laki-laki hanya ditandai dengan warna di gagang pintu masuknya. Toilet perempuan, gagang pintunya warna orange kemerahan, sedangkan toilet laki-laki warna biru. Toiletnya memang bersih banget, tapi sayang… di dalam toilet cuman ada tissue, nggak ada selang airnya. Jadilah saya tak jadi pakai toilet. Maklum.. tidak terbiasa seperti bule. Akhirnya nahan aja, hihihii..

Setelah makan selesai dan ingin pulang, kami minta bill-nya. Pasti mahal, itu yang ada di pikiran saya. Pas bill-nya dateng, ya..lumayan mahal juga. 210K untuk dua orang. ๐Ÿ˜€

Waitressnya sempat nanya,

“Gimana mbak masakannya? Suka?”

Saya bilang,

“Masakannya nggak sesuai nih, Ayam Rica-ricanya nggak pedes.”

Waitressnya jawab,

“Wah iya memang begitu, soalnya biar bule-bule juga bisa makan, kalau mau yang pedes harusnya tadi pesen sambel cobek-cobek mbak.”

“Emang ada ya di menu?”, saya bertanya.

Waitressnya menanggapi,

“Iya ada.”

“Hehhee..saya nggak perhatiin tadi. Tapi so far semuanya bagus kok. Terima kasih.” Komentar saya.

“Iya terima kasih. Kami tunggu kunjungan berikutnya”

###

Demikian review Restoran Khaima di Bali. Semoga bermanfaat!.. ๐Ÿ™‚

Dibaca sebanyak: 705 kali.

Shoes Review

Finally, kemarin malam, sepatu (tepatnya sih sandal model sepatu) yang saya pesan dah nyampe. Awalnya saya was-was karena kirimannya harusnya nyampe kamis dan nomor si empunya toko sejak rabu nggak aktif, padahal saya belum minta nomor resinya, soalnya saya percaya-percaya aja. Bingung dan gundah melanda. Huaa..apakah saya ditipu? Ada bisikan setan berkata demikian. Hehhee.. Saya sempat mikir, mungkin orangnya lagi tugas luar kota di tempat yang nggak ada sinyal. Atau mungkin hp-nya hilang. Saya berusaha memikirkan kemungkinan-kemungkinan positif saja. Saya yakin, toko itu bukan penipu, soalnya ngapain juga tipu-tipu cuma untuk duit segitu. Dan ternyata memang sepatunya nyampe. Walaupun sangat telat. Kebiasaan banget JNE Makassar, telatnya parah. Ini dah yang kesekian kalinya berhubungan dengan JNE dan mereka sering telat.

Hmm.. terus shoes reviewnya… Agak kurang puas. Dengan harga segitu, harusnya dah dapat kualitas setara sepatu bermerk menengah, kenyataannya??? Kayak sepatu obral harga sepuluh ribu dapet tiga (emangnya ada??? >>> perumpamaan aja. Hihihii). ๐Ÿ˜€

Dikit review, untuk pertimbangan yang mo pesen sepatu online yang dibuat satuan sesuai ukuran kaki:

Pertama, bahannya tidak sesuai dengan yang saya kira. Bahannya kurang bagus. Memang sinthetic leather, tapi saya ada beberapa tas yang bahannya kulit sintetis, bagus, dan berbeda dengan sinthetic leather yang digunakan untuk bahan dasar pembuatan sepatu ini.

Kedua, keras!… Hahaha.. ya ampun.. keras banget, pakenya kaki jadi sakit, soalnya kaku banget. Sepatunya nggak fleksibel, padahal dengan harga segitu, kita dah bisa dapat sepatu ย yang nyaman (kecuali untuk persoalan ukuran, sepatu-sepatu nyaman itu kebesaran semua untuk kaki saya, hihhihiii).

Ketiga, lemnya agak belepotan dan pressnya nggak rapi. Ukuran solnya juga nggak sama dengan ukuran platformnya, nggak simetris. Hmmm..

Anyway, ya salut lah, yang punya online shop itu dah berani memulai. Tinggal perbaiki kualitas aja. Soalnya yang dicari orang adalah kualitas. Pantas aja saya liat pesanan terakhir dari toko itu, tahun 2010. Mungkin karena orang-orang dah tahu gimana kualitasnya.

Selamat pagi dan selamat beraktivitas!!!!!!! ^_^

Dibaca sebanyak: 544 kali.

Tentang Do’a

Diam-diam saya mencoba merenungi tentang beberapa peristiwa yang cukup menguji kesabaran. Awalnya saya bertanya-tanya sama DIA >>> Kenapa? Sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak usah diajukan karena DIA memiliki hak penuh terhadap keseluruhan hidup kita โ€“manusia-.

Saya pun mencoba mencari-cari sebuah pembenaran tentang mengapa DIA mempertemukan saya dengan orang-orang yang menguji kesabaran. Saya hanya bisa menduga-duga, dan memetik pelajaran dari dugaan itu. Paling tidak, dugaan (hipotesis) saya adalah hipotesis yang mengarah ke hal positif. Saya berusaha untuk terus berpositif thinking padaNYA yang selalu Maha Baik terhadap kehidupan saya.

Saya terdiam, memikirkan semuanya. Saya menemukan sebuah jawaban. Saya tahu (baca: sok tahu). Saya teringat seringkali meminta padaNYA untuk dijadikan seseorang yang sabar, ikhlas, dan senantiasa berada di jalanNYA. Itu lah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya. DIA mempertemukan saya dengan orang-orang yang menguji kesabaran untuk melatih kesabaran saya, keikhlasan saya, dan banyak hal lainnya. Tentunya agar saya semakin introspeksi diri. Saya yang telah meminta, dan DIA telah mengabulkan doโ€™a-doโ€™a itu. ๐Ÿ™‚

Tuhan.. Engkau begitu baik.

Jika saya membandingkan berapa banyak jumlah orang baik dan orang-orang yang menguji kesabaran yang DIA pertemukan pada saya, maka tentu saja jumlah orang baik lebih banyak. Eittss..hmmm.. sebenarnya sih orang-orang yang menguji kesabaran pun adalah orang-orang yang baik. ๐Ÿ™‚ Lalu yang kamu maksud orang yang baik di pihak pertama itu yang mana? Mereka adalah keluarga, teman-teman, kerabat, dan orang-orang yang telah banyak mensupport saya dalam berproses di kehidupan ini. Mereka, dua pihak itu, sama-sama telah meninggalkan kesan dan pelajaran yang berharga, menorehkan warna yang cantik dalam kehidupan saya.

Alhamdulillah..

Dibaca sebanyak: 503 kali.

Baby

Now, 12.44 am. ๐Ÿ™‚

Siang tadi, tanggal 131211, jam 12.30 siang, adik saya melahirkan. Anaknya imut sekaliii.. beratnya 2600gram. ย Kata ibu saya, saya dulu malah lebih kecil dari itu jadi harus masuk inkubator. Wah wah..sekecil apaaaa.. hhehehe..

Terus, panjangnya 46cm. Tanya ibu, 46cm itu pendek apa tinggi. Kata ibu, pendek. terus kutanya lagi, saya dulu panjang badannya berapa Bu? Kamu dulu 50 lebih. Hihihii…tapi tetap aja besarnya pendek. ๐Ÿ˜€

Nemenin orang yang abis melahirkan, harus tahan liat darah. Soalnya saya harus menemani adik saya mengganti pembalut karena darah nifas yang mengalir deras. Saya bukannya nggak kuat liat darah, tepatnya jijik. Huaahaaaahaa..ditambah lagi adik saya cerita kalau rasanya sakiiittttttttttt banget. Dia sampai bilang gini

“Pantes aja di sinetron-sinetron itu kalo adegan orang melahirkan, kayak lebay banget.. soalnya emang rasanya sakit banget, nggak bisa dideskripsikan”

Oh ya, adik saya dan suaminya, dah menyiapkan nama untuk baby-nya. Yaitu…

Andi Fabilia Azzahra

Pas denger awal, kok aneh. itu dari bahasa apaan tuh Fabilia?

Kata ibu saya, debi kasih nama itu ke anaknya karena Fabilia itu singkatan dari nama suaminya dan namanya.. Terus Azzahra-nya, itu dari bahasa arab. Sedangkan Andi adalah gelar untuk bangsawannya suku bugis (ayahnya si baby kan orang bugis).

Hmm..terusss…dari tadi sampai saya meninggalkan rumah sakit, gantian jaga, ibunya baby belum mengeluarkan ASI sama sekali, jadinya si baby kesian…kehausan dan kelaparan.. Syukurlah babynya sering bobo’.. Hehhee…

Nak..jadi anak yang sholehah yaaa… ๐Ÿ™‚

Nak..kalau besar nanti, kamu mau jadi apa?.. Jadi businesswoman aja yah Nak, terus bangun rumah sakit bersalin yang layak dan bagus untuk semua orang yang membutuhkan.

Kataku berbisik pada si baby yang sedang tidur.

Hmm…

NB: mo cerita panjang lebar, tapi capek banget. Hehehe

Dibaca sebanyak: 671 kali.

Modem

Seminggu yang lalu modem saya rusak. Nggak betah banget rasanya kalau nggak bisa connect ke internet, soalnya butuh ngecek email saban hari. Kerjaan juga butuh akses email. Dan itu berarti modem merupakan kebutuhan vital (terkait kerjaan di bidang penerbitan sebagai freelance layouter).

Saya mencoba bertahan dua hari tanpa koneksi internet sama sekali. HP cuma pakai HP jadul, jadi nggak pakai internetan. Bersyukur juga sih HPnya HP jadul, soalnya nggak bakal ada yang niat nyuri. Hhahaa… siapa yang mau nyuri HP butut? Kurang kerjaan!.. Hihihiii.

Setelah dua hari, saya nggak bisa bertahan lagi karena ada beberapa pekerjaan yang harus mulai digarap. Apalagi pekerjaan freelance layouter harus bersaing dengan waktu, harus selesai sebelum jadwal naskah naik cetak. Saya pun bergegas ke MTC (kalau di Jakarta, sejenis sama Roxy IT Trade Center –> bener nggak? Hehehe).

Awalnya saya mau membeli modem yang individual tanpa paket internet dari provider tertentu, soalnya paket internet flash di kartu modem saya masih ada. Tapi…. eh..berubah pikiran. Akhirnya saya membeli modem advan. Modem itu punya dua macam paket internetan, yaitu yang sepaket dengan telkomsel flash 6bulan dan yang sepaket dengan internet XL selama 3 bulan. Saya memilih yang sepaket dengan internet XL selama 3 bulan, selain karena lebih murah (70ribu lebih murah daripada yang sepaket dengan telkomsel dan 50ribu lebih murah daripada modem individual).

Yang ada di pikiran saya ketika itu, saya ingin sekalian ngetest jaringan XL di sekitar tempat tinggal saya. Jaringan telpon XL rada susah, gimana dengan jaringan internetnya? Kalaupun tidak bisa, ya saya nanti tinggal ganti dengan kartu modem saya. Nah..soal ketahanan, hmm..saya kurang tahu, yang jelas, perkiraan saya, minimal modem ini bisa bertahan untuk berjalan dengan baik sesuai fungsinya selama 6 bulan (karena paket internetan untuk yang telkomsel flash itu selama 6 bulan, dan modemnya sama/ sejenis dengan modem yang saya beli ini). Paling tidak modem ini harus selalu ada sampai saya selesai dengan skripsi dan embel-embelnya (perbaikan–>jika ada).

Ketika saya coba di rumah, woww…sinyal XLnya nggak terdeteksi dengan baik, jadi saya ganti dengan kartu flash saya. Dan….woww…cepat!… Heehhe…padahal kalau pakai modem yang lama, kalau kuota dah abis, lelet, sedangkan ini kuota dah abis, tetep cepat. Mungkin lebih kuat nangkap sinyal, daripada modem yang lama.

Hmm…finally.. Modem yang lama disimpan aja. Dipakai nggak bisa, tapi mo dibuang, masih sayang, kasian aja, soalnya dah menemani cukup lama.

Semoga modem yang baru bisa bertahan lebih lama daripada modem yang lama. Amiiien.

Hehhehee ๐Ÿ˜€

Dibaca sebanyak: 488 kali.

Dec-Line

Batas…

Seringkali diperlukan sebagai penanda.

Penanda terpisahnya sesuatu dengan sesuatu yang lain.

 

Batas…

Kadangkala berupa garis tipis.

Atau berupa tembok tebal yang berjarak.

 

Batas…

Desember ini menjadi batas kita.

Untuk setiap do’a dan penantian.

Yang belum mencapai titik.

 

Batas…

Hatimu dibatasi waktu yang semakin menggerogoti usia.

Dan kita yang berbatas…

Berjalan pelan kembali menuju padang yang tak terbatas.

Tanpa bayangan diri satu sama lain.

 

Dan kini kusadari..

Inilah batas….

 

 

Dibaca sebanyak: 397 kali.

Gambling Shoes

Beberapa hari lalu saya nyoba pesan sepatu di salah satu toko sepatu online yang katanya membuat sepatu sesuai ukuran kaki. Sebenernya ada dua toko yang menarik minat saya. Toko A menawarkan design sepatu yang benar-benar sesuai lekuk kaki, jadi kita juga harus mengukur lekuk kaki dan lebar kaki dengan detil untuk tiap bagiannya. Sedangkan toko B, hanya memerlukan ukuran panjang kaki saja. Berhubung saya nggak begitu mengerti dengan metode pengukuran si toko A, walaupun disitu dah dijelaskan (tapi nggak ada videonya, jadi masih bingung), jadinya saya menjatuhkan pilihan pada toko B, walaupun sebenarnya model-model sepatu di toko A lebih bagus daripada yang di toko B.

Akhirnya beberapa hari lalu, setelah mengukur kaki dengan tepat saya pun memesan salah satu model sepatu yang ada di catalog online toko B dan mengirimkan ukuran kaki saya. Ini pertama kalinya saya mencoba membeli sepatu via online. Ukuran kaki kecil semacam kaki saya ini, kalau mau nyari sepatu harus bersama orang yang benar-benar sabar dan kuat keliling-keliling dari toko yang satu ke toko yang lain. Mulai dari toko yang menyediakan sepatu murah, sampai ke toko sepatu ber-merk, amat sangat susah mendapatkan ukuran yang pas. ๐Ÿ˜€

Gambling

Adalah bertaruh untuk sesuatu yang belum pasti. Bersedia membayar untuk sesuatu yang belum pasti. Ada yang bilang apa yang saya lakukan adalah gambling. Benarkah itu gambling?

Saya sendiri kurang tahu pasti, yang jelasnya, saya berani mengambil risiko dengan harapan yang besar bahwa gain yang akan saya dapatkan nantinya sesuai dengan risiko yang saya ambil.

Menurut William Tanuwidjaja, gambling adalah komposisi loss dan gain yang sama besarnya. Jika dikaitkan dengan keputusan saya membeli sepatu, itu berarti, peluang mengalami kerugian sama besarnya dengan peluang mendapatkan keuntungan. Kalau ternyata sepatu yang dibuat hasilnya tidak cocok dengan kaki saya dan tidak bisa dipakai, maka itulah kerugian yang harus saya tanggung. Begitu pula jika ternyata sepatunya cocok, maka kemungkinan besar untuk selanjutnya saya akan tetap berkomunikasi dengan toko B ketika akan membeli sepatu lagi.

Jadi, apakah benar apa yang saya lakukan adalah gambling? Jawabannya, tidak. Apa yang saya lakukan bukanlah gamling.

Why This Is Not Gambling?

Bagi yang kakinya special (kekecilan atau kebesaran), proses hunting mencari sepatu yang cocok butuh usaha ekstra.

Kenapa saya mengatakan bahwa apa yang saya lakukan bukan gambling? Sebab, mengutip dari buku yang ditulis olehWilliam Tanuwidjaja, disebutkan bahwa gambling lebih mengarah pada pencarian keuntungan tanpa usaha dan pengorbanan yang layak.

Tindakan yang saya lakukan dengan mengambil risiko memesan sepatu online yang belum tentu cocok ukurannya, bukanlah gambling, sebab di dalamnya ada pengorbanan yang layak berupa: proses pengukuran kaki (emang mengukur kaki termasuk pengorbanan yah? Hehehe..), biaya lebih yang harus dikeluarkan (karena ada ongkos kirim dan biaya administrasi pengiriman karena beda bank dengan si penjual), dan pengorbanan waktu untuk menunggu selama dua mingguan (yang ini termasuk pengorbanan nggak ya? Soalnya nggak ditunggu-tunggu amat kayak nunggu saat antri beli tiket nonton). Yang jelas intinya ada pengorbanan yang layak, sehingga tindakan tersebut bukanlah gambling.

Lalu bagaimana dengan proses mencari sepatu dengan cara konvensional? Itu juga bukan gambling. Usaha mencari sepatu yang cocok dari satu toko ke toko lainnya, justru pengorbanannya kadang lebih besar karena tidak cukup waktu sehari untuk hunting dari toko yang satu ke toko lainnya, belum lagi saat bertemu penjaga toko yang tidak ramah dan tidak sabaran, cost yang harus dikorbankan ketika berkeliling hunting sepatu (transportasi, bayar parkir, etc).

Intinya beli sepatu (untuk ukuran kaki special) via online maupun dengan cara konvensional, dua-duanya sama-sama bukan gambling karena ada pengorbanan yang dilakukan untuk sebuah risiko yang telah dipilih.

So, how about you? ๐Ÿ™‚

Makassar, 2 Desember 2011. 20.24 WITA

NB:

Terinspirasi nulis ini setelah nulis status FB:

โ€œNyoba pesan sepatu online yang dibuat sesuai dengan ukuran panjang kaki si pemesan. Agak gambling sih..soalnya belum tentu cocok. Sama gamblingnya dengan mengunjungi semua toko sepatu yang ada di Makassar dan belum tentu cocok juga. :Dโ€

Abis nulis status itu, jadi mikir-mikir sendiri, benarkah itu gambling? Dan lahirlah tulisan di atas. ๐Ÿ˜€

Tulisan ini juga diposting di Ekonom Gila.

Dibaca sebanyak: 673 kali.

Koleris, Sanguin, Plegmatis, atau Melankolis?

Kemaren saya chat sama seseorang yang ternyata tinggal di Kulon Progo juga (kulon-nya Kali Progo maksudnya). Bahas banyak topik, dari soal kerjaan sampai ke psikologi. Tiba-tiba dia bilang

“Kamu nih kayaknya orangnya Sanguin ya?”

“Sanguin? Sanguin itu bau yang nggak enak kan ya? (baca: sangit) :))”, kataku.

“Yee..Sanguin.. itu temennya koleris, plegmatis, dan melankolis, check di google deh”

“Iya tau kok. Tapi masa’ sih aku sanguin?”, kataku nggak percaya.

“Iya lah kamu tuh sanguin. Mudah bergaul, itu cirinya orang sanguin”

“Ah masa’ sih? Aku nggak begitu percaya dengan hal-hal seperti itu. Sanguin, koleris, plegmatis, dan melankolis itu kan cuma tools aja. Semacam pendekatan yang digunakan dalam psikologi”, bantahku.

“Nah..kamu koleris deh kayaknya. Hahahhaa”

“Hahhaha..kok bisa? Koleris itu berarti keras kan? Masa’ sih aku koleris? Kamu menyimpulkan darimana?”, sedikit mendebatnya.

“Koleris itu nggak mudah percaya. Orang yang koleris itu, semakin ditekan dan didesak maka akan semakin melawan. Kamu sadar nggak sih, sikap ketidakpercayaanmu tadi itu menandakan kalau kamu koleris? Hahha”

“Hhahaa..mungkin kebetulan aja. Indikatornya pasti banyaklah, nggak cuma satu itu aja”, masih tak percaya.

“Nah kan..ngeyel lagi. Itu tuh dah cirinya kamu koleris.”

Abis nulis note, pas hujan turun. ๐Ÿ™‚

Makassar, 3 Desember 2011. 13.11 WITA

Dibaca sebanyak: 401 kali.