Monthly Archives: January 2012

Bim, Aku Rindu

“Bim… aku rindu…”

Bima menoleh ke arahku. Ini mungkin malam terakhir kami berbincang tentang filsuf dan dunia para sufi. Sebuah topik yang sangat membosankan bila kau perbincangkan dengan seseorang yang tak menarik hatimu.

Kami berbaring di rerumputan, menikmati atmosfer di bawah kolong langit. Mungkin ini yang terakhir kalinya aku bertemu dengan Bima.

“Apakah kita akan bertemu lagi?” tanyaku menatapnya lekat-lekat.

“Tentu saja . . .” Ia terdiam, menghela nafas.

“Paling tidak, kita akan berjumpa di alam malakut. Maukah kau menemuiku di alam itu?”, Ia melanjutkan kata-katanya.

Hening.

“Bukankah setiap saat kita berjumpa di alam malakut?” Jawabku tersenyum.

Bima membalas senyum.

Titik-titik air yang jatuh dari langit, terasa dingin membasahi pipiku. Rumput mulai basah, dan kami masih tetap berbaring menadahkan tubuh pada butir-butir air yang menghujam.

Aku menengok sekali lagi. Bima tak ada.

Langit tampak cerah. Tak ada hujan yang pernah membuat kami basah kuyup sampai masuk angin dan tak datang kuliah sampai berhari-hari.

Aku bangkit dari tempat ini, berdiri menantang langit, mencari-cari sesuatu di atas sana.

Tapi semuanya nampak kosong, tanpa bentuk apapun.

Dibaca sebanyak: 535 kali.

Liqa

Dulu, saya kira definisi liqa adalah tarbiyah, atau pertemuan kajian-kajian keagamaan gitu. Hihihihi.. dari dulu ikut liqa, tapi nggak tahu makna katanya.

Arti kata liqa saya temukan di salah satu buku yang ditulis oleh Kang Jalal. Sebuah buku yang berjudul Meraih Cinta Ilahi. Saya baru membacanya sedikit, bukunya cukup tebal, dan perlu dimaknai mendalam agar meaningnya melekat.

Ketika saah seorang teman saya mengetahui saya sering membaca buku-bukunya Kang Jalal, dia langsung berargumen “Kang Jalal kan syi’ah”.

Saya pun menjawab, “Lalu kenapa kalo syi’ah? Syi’ah dan sunni kan sama-sama Islam”.

Dia hanya nyengir kuda. Hehehhee..

Bagi saya, syi’ah dan sunni, sama-sama Islam. NU atau Muhammadiyah, juga sama-sama Islam. Secara tauhid, kita semua sama, hanya fiqih yang bikin kita berbeda. Tapi intinya kita semua bergerak secara fitrawi kepadaNYA… Yang Maha Suci dan tidak dapat kita bayangkan kesucianNYA.

Oke, back to liqa.

Dalam buku ini, disebutkan bahwa menurut Al Ghazali, ornag yang jatuh cinta kepada Allah itu ada 2 macam.

Pertama, orang yang jatuh cinta setelah merasakan lezatnya pertemuan (liqa) denganNYA. Mereka adalah orang-orang yang kuat (al-aqwiya), yang kecintaannya kepada Allah tidak tergoyahkan.

Kedua, orang yang disebut al-dhu’afa (orang-orang yang lemah). Yaitu orang-orang yang berusaha setengah mati untuk belajar mencintai Dia. Cinta seperti ini direkayasa. Ia tidak jatuh cinta; tetapi ia belajar mencintai. Inilah yang kebanyakan kita alami.

🙂 waaahh..ternyata saya ini termasuk al-dhu’afa cinta Allah. Saya masih belajar mencintai Allah SWT.

Yuuukk…sama-sama belajar mencintai Allah… 🙂

Semangat pagi!…. ^_^

NB: baru ingat kalau sudah dua bulan tidak ikut liqa mingguan… huhu..

Dibaca sebanyak: 413 kali.

Keywords

  • liqa

Duplicate

Mereka -para pemimpin sejati- adalah mereka yang mampu membuat duplikasi diri mereka di lingkungannya.

Adalah mereka yang mampu membuat orang lain antusias untuk berkata “saya ingin seperti dia”.

Saya mengamati bahwa ia -7 Februari-, sepertinya memang calon pemimpin sejati. Orisinalitas yang ia miliki, mendorong orang-orang terpukau padanya, lalu tercetus kata-kata “saya ingin seperti dia”.

Semangat pagi!!!!!!!!!!!!!!!!! ^_^

 

Dibaca sebanyak: 341 kali.

Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Sosial

Ilmu pengetahuan selayaknya ditebarkan di muka bumi..

Selayaknya memberi pencerahan dan kemanfaatan yang berarti.

Kemarin saya benar-benar merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi seseorang yang tidak punya ilmu dan meminta bantuan pada dia yang katanya bisa.

Saya tahu rasanya gimana, baru kali kemarin.

Iseng saya bertanya pada teman-teman

“Bagaimana bentuk tanggung jawab sosial seseorang yang berilmu?”

Semuanya menjawab senada..

Memberi tahu pada yang tidak tahu, mengajarkan ilmu kepada yang lain, dan menyebarkan ilmunya seluas-luasnya.

Itu kan secara teori.

Faktanya? Nggak banyak yang pelit pada ilmunya. Mungkin dulu (waktu jaman SMA) saya termasuk kategori ini. Saya nggak mau orang lain tahu bagaimana cara menjawab suatu pertanyaan yang saya bisa. Saya nggak mau tersaingi, padahal ketika itu bukanlah ujian.

Dan hari ini, saya berada di posisi terbalik. Saya berada di posisi teman-teman saya yang dulu selalu bertanya pada saya tapi saya pelit memberi tahu. Dan rasanya? Jangan ditanya.. Sangat amat tidak enak. Hahahahahaa..

Saya sedang ditampar balik oleh realitas, yang membuat saya menarik satu pelajaran berharga..

“Tidaklah mungkin sama antara orang berilmu dan orang yang tidak berilmu”

Tugas seseorang yang berilmu sepatutnya menyebarkan dan mengajarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

 

Renungan pagi yang bikin kening kerut-kerutan.. hahaha..

Semangat pagi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Dibaca sebanyak: 423 kali.

10.000 Jam

Ini postingan kesekian diantara ratusan atau bahkan ribuan dan jutaan (?) postingan tentang 10.000 jam yang bisa ditemukan di google. Searching sendiri deh.. hihihi.

Saya nulis ini untuk mengingatkan diri saya kembali. Mau jadi apa ya saya ini? Dulu sih maunya jadi ekonom, tapi kenapa ya saya jadi jenuh gini? Untuk jadi ekonom, berarti (?) saya harus berkutat dengan teori, realita, dan solusi perekonomian selama 10.000 jam (?). Woww..wow..woww.. kuliah yang hanya 2 jam saja, sudah membuat saya jenuh, apalagi 10.000 jam (?).

Mo jadi Public Relation? Tapi basic ilmu saya, economics??? Berarti starting poin dari awal?

Mo jadi penulis? Menulis dan membaca kan memang dua keahlian yang HARUS dimiliki oleh manusia modern. Emang kamu manusia modern, Dyah?

Nulis? Oke lah kalo nulis. Tapi harus fokus donk!… Masa’ nulis uneg-uneg aja (?) Masa’ nulis yang galau-galau aja (?) Emang mo jadi penulis galau (ya?)

Maunya siiiii…someday bisa nulis buku tentang economics.. Tapi kok rajinnya malah nulis fiksi (?)

Jadi businesswoman? Wow wow woww.. mungkin perlu dipertimbangkan.

Gimana dengan layouter? Become professional layouter? Bisa bisa… Tapi (tapi apa lagi?)… Bikin mata lelah di depan komputer (alasan aja!)..

Lalu?

Mo jadi apa?…

REDEFINISI.. REORIENTASI..

Kenapa jadi galau gini (ya?)

=))

Semoga yang baca nggak ikutan (galau?)

 

Selamat hari libur!… I luv monday!.. 😀

 

 

Dibaca sebanyak: 408 kali.

Quote Today

“Banyak peristiwa seringkali menampar kesadaran kita, tapi hanya beberapa yang benar-benar memaksa kita untuk menampar balik realitas yang ada (baca: move on!)”DR.88

Dibaca sebanyak: 251 kali.

Mengetik Cepatkah Kamu?

Tadi abis nengokin blognya kak jawadi… postingan terbarunya itu tentang test kecepatan mengetik. Kecepatan mengetik kak jarwadi itu 70 kata per menit. Bagaimana dengan saya?

Karena penasaran.. akhirnya saya juga mencobanya.

Dan hasilnya… huahhahahaa…lambat!..

Hasilnya cuma 56 kata per menit dengan 1 kata yang salah ketik. Lalu nyoba kedua kali, hasilnya 59 kata per menit dengan 0 kata yang salah ketik.

Ini dia hasilnya…

Bagaimana dengan kamu? Kunjungi tes mengetik di sini yaaa…

😀

Dibaca sebanyak: 402 kali.

Amanina Afiqah Ibrahim

Dua minggu yang lalu Kak Ibhe heboh di facebook, nanyain orang-orang

“Siapa sih nama bintang iklannya oreo yang baru?”

Huahahaha…rupanya Kak Ibhe terpesona pada anak kecil yang imut itu. Duuh…emang lucu banget. Ehh..nggak lama beberapa hari kemudian, foto si anak itu jadi profil pict.nya Kak Ibhe. Hihihiii…

Ternyata nama anak itu adalah Amanina Afiqah Ibrahim.

Lucu banget.. yang di iklan bebestar nggak terlalu perhatiin, tapi yang di iklan oreo, anak itu nampak lebih bersinar. Entah karena iklan bebestar yang hanya diperhatikan ibu-ibu yang masih punya anak yang minum susu saja? Dan iklan oreo yang lebih dapat dinikmati oleh kalangan yang lebih luas? Mungkin saja.. Yang jelasnya setelah iklan oreo baru itu, nama Amanina Afiqah Ibrahim semakin melejit.

Nggak sedikit yang terpesona dan takjub dengan kelucuan dan kepolosan si anak (termasuk yang punya blog ini. hihihihi :D)

Kalo kita bicara dari segi etika bisnis, etis nggak sih pake iklan anak kecil untuk melariskan produk? Sepertinya etis-etis saja, yang penting si anak tidak dalam keadaan merasa terpaksa atau tertindas (wuuiiihh…hehehe).

Lalu? Kenapa nama si bintang iklan nampak lebih cemerlang setelah iklan biskuit ketimbang iklan pertamanya (iklan susu)?

Jawabannya mungkin seperi dugaan saya tadi. Karena produk biskuit yang satu itu disukai semua kalangan dan mengenai semua kalangan. Sedangkan produk susu balita, hanya melibatkan konsumen tertentu saja, belum lagi ditambah iklan-iklan susu pesaing lainnya. Beda dengan iklan si biskuit yang memang punya tempat tersendiri di hati konsumen segala kalangan usia.

Hahaha…stop!.. Nggak usah dianggap serius. 😀 tulisan ini cuman analisa pake base teori konspirasi (wew?….). hihihihii..

Amanina Afiqah Ibrahim… gemes deh sama kamu!.. ^_^

*semua gambar diunduh dari google. 😀

Dibaca sebanyak: 678 kali.

Love You

Picked from bookoopedia.com

“Dimanapun kakiku berpijak, disitulah kebahagiaanku terletak.” – Vidi Yulius Sunandar.

Itulah sebuah kutipan dari sampul awal buku Love You, sebuah buku terbitan tahun 2010 yang ditulis oleh Vidi Yulius Sunandar. Buku yang memuat 24 kisah penuh hikmah di dalamnya ini, terdiri dari 3 bab yang bertajuk Happy, Happier, dan Happiest. Ketiganya disusun menjadi HaHaHa. Penulisnya berharap, semoga pembacanya bisa HaHaHa setelah membaca buku ini.

Dan kenyataannya, setelah selesai membaca buku ini, memang terasa HaHaHa.. 😀

Maksudnyaa??? Hehehehe… Buku ini sangat menarik. Dari gaya menulisnya, kita tahu bahwa yang menulis masih muda, dan memang masih muda. Penulisnya hanya berusia 2 tahun di atas usia saya. Masih muda kan? Tapi bukan berarti cara nulisnya alay ya.. Nggak sama sekali. Tulisannya tetap mengikuti kaidah-kaidah penulisan yang baik, namun dari cara bertuturnya kita sebagai pembaca pasti tahu bahwa yang menulis adalah seorang pemuda yang punya semangat berbagi yang tinggi.

Buku ini diawali dengan tulisan awal yang berjudul Rumah Baru, Rumah Lama. Sebuah kisah yang mengandung pelajaran bahwa kadangkala kita tidak mau meninggalka “rumah lama” kita, padahal “rumah baru” sudah siap menanti. “Rumah lama” merupakan kiasan untuk kenangan-kenangan masa lalu, sedangkan “rumah baru” adalah kondisi nyata yang harusnya kita hadapi hari ini dan di masa yang akan datang. Dalam bukunya, Vidi menuliskan bahwa “rumah lama” adalah pengalaman-pengalaman masa lalu yang tak menyenangkan, sedangkan “rumah baru” adalah tujuan atau harapan kita.

“Rumah baru” dan “rumah lama” selalu ada dalam kehidupan kita. Kita tidak perlu melupakan “rumah lama”, cukup tinggalkan saja dan nikmati hidup di “rumah baru”. Sesekali kita masih dapat menengoknya (rumah lama) untuk sekedar melihat-lihat.

Kebanyakan orang berusaha membakar “rumah lama”nya sebelum pergi ke “rumah baru”, padahal hal itu sebenarnya tidak perlu dilakukan. Sebab lama kelamaan “rumah lama” akan terlupakan dengan sendirinya ketika kita asik dengan “rumah baru”.

Yang membuat buku ini berbeda (baca: unik), sebab setelah setiap kisah diuraikan, ada kutipan dari tokoh terkenal yang berfungsi menguatkan value yang ingin disampaikan. Contohnya, kutipan ini merupakan kutipan Paulo Coelho, terletak di akhir cerita Rumah Baru, Rumah Lama.

“Jika Anda memiliki keberanian untuk berkata ‘good bye’, hidup akan menyapa Anda dengan sebuah ‘hello’ yang baru.” – Paulo Coelho.

Ingin tahu lebih lanjut? Silakan baca bukunya. Banyak kisah menarik dan pelajaran berharga di dalamnya. Meskipun saya sendiri, secara pribadi, ada satu dua kisah yang kurang saya setujui valuenya. It’s okay. 🙂 manusia nggak perlu keseragaman cara berpikir, sebab jika demikian, dunia akan terasa membosankan dan segala sesuatunya mudah tertebak. 😀

Oh ya, bagi yang dah baca Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, mungkin akan merasa buku ini agak mirip. Sebenarnya nggak mirip, tapi mungkin terkesan mirip soalnya karakter penulisan si penulis memang sangat dipengaruhi oleh tulisan yang sering ia baca (tulisan-tulisan Ajahn Brahm, penulis Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya).

Di akhir buku ini, penulis menutupnya dengan sebuah pelajaran bahwa perubahan datang seketika.

Lalu? Gimana dengan judul bukunya Love You? Kok judulnya Love You? Saya menyimpulkan penulis buku ini menggunakan judul Love You sebab judul itu yang paling sesuai dengan tujuannya menulis buku ini, salah satunya yaitu menyebarkan nilai-nilai kebajikan.

Semoga review bukunya bermanfaat!… 😉

Love You…

Dibaca sebanyak: 7887 kali.

Keywords

  • hikmah go green pestcontrol
  • vidi yulius sunandar love you

11 Januari dan Aulia Rachman

11 Januari kemarin, sekitar jam setengah 9 malam, saya bertemu (janjian ketemu) dengan Kak Aulia (salah satu pencetus Ekonom Gila). Kira-kira setahun sebelumnya (7 Februari 2010) saya ketemu sama Kak Yoga (pencetus Ekonom Gila yang ngajakin saya join di Ekonom Gila).

Oke, jika setelah bertemu Kak Yoga, saya terngiang-ngiang kata-katanya yang bilang

“Emang kalo mati, mau dikenal sebagai apa?”

Lalu, setelah bertemu Kak Aulia, kata-kata apanya yang paling membekas?

Sebagai catatan aja, kata-kata Kak Yoga sekitar setahun yang lalu itu benar-benar menampar kesadaran saya. Saya yang dulunya suka banget tuh nulis yang galau-galau (emang sekarang udah nggak??? hahaha.. masiihhh.. cuman dah berkurang dikit), jadi berubah.

Ngerasa dikit tersinggung aja waktu Kak Yoga bilang “saya salut loh kamu bisa nulis kayak gitu, saya sendiri jujur nggak bisa”.

Tapi ketersinggungan itulah yang membawa perubahan besar yang saya rasakan.

Lalu gimana dengan Kak Aulia?

Semalam (11 Februari), Kak Aulia bilang:

“Orang nulis di EG, value-nya macem-macem, dan beda-beda antara yang satu dengan yang lain. Mungkin aja value kita juga beda. Value kamu apa?”

“Aku? Maksudnya kenapa aku nulis di EG?”

“Iya. Kenapa?”

“Mmm..untuk berbagi aja. Sekalian nambah ilmu juga dari tulisan anak-anak EG yang lain. Emang mas aul apa?

“Kalo aku ya, maaf nih, mungkin aku egois. Aku nulis di EG, karena aku pengen mind set masyarakat berubah. Aku pengen semua orang ngerti atau paling nggak, punya konstruk dasar ilmu ekonomi di kepalanya. Konstruk dasar agar mereka, misalnya sebagai konsumen, mereka tahu kenapa mereka belanja, dan kenapa mereka memilih suatu merk tertentu. Apakah karena mereka butuh atau karena mengalir aja ngikutin arus. Aku percaya, kalau semua orang punya konstruk ilmu ekonomi yang benar di kepala mereka, perekonomian akan berjalan seperti yang kita semua harapkan.”

Saya cuman bisa mengangguk-angguk dan bengong.

Justru ternyata saya yang masih egois, saya yang masih pragmatis. Kok? Liat aja dari jawaban saya terhadap pertanyaan Kak Aulia. Saya masih melandaskan kepentingan pribadi ketika melakukan sesuatu. Beda dengan Kak Aulia dan Kak Yoga yang punya visi yang sangat besar untuk Indonesia. That’s why Ekonom Gila bisa tetep eksis dan menjaring banyak orang..

Setiap orang baru yang kita temui adalah guru. Kita dapat belajar banyak darinya. Dan semoga suatu hari saya bisa benar-benar menempatkan ego saya dengan tepat untuk dapat memberi hal yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya dan untuk Indonesia secara umum.

Ayo berproses menjadi pribadi yang lebih baik!!!! ^_^

Dibaca sebanyak: 765 kali.

« Older Entries