Monthly Archives: February 2012

Sebelum Kita Lahir

Saat orangtua bercerita tentang diri kita di masa lalu, ketika mendengarnya, kita seperti tak percaya bahwa kita sudah berada di tahap usia yang jauh berbeda dengan tahap usia yang diceritakan oleh orangtua kita.

Pernah nggak kepikiran? Kalau ayah kalian tidak bertemu ibu kalian, mungkin nggak kalian lahir? Hehhee… Atau mungkinkah wajah kalian akan seperti sekarang ini?

Pernah nggak kepikiran? Ketika kedua orangtua kalian bertemu lalu jatuh hati dan menjalani sebuah hubungan pernikahan, mereka kerap kali berbincang kira-kira bentuk kalian akan seperti apa, apakah kalian lelaki atau perempuan, apakah wajah kalian akan mewarisi bentuk wajah salah satu dari mereka, apakah kalian nanti akan suka bermain bola atau boneka?

Hmm.. tiba-tiba aja teringat ayat ini. Salah satu ayat di surat Al Insaan.

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” – QS.76:31

Subhanallah… Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Qur’an untuk memberi kita semua pelajaran.

See… hal sekecil ini pun ada di dalam Al Qur’an.

Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan?

Alhamdulillah ya Allah.. semoga kami bisa terus mempelajari Al Qur’an dan memahami maknanya dengan baik dan benar.

Dibaca sebanyak: 419 kali.

Masa Depan Anak-anak Indonesia

Media, menurut saya hari ini merupakan pemegang kunci utama untuk masa depan anak-anak Indonesia. Sekuat apapun kedua orangtua menjaga dan menanamkan nilai, tapi jika media menawarkan (baca: mencekoki) asupan-asupan yang nilainya bertentangan, ditambah lingkungan yang juga sama nilainya dengan nilai yang ditawarkan media, maka jangan heran anak-anak kita menjadikan media sebagai panutan.

Sedih dan miris. Masa depan anak-anak Indonesia di masa depan ditentukan oleh apa yang diserapnya hari ini. Jika hari ini saja mereka mengonsumsi hal yang sama dikonsumsi oleh orang dewasa,  bahkan parahnya mereka belum punya filter yang memadai, akan jadi seperti apa mereka di masa yang akan datang? Sungguh… kiamat memang hanya Tuhan yang tahu waktunya kapan, tapi perbuatan manusia juga turut memberi kontribusi akan hal itu (baca: kerusakan di muka bumi).

Saya bisa apa?

Untuk saat ini cuma bisa kontak media untuk menawarkan usul agar mereka menayangkan progam khusus untuk anak-anak, bukan program anak-anak dengan menu dewasa. Masih nunggu responnya akan seperti apa.

Tuhan.. lindungi anak-anak Indonesia….

Dibaca sebanyak: 343 kali.

Aku dan FLP: Nama-nama dalam Ingatan Mewujud Rupa di Depan Mata

FLP…disinilah, ketika satu per satu nama dalam ingatan mewujud rupa di depan mata”

2003-2006: Menulis Nama FLP dalam Ingatan

FLP. Satu nama yang punya cerita tersendiri dalam kehidupan saya. Saya pertama kali mengenal nama FLP dari Majalah Annida yang sering saya beli ketika masa-masa SMA, sekitar akhir tahun 2003 dari perpustakaan masjid di desa tempat saya tinggal. Ketika itu, saya belum tahu FLP itu komunitas semacam apa, yang saya tahu, tulisan-tulisan yang saya baca di Annida adalah hasil karya orang-orang FLP. Semua punya kesamaan karakter umum meski masing-masing tetap punya ciri. Saya mengenal nama Boim Lebon dari Annida. Saya suka sekali membaca cerita berseri yang ditulis oleh Bang Boim di Annida, bahkan sampai hari ini saya masih sangat suka dengan tulisan-tulisan Bang Boim.

Annida juga membuat saya mengenal nama Helvy Tiana Rosa, yang di kemudian hari saya ketahui bahwa Mbak Helvy adalah salah satu pendiri FLP.

Ada cerita unik tentang saya dan nama Helvy Tiana Rosa. Ketika itu di tahun 2005, saat kelas ekstrakurikuler Bahasa Inggris, pembahasan topik speakinghari itu adalah “Who is Your Favourite Writer?”.

Saat guru saya tiba-tiba bertanya pada saya, “Dyah, who’s your favourite writer?”. OMG… saya bingung. Kebiasaan buruk saya ketika itu (mungkin masih juga sampai hari ini) adalah lupa. Saya suka sama sebuah cerpen atau novel, tapi saya sangat jarang mementingkan siapa nama pengarangnya (kecuali Boim Lebon). Akhirnya saya menjawab “Boim Lebon, miss”. Lalu guru saya nanya lagi “Who else?”. Saya jadi stuck. Dan di kepala saya saat itu cuma ada nama Helvy Tiana Rosa karena saya baru saja membaca majalah Annida beberapa menit sebelum masuk kelas. Akhirnya saya jawab “Helvy Tiana Rosa, miss”. Guru saya bertanya siapa Helvy Tiana Rosa dan kenapa saya suka dengan beliau. Saya jadi bingung lagi. Soalnya saya sama sekali belum pernah baca tulisannya Mbak Helvy!… Saya hanya tahu bahwa beliau sedang naik daun ketika itu. Dan dengan agak terbata-bata saya menjawab “Because she is very popular writer”. Lalu amanlah saya dari “serangan” pertanyaan guru saya. Hihihii… benar-benar lega. Saya langsung cekikikan sama teman sebangku saya dan bilang “Padahal aku juga nggak tahu Helvy Tiana Rosa itu tulisannya yang gimana”.

Pengalaman tidak sengaja “berkenalan” dengan nama-nama orang FLP berlanjut lagi saat teman saya datang ke rumah.

“Dyah, kamu mau kado apa untuk ultahmu?”

“Ha? Serius?”

“Iya serius, tapi jangan mahal-mahal ya. Hihihi”

Wait. Tunggu ya”

Saya mengambil Majalah Annida dari kamar. Membuka sebuah halaman berisi buku-buku terbitan terbaru.

“Aku pengen banget punya bukunya Boim Lebon. Cuman adanya di toko buku di Jogja kota, disini mana ada.. Hehehe” saya mengungkapkannya pada Widya.

“Yang mana?”

“Yang ini. Yang judulnya Don’t Worry be Happy” kata saya seraya menunjukkan gambar buku yang saya maksud.

“Kok kayaknya bukunya buku lucu ya?”

“Iya!… Emang!.. Itu kumpulan cerita lucunya Bang Boim, makanya aku penasaran banget Wid. Hehehe..”

“Oke, nanti aku cariin”

“Wah..makasih banyak ya”

Dan seminggu kemudian buku itu jadi kado ultah terindah buat saya. Sayang..buku itu sekarang sudah hilang karena dipinjam teman dan ia lupa buku itu berada dimana. Hikss..

Tapi saya bersyukur karena buku yang sering hilir mudik kesana kemari itu juga jadi membuat teman-teman saya suka dengan tulisan-tulisan orang-orang FLP. Tulisan-tulisan penuh hikmah dan nilai. Dan itu juga yang mendorong beberapa teman saya memberikan kado buku kumcer yang ditulis oleh orang-orang FLP di hari kelulusan SMA. Salah satu bukunya yaitu My Love yang membuat saya mengenal dan akhirnya ngefans juga sama Koko Nata. Kumcer yang satunya, saya lupa judulnya apa, tapi saya mengenal nama Izzatul Jannah dari kumcer yang satunya itu.

2010: “Berjabat tangan” dengan FLP

Lulus SMA, saya meninggalkan Jogja. Saya kembali ke tanah kelahiran saya –Makassar-. Datang kembali untuk berkumpul lagi dengan ayah, ibu, dan saudara-saudara, juga untuk melanjutkan kuliah di kampus merah. Saat masa-masa mahasiswa baru, saya berkenalan dan dekat dengan seorang teman angkatan sejurusan bernama Vira. Vira ternyata juga hobi baca Annida dan tahu FLP. Kami memiliki minat yang sama di bidang tulis menulis, selain beberapa kesamaan di hal-hal lain.

Selama masa-masa kuliah, saya masih ingat dengan FLP, tapi banyak hal lain yang lebih menarik minat saya, beberapa diantaranya yaitu organisasi intra dan ekstra. Saya tetap tertarik dengan kegiatan tulis-menulis. Saya pun mengikuti diklat-diklat penulisan dan jurnalistik yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi di kampus. Saya semakin jatuh suka dengan dunia tulis-menulis. Dan dari diklat-diklat yang saya ikuti, saya mengenal nama Yanuardi Syukur sebagai pemateri di salah satu diklat yang saya ikuti, yang ketika saya bergabung di FLP, baru saya ketahui bahwa beliau adalah Ketua FLP Sulsel periode 2004-2006.

Dan cerita kelanjutan tentang FLP dimulai di suatu sore. Ketika itu saya datang ke kampus hanya untuk berkunjung ke himpunan. Iseng-iseng saya melihat-lihat dan membaca papan pengumuman di koridor fakultas. Di situ saya melihat sebuah pamflet besar bertuliskan sebuah kegiatan Training of Recruitment (TOR) sebuah organisasi. Dan nama yang membuat saya tercengang adalah ketika membaca kata “FLP Sulsel” di pamflet itu. Buru-buru saya mengambil HP dan menelpon Vira yang sudah pindah kuliah di Universitas lain yang juga masih di Makassar.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam.. Wuy..kenapa Jeng?”

“Tahu tidak? Ada berita mendebarkan”

“Apa itu?”

“Ada kegiatan TOR FLP Sulsel!… Ternyata FLP ada di sini!…” teriak saya bersemangat.

“Haa?!?… Serius??? Kapan? Kapan? Kapan? Aaarrghh..mau ikut!… Harus ikut!..”

“Iyya!!! Harus ikut!… Ya ampun.. nama ini sudah lama sekali, tapi baru ketemu lagi sekarang. Besok kita daftar ya..”

“Oke!… Telpon lagi besok ya kalo mau berangkat daftar.”

Hari itu rasanya sangat bahagia. Bertemu kembali dengan nama  FLP membuat jantung saya berdegup kencang dan bahagia, seperti perasaan saat bertemu seseorang yang spesial di hati. Benar-benar sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Di malam sebelum niat mendaftar direalisasikan, saya janjian sama Vira untuk sama-sama mendaftar di Sekretariat FLP keesokan paginya. Kami sudah yakin dan benar-benar mantap.

Keesokan harinya kami bersama-sama ke Sekretariat FLP, kami mengetahui alamatnya dari pamflet TOR yang saya baca. Saat itu, kami sudah berada di depan sebuah rumah yang membuat kami agak ragu –apa betul rumah ini Sekretariat FLP?-, sebab yang kami tahu, kawasan yang kami masuki adalah kos-kosan. Dan rumah yang berada di depan kami itu tampaknya seperti kos-an cowok!.. Hahaha.. lama juga berdiri di depan rumah itu dan memberanikan ke depan pintunya. Ada orang di depan pintu dan kami bertanya apa benar rumah itu adalah Sekretariat FLP? Dan ternyata memang benar. Kami pun dipersilakan masuk. Dan fakta kedua lainnya, juga benar bahwa rumah itu adalah kos-an cowok. Untung saja kami datangnya berdua. Hehehe…

Di Sekretariat FLP, kami disambut oleh seseorang bernama Sultan Sulaiman, yang lama setelah ngobrol baru kami tahu bahwa beliau adalah Ketua FLP Sulsel ketika itu. Hujan membuat kami beku dan tetap tinggal di Sekretariat FLP. Kami harus menunggu formulir perndaftaran yang harus diisi dan orang yang membawa formulir juga masih di jalan karena terjebak hujan dan macet. Tapi kebekuan hanya di awal karena kami akhirnya berbincang panjang lebar tentang FLP. Saat itu Kak Sultan Sulaiman berkata bahwa di Februari 2011 akan ada acara besar FLP dan di acara itu semua anggota-anggota FLP akan hadir, termasuk Helvy Tiana Rosa, Izzatul Jannah, Kang Abik, dan penulis-penulis terkenal lainnya. Saya dan Vira cuma bisa tercengang dan berkata “Wah…mau ikut acara itu…..”. Saya dan Vira memiliki beberapa kesamaan tentang cara berpikir, mimpi, dan perasaan dalam merespon sesuatu. Dan tentang acara FLP di tahun 2011 yang dikemukakan Kak Sultan, kami punya respon yang sama: Harus bisa ikut acara itu!

Hujan pun reda. Seorang perempuan berjilbab datang mengucapkan salam. Spontan kami menjawab dan obrolan terhenti. Rupanya perempuan itu datang basah-basah membawakan kami formulir -yang sebenarnya formulir itu bisa diambil di kampus masing-masing-. Hehehehe.. Kamipun berkenalan satu sama lain. Namanya Nendenk. Seseorang yang belakangan saya ketahui tulisan-tulisannya mampu membuat hatimu basah.

Obrolan panjang dengan Kak Sultan Sulaiman dan Nendenk membuat saya belajar, tepatnya mempelajari karakter orang-orang FLP secara riil. Dan pelajaran itu terus berlangsung ketika ikut TOR FLP Sulsel. Saya semakin kenal dan semakin paham tentang bagaimana FLP itu. Jika di jaman-jaman SMA, saya hanya mengenal FLP melalui nama-nya yang selalu hadir di Annida, maka di tahun 2010 itu saya mulai belajar mengenal FLP lebih dari sekedar nama.

Nama Izzatul Jannah yang dulu saya kenal sewaktu SMA, hadir di depan mata saya sewaktu TOR. Saya melihat beliau langsung dan masih seperti tidak percaya ketika itu. Nama yang hanya ada dalam ingatan, satu per satu mewujud rupanya.

2011: Puzzle Terangkai di Depan Mata

“Permisi.. Saya Koko Nata. Mau tanya . . . .”

Sontak saya dan Vira menoleh ke arah sumber suara.

“Itu Koko Nata…” bisik saya geregetan ke Vira.

“Iya..aku nggak percaya…” jawabnya pelan dengan ekspresi tak terdefinisikan.

Februari 2011. Finally, saya dan Vira ikut acara besar FLP. Sebuah acara yang pernah diceritakan Kak Sultan Sulaiman di tahun 2010 ketika kami baru ingin bergabung dengan FLP. Dan hari itu menjadi hari yang bersejarah karena kami berhasil mewujudkan mimpi kami untuk ikut di acara itu, hal lainnya juga yang membuat kami teringat hari itu sebab hari itu adalah hari untuk pertama kalinya saya dan Vira mendengar suara Koko Nata. Sekali lagi, sebuah nama dalam ingatan yang mewujud rupanya di depan mata. Betapa Allah memeluk mimpi-mimpi kami. Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, saya mengidolakan Boim Lebon, Koko Nata karena tulisan-tulisannya tidak hanya mampu mengikat hati saya terhadap dunia baca-tulis, tapi juga mampu menggerakkan tangan saya untuk rajin menulis sewaktu SMA. Allah mengikat hati saya dan menggerakkan tangan saya melalui FLP.

Dan hingga hari ini, saya telah menjadi bagian dari FLP. Saya benar-benar menghirup udara FLP sepenuh jiwa. Saya mengingat-ingat kembali satu per satu slidetentang FLP, dan semuanya membuat saya yakin bahwa Allah sudah merencanakan semua ini sejak awal. FLP…disinilah, ketika satu per satu nama dalam ingatan mewujud rupa di depan mata. Selamat milad FLP, semoga saya bisa mempersembahkan yang terbaik untukmu setiap saat, berproses menjadi pribadi yang lebih baik, demi Islam, Islam, dan Islam.

Dyah Restyani

~Divisi Fundrising & Penanggungjawab Penerbit Shofia FLP Sulsel periode 2010-2012~

Dibaca sebanyak: 334 kali.

Pernikahan di Era Digital

Ini tuh jaman digital, semua serba cepat. Kalau jaman dulu, untuk dekat sama seseorang butuh jasa PHB (baca: penghubung) alias Mak Comblang. Di jaman sekarang, cukup tengokin akun sosial media yang dimilikinya. 😀 bahasan ini juga ada di Buku Manusia Setengah Salmon.

Bahkan yaaaa..ternyata bukan cuma sekedar soal PDKT yang terhubung dengan sosial media.. Nikah juga loh!… 😀 Tanggal 18 Januari, saya menghadiri pernikahan dua orang kompasianer Makassar yang dulu pertama kali berkenalan di Kompasiana. Ternyata perkenalan itu kemudian berlanjut ke tahapan-tahapan lebih serius hingga akhirnya menuju tahap pernikahan.

Jodoh itu ternyata bisa darimana saja dan kadang kala tak terduga darimana datangnya. Dan sepertinya Bulan Januari 2012 kemarin adalah bulan pernikahan, soalnya undangan pernikahan bertebaran. Hihihiiii…

Bukan coba terkait pertemuan. Tanggal 22 Januari, salah satu kawan Ekonom Gila menikah. Dan uniknya, kawan saya tsb bikin web khusus untuk acaranya, katanya jadi semacam buku tamu yang bisa dilihat kapan saja, sekalian sebagai undangan digital untuk teman-teman yang berada di tempat yang jauh.

Oke, segini dulu aja. Mo sarapan soalnyaaa… hihihii..

Selamat beraktivitas semua!!!! ^_^

Dibaca sebanyak: 608 kali.