Monthly Archives: March 2012

Little Comment for The Raid

Siapa yang sudah nonton film The Raid? Film yang lagi happening itu tuh… Hihihii. Kata teman saya -saat kami menunggu film dimulai, film ini tidak boleh ditonton oleh para ABG labil, anak kecil, dan orang yang nggak tahan lihat darah.

Dan ternyata sodara-sodara… Memang sih ya, saya masih tahan lihat darah, tapi film ini begitu mengerikan!.. Penuh nuansa kekerasan sepanjang film, berulang kali umpatan ‘anjing’ keluar dari mulut para tokoh, sesekali umpatan ‘babi’, ‘bajingan’, dan ‘kampret. Hahahahha… bener-bener tidak saya rekomendasikan ditonton oleh mereka yang berusia di bawah 21 tahun!!! (loohh?? kok 21 batas umurnya? soalnya umur 17 itu masih kategori ababil. hihihii).

Walaupun demikian, saya tetap pantengin film ini dari awal sampe habis. Soalnya ada Donny Alamsyah.. keren banget aktingnya di film ini (juga keren banget orangnya. hihihii). 😀 subhanallah sekali deh setelah liat Donny Alamsyah di Negeri 5 Menara, terus liat lagi di The Raid dengan penampilan tokoh yang sangat kontras. Saya lebih suka penampilannya yang di The Raid,  hihihihii… padahal di The Raid rambutnya gondrong gitu. 😀

Terus, apa lagi ya? Hmm.. film yang bercerita tentang para polisi yang memasuki markas besar para pemakai narkoba ini, cukup mendebarkan. Sesekali juga membosankan karena ada tokoh yang lehernya sudah ditusuk pakai pecahan lampu tabung, tapi tetep aja masih hidup, bikin gemes. Hihihiii…

Terus yang mengherankan lagi. Adegan mematikan para tokoh, dominan diwarnai dengan adegan menusuk di leher. Tusuk lalu tarik, kebayang nggak? Hiiiyy… seeereeemmm.. Saya aja nontonnya sambil sesekali tutup mata pakai tangan.

Pas acara dah selesai. Masya Allah… kaget banget ada anak SD nonton film itu!!!!!!!!!!!!! Wah wah wah..rusak nih.  Harusnya ya, menurut saya, tiap orang yang mo nonton film kategori dewasa seperti The Raid ini (dewasa ya, karena unsur kekerasannya benar-benar tidak patut untuk ditonton anak kecil), tidak boleh bawa anak-anak. Jadi pas mo masuk di studio-nya, yang anak kecil nggak boleh masuk. Duitnya dibalikin aja (kalau misal saat beli tiket, tidak terdeteksi bahwa yang beli tiketnya anak kecil). Saya pikir ini sangat penting!..

Oke, itu aja. Selamat menonton bagi yang belum nonton.

Warning!!! Film-nya tidak boleh ditonton oleh mereka yang jantungan. Hehehehh.. 😀

Dibaca sebanyak: 523 kali.

Keywords

  • film hihihii

The Lorax: Tuailah Apa yang Kau Tanam

Source Pict.: en.wikipedia.org

Source Pict.: en.wikipedia.org

The Lorax adalah sebuah film yang menceritakan tentang sebuah kota artifisial, dimana semua pohon yang tumbuh adalah pohon plastik elektronik yang bisa disesuaikan bentuknya sesuai musim yang kita inginkan. Di kota yang bernama Thneedvilles itu, udara juga menjadi sebuah barang privat, semua orang harus membayar untuk membeli udara.

Suatu hari seorang remaja perempuan, bercerita pada di tokoh remaja lelaki bahwa ia sangat mengharapkan adanya pohon asli yang bisa ditanam di halaman rumahnya, bukan pohon artifisial yang menghiasi kehidupan mereka sehari-hari. Si remaja lelaki pun bertanya pada neneknya, dimana ia bisa mendapatkan pohon asli? Maka si nenek menyuruh si remaja lelaki untuk menuju sebuah tempat yang tampak begitu suram. Rupanya s remaja lelaki mendapatkan fakta bahwa di luar kota Thneedvilles, kondisinya sangatlah gersang dan ironi seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.

Si remaja lelaki pun bertemu dengan si tokoh yang (aduh lupa namanya siapa. hehehe) dulunya ternyata menjadi penyebab kenapa tempat di sekitar itu menjadi sangatlah gersang dan pohon menjadi sangat sulit didapatkan.

Ceritanya pun dimulai, ternyata si tokoh utama ketika masih muda, pergi mencari pohon yang bisa dijadikan bahan baku thneeds. Ketika menemukannya, ia sudah diperingatkan oleh The Lorax (dewa penjaga hutan) bahwa ia tidak boleh menebang pohon. Namun karena thneeds yang ia hasilkan, prospek ekonominya sangat baik, maka ia mengembangkan bisnisnya. Karena pengaruh tuntutan keluarga, perusahaannya mulai menebang pohon satu per satu. The Lorax sudah mengingatkannya, tapi ia tidak peduli. Hingga pohon terakhir pun ditebang, barulah ia sadar, bahwa hutan yang dulunya sangat indah itu telah berubah menjadi lahan gersang akibat ulahnya yang tamak.

Singkat cerita, si tokoh utama akhirnya menyerahkan bibit pohon terakhir kepada si remaja lelaki. Si remaja lelaki membawa bibit itu ke kotanya dan ia bersama nenek juga si remaja perempuan berusaha menanam biit itu di tengah kota. Awalnya penduduk kota sangat tidak suka (karena sudah diprovokasi oleh si pemilik bisnis udara), karena menganggap pohon asli itu kotor.

Tapi akhirnya semua sadar, dan pohon bisa ditanam. Kecewalah di pemilik bisnis udara.

Hmm..menurut saya film ini dapet nilai 8. Hihihii.. memang siii film kartun, tapi bagus looohhhh…

Ada satu kalimat menarik yang menjadi pesan dari film ini:

“Jangan pernah berharap menuai apa yang tidak kau tanam.”

Apa jadinya jika suatu hari pohon benar-benar habis karena semua sudah digunakan untuk keperluan industri? Mungkinkah kita memasuki zaman baru dimana udara menjadi sebuah barang privat yang hanya bisa dibeli dengan uang? Naudzubillahimindzalik…

Selamat istirahat!… 🙂

Dibaca sebanyak: 490 kali.

Mahasiswa dan Militansi

Mahasiswa dan Militansi. Mungkin saya bukan orang yang tepat untuk bicara soal ini Tapi saya tetap kukuh menulis ini untuk memberikan sedikit apa yang saya tahu tentang kawan-kawan saya yang bermilitansi tinggi. Tentang kenapa mereka rela turun ke jalan hanya untuk berteriak-teriak dan menerima caci maki dari kalian yang belum sepenuhnya memahami kami, hanya untuk menerima pemberitaan buruk tentang apa yang kami lakukan. Biarlah, cukup Tuhan saja yang Maha Mengetahui niat-niat yang ada di hati terdalam kami.

Militansi itu Apa?

Militansi sebenarnya adalah sebuah istilah yang ditujukan pada sebuah kondisi dimana seseorang sangat aktif / memiliki semangat juang yang tinggi untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar, ini definisi menurut saya. Jadi, militansi itu sebenarnya nggak sama dengan kekerasan dan terorisme, meskipun seringkali memang militansi selalu diwarnai dengan kekerasan dan kerusuhan. Kenapa? Sebab tidak ada perjuangan tanpa airmata, cucuran keringat, atau bahkan darah. Tergantung seberapa besar nilai yang diperjuangkan.

Militansi Para Pejuang Islam

Bagi umat muslim, tidak akan terbayang bagaimana kondisi kita sekarang jika di jaman Rasulullah SAW, para sahabat, para wali, dan alim ulama tidak memiliki militansi dalam memperjuangkan Islam? Mungkin saja kita belum mengenal Islam seperti sekarang ini. Mungkin saja kita masih berada di jaman yang tidak bisa kita bayangkan seperti apa jahil-nya (baca: bodohnya). Para pejuang dan penyebar agama Islam, bukan saja mengorbankan peluh dan air mata, bahkan darah dan nyawa mereka korbankan demi penyebaran Islam untuk generasi selanjutnya, demi generasi di masa yang akan datang.

Militansi Para Pahlawan Indonesia

Bahkan bukan cuma dalam Islam saja militansi itu ada. Militansi juga ada dalam sejarah kebangsaan kita. Tentang para pahlawan yang rela berjuang mati-matian agar negara kita memperoleh kedaulatan. Semuanya itu adalah militansi. Maka, terbayangkah bagaimana jadinya ketika di jaman penjajahan tidak ada orang yang berani berteriak dan bergerak melawan para penjajah? Mungkin sampai sekarang kita masih menjadi sebuah tanah jajahan (menurut konsep penjajahan jaman itu, kalau menggunakan konsep terkini ya negara kita memang masih terjajah :p).

Nasib Militansi Masa Kini

Militansi masa kini telah dikalahkan oleh hegemoni budaya konsumerisme dan materialisme yang begitu kuat. Orang-orang merasa repot ketika mall tutup. Merasa sangat bersemangat ketika ada diskon besar-besaran di gelar di setiap periode. Thawaf mall menjadi hal yang sangat lumrah dan telah menjadi bagian dari lifestyle. Rela berdesak-desakan antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan gadget keluaran terbaru yang konon dibanderol dengan harga lebih terjangkau. Sebagian masyarakat kita, termasuk sebagian generasi muda, menjadi gagap budaya, gagap teknologi, dan gagap realita. Pemerintah mau menaikkan BBM, mau nambah hutang negara, atau memberlakukan apa saja, terserah, tidak peduli, yang penting mereka tetap bisa jalan-jalan dengan santai.

Tapi bagaimana dengan masyarakat yang masih dalam kondisi kekurangan? Untuk mereka lah mahasiswa ada. Untuk kepentingan mereka lah (baca: rakyat kecil) mahasiswa berdemonstrasi. Dan lebih jauh dari itu, mahasiswa berdemonstrasi untuk menyuarakan kebenaran, untuk menuntut hak rakyat, untuk menyadarkan para penguasa yang sewenang-wenang. Meskipun mahasiswa menyadari entah pemerintah mendengarkan mereka atau tidak, paling tidak mereka telah berusaha.

Militansi menunjukkan bahwa masih ada semangat. Masih ada hak-hak yang ingin diperjuangkan, dan masih ada nilai yang harus ditegakkan..meskipun itu semua harus dibayar dengan cucuran keringat, airmata, dan darah.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Bagaimanapun cara kita berjuang, ada banyak cara yang bisa ditempuh. Lakukan saja yang kita yakini dari hati kita masing-masing. Ada yang menempuh dengan cara-cara militansi, ada yang punya strategi tertentu lewat jalur politik, ada yang melalui kekuasaan (karena juga memang punya kekuasaan), ada yang melalui tulisan, ada yang melalui majelis dzikir, apapun itu, just do it!

Maka ijinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan pesan:

“Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah kamu mengubahnya dengan tanganmu. Jika tidak mampu, cegahlah dengan lisanmu, dan apabila tidak mampu maka ubah dengan hatimu (baca: berdo’a). Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”

 

Dibaca sebanyak: 364 kali.

Filosofi Password

A: Pinjem laptop ya… Lho…ada passwordnya. Passwordnya apa?

B: Password apa ya?

A: Password… Password..

B: O…password. Namamu.

GR melanda.

A: Namaku jadi password laptopmu? Iiihh…so sweet banget deh..

B: Hhahahaha… maksudku.. password laptopku itu: n-a-m-a-m-u.

A: ?#!@#?! Grrrr…..

Password, selalu punya cerita tersendiri bagi setiap orang. Ada yang menjadikan tanggal lahir sebagai password, ada juga yang menjadikan nama sebagai password, entah itu namanya sendiri atau nama kekasihnya.

Tapi setiap password selalu punya sejarahnya tersendiri. Setiap password adalah kata terpilih dari ribuan ide tentang susunan huruf dan angka yang ada di kepala. Maka beruntunglah si password. Hihihii..

Dibaca sebanyak: 692 kali.

Book Review: The Geography of Bliss #1

“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.”

– Paul Theroux

Itulah sepenggal kutipan ketika kita membuka sampul buku The Geography of Bliss ini.

Kata Bliss dari judul buku ini mengacu pada kata benda yang berarti Kebahagiaan. Jadi jika diterjemahkan, The Geography of Bliss artinya Geografi Kebahagiaan. Judulnya saja membuat kita membayangkan bahwa buku ini berisi tentang kebahagiaan-kebahagiaan di berbagai tempat di bumi ini. Dan memang seperti itulah adanya.

Eric Weiner, penulis buku ini menuliskan tentang 10 negara dimana ia berkeliling mencari negara mana yang paling bahagia. Negara-negara itu:

Belanda: Kebahagiaan adalah Angka.

Awalnya saya agak bingung kenapa sub bab ini diberi judul Belanda: Kebahagiaan adalah Angka. Rupanya itu karena ketika Eric Weiner berada di Belanda, ia bertemu dengan seorang peneliti kebahagiaan. Peneliti kebahagiaan yang tidak peduli apakah semua orang di Belanda benar-benar bahagia atau tidak, sebab baginya, selama ada kebahagiaan selama itu pula ia mempunyai statistik yang dapat dianalisis. Hahhaha.. aneh kan? 😀

Swiss: Kebahagiaan adalah Kebosanan.

Lebih aneh lagi ketika mendapatka informasi-informasi tentang Swiss. Negara ideal yang ada di benak sebagian besar orang. Swiss terkenal dengan jam-nya, coklatnya, pisau Army-nya, dan tentu saja yang paling terkemuka di dunia, yaitu Bank Swiss-nya. 😀 tempat dimana konon para milyader di dunia ini mengamankan uang-uang dan aset-aset berharga mereka.

Di negara ini, Eric Weiner menuliskan kebahagiaan adalah kebosanan. Mungkin itu karena Swiss memiliki begitu banyak aturan. negara ini bukan hanya negara Nanny, tapi negara Super Nanny, dimana segala hal diatur sedemikian rupa. Bahkan untuk hal-hal kecil seperti: tidak boleh menekan tombol flush toilet di atas jam 10 malam, tidak boleh mengibaskan karpet berdebu di Hari Minggu, tidak boleh menjemur di balkon, dan hal-hal lainnya. Swiss terlalu ketat dengan peraturan. Orang Swiss juga tidak memiliki selera humor, atau kita perhalus saja, mereka memiliki selera humor namun mungkin berbeda dengan selera humor orang lain pada umumnya.

Eric menggambarkan kebahagiaan Swiss dengan kata “conjoyment” (gabungan kata “contentment” dan “joy”). Conjoyment mengacu pada rasa senang yang tetap menunjukkan ketenangan, namun masih di bawah momen transendental. Sulit dijelaskan siiih…tapi ya kira-kira seperti itu. Orang Swiss berada di tengah-tengah, tidak pernah berayun dari titik tertinggi ke titik terendah, semuanya sedang-sedang saja.

—bersambung—

 

Dibaca sebanyak: 355 kali.

Me and The Geography of Bliss

Saat pertama kali melihat buku ini di Toko Buku Grahamedia M’Tos, saya begitu tertarik untuk membelinya, namun saya menunda. Saya memilih buku lain. Awalnya saya kira buku ini seperti buku travelling pada umumnya.

Di momen kedua, saya bertemu buku ini di Gramedia, saya membacanya sedikit. Melihat-lihat setiap kata di dalam buku ini. Dan saya sangat menyukai kutipan di halaman awal buku ini:

“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.”

Namun saya tidak membelinya ketika itu. Saya kembali menunda membeli buku ini, dengan alasan buku lain yang saya beli lebih penting.

Kemudian di momen ketiga, saya kembali ke Gramedia. Langsung menuju rak dimana buku ini terpajang semingguan yang lalu (di momen kedua saya melihatnya). Saya tidak melihat buku itu lagi. Saya panik. Duh. masa’ saya harus ke Grahamedia untuk beli buku ini. Tapi ketika saya menuju rak lain, saya bertemu dengan buku ini. Rupanya posisinya telah dipindahkan. Hmm..langsung saja saya menggaet buku ini dan menuju kasir tanpa lirik buku-buku yang lain lagi. Hehehhe…

Kini, sepertinya sudah sebulan buku ini ada di kamar saya. Saya baru saja selesai membacanya tadi malam. Lama juga saya membacanya. Ya.. jelas saja lama, soalnya diselingi baca bukunya Bob Sadino, baca bukunya Trinity dan juga bukunya Agustinus Wibowo. 😀 hihihii… entah ini kebiasaan buruk atau bukan. Jika saya bosan membaca sebuah buku, saya akan membaca buku lain sampai tamat baru kemudian melanjutkan membaca buku yang saya anggap sedikit membosankan itu.

Hmm..buku ini menarik. Mungkin terasa sedikit membosankan karena ini buku terjemahan dan saya merasakan alur yang datar dalam penyampaian cerita di buku ini. Entah karena efek hasil terjemahan atau memang seperti itu (soalnya belum pernah baca versi aslinya).

Tapi, jangan heran. Anda akan menemukan banyak kejutan-kejutan kecil di buku ini. Bagaimana? Review bukunya ada di postingan selanjutnya yaa… ^_^

Dibaca sebanyak: 15324 kali.

Episode Bob Sadino: Roda Bob Sadino beserta Contoh ala Dyah

Siapa yang nggak kenal dengan sosok Bob Sadino? Seorang opa-opa yang sukanya mengenakan celana pendek kemana-mana, nggak peduli acaranya apa dan ketemu siapa, gayanya tetap saja santai dengan celana pendek setengah lutut. Bukan cuma penampilannya yang mengejutkan, namun juga karakternya.

Bob Sadino, seorang wiraswasta yang memulai usahanya dari jualan telur hingga akhirnya sekarang bisnisnya merambah ke sektor properti. Banyak yang bilang kalau Bob Sadino itu gila, nggak waras. Untungnya di sekeliling saya ada beberapa orang yang berkarakter out of the box seperti Bob Sadino, jadinya nggak terlalu kaget ketika membaca buku yang berjudul “Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!” ini.

Buku ini sebenarnya buku lama, terbitan tahun 2009. Tapi yang namanya ilmu, nggak ada habisnya untuk dishare.

Oke, dalam buku ini ada beberapa poin menarik tentang wirausaha ala Bob Sadino. Saya menyukai apa yang dipaparkannya. Memang gila, karena memang seperti itulah ia, sangat out of the box dan di luar kurva normal pada umumnya.

Roda Bob Sadino

Roda Bob Sadino, yang selanjutnya disingkat RBS adalah sebuah konsep yang dibuat Bob Sadino untuk menjelaskan tentang tahapan-tahapan/proses-proses pembelajaran para enterpreneur pada khususnya dan orang-orang pada umumnya. Roda Bob Sadino ini tidak hanya berguna dalam bidang enterpreneurship saja, namun juga berguna untuk segala bidang.

Menurut Bob Sadino, sejatinya seseorang itu mulai dari kuadran TAHU (teori), lalu bergerak ke kuadran BISA (praktik) sambil sesekali bolak balik ke kuadran TAHU, lama kelamaan kemudian bergerak ke kuadran TERAMPIL (kompetensi), kemudian yang terakhir adalah kuadran AHLI (pengakuan). Dan dari kuadran AHLI, bergerak lagi ke kuadran TAHU, demikian seterusnya.

Tidak semua orang melalui keempat kuadran tersebut. Ada yang dari kuadran TAHU langsung ke kuadran AHLI. Ada yang dari kuadran BISA, langsung ke kuadran AHLI. Namun, semuanya butuh proses.

Menurut Bob Sadino, lama berproses di kuadran BISA untuk dapat maju ke kuadran TERAMPIL, dibutuhkan waktu minimal 20 tahun!.. Itu artinya kalau mulai usahanya sejak punya anak, seseorang baru bisa dikatakan terampil di bidangnya ketika anaknya sudah masuk di perguruan tinggi (dengan asumsi bisnisnya tetap berjalan lancar dan asumsi ceteris paribus lainnya).

Kuadran BISA-lah kuadran yang paling menguji mental para pengusaha. Sebab kuadran BISA adalah kuadran dimana seseorang harus terus menerus bergerak menjalankan bisnis yang digelutinya.

Lalu bagaimana dengan kuadran TERAMPIL? Menurut Bob Sadino, orang-orang yang berada di kuadran TERAMPIL adalah orang-orang yang accountable, yaitu memiliki kemampuan mengatasi persoalan secara bertanggungjawab (sebab sudah memiliki kompetensi sebagai hasil belajar di kuadran BISA). Sedangkan kuadran AHLI, beda tipis dengan kuadran TERAMPIL. Di kuadran AHLI, segala kompetensi dan akuntabilitas yang dimiliki orang tersebut diakui oleh masyarakat/khalayak umum.

Contoh konkret:

Saya sekarang berproses di kuadran BISA sebagai layouter buku. Saya masih bolak-balik berdialektika dari kuadran TAHU (teori/pedoman tata cara layout) ke kuadran BISA (praktik melayout). Jika proses ini terus menerus saya jalani, maka lama kelamaan akan muncul kompetensi. 10 tahun kemudian saya akan menjadi seorang layouter profesional karena kompetensi yang saya miliki (meskipun kenyataannya, tidak butuh waktu sampai 10 tahun untuk menjadi seorang layouter profesional), maka saya pun memasuki kuadran TERAMPIL. Ketika nama saya sudah sangat dikenal dan diakui oleh dunia penerbitan sebagai layouter terbaik, maka saat itulah saya berada di kuadran AHLI.

Saya sekarang masih berstatus mahasiswa ilmu ekonomi concern bidang moneter (selama belum yudisium berarti masih mahasiswa kan ya? :D). Ini berarti saya sedang berproses di kuadran TAHU. Ketika saya sudah lulus dan bekerja di sektor keuangan, berarti saya terjun ke kuadran BISA. Berprosesnya saya di kuadran BISA selama 20 tahun sebagai analis ekonomi akan memunculkan kompetensi tersendiri bagi saya dalam menganalisa perekonomian, maka saya pun memasuki kuadran TERAMPIL. Dan ketika nama saya diakui oleh masyarakat sebagai ahli, maka saat itulah saya beralih ke kuadran AHLI. Hmm..tapi kalau yang ini utopis banget deh kayaknya, soalnya makroekonomi advance aja ngulang sampe 3 tahun. =))

Saya sekarang masih berusia 20+ (yang jelas masih kepala 2 lah ya). Saya belajar memasak (kadang-kadang), saya suka membaca, hobi menulis, suka bikin perencanaan keuangan, dan sedang berproses belajar agama dengan baik. Saya sedang berproses di kuadran TAHU. Ketika nantinya saya menikah, maka saya mulai memasuki kuadran BISA (praktik). Kegiatan praktik saya jadinya: mengurus suami dan anak-anak; membuat perencanaan keuangan keluarga setiap periode; mengajar anak-anak mengaji, beribadah dan belajar membaca; etc. 20 tahun kemudian, saya memasuki kuadran TERAMPIL, kuadran dimana saya sudah ada pada tahap mempersiapkan anak saya menjadi dewasa seutuhnya. Sayangnya kalau untuk case yang ini, nggak perlu pengakuan khalayak umum untuk bisa disebut AHLI (baca: ibu rumah tangga yang baik), sebab semua IBU tentu saja AHLI.. heheheh. Heduuww.. kalau contoh yang ini sangat amat utopis. Hahahhaa….

Nah..kira-kira seperti itu contoh. Kamu bisa bikin contoh sendiri untuk dirimu. Pada intinya RBS bisa diterapkan untuk bidang apa saja. Jadi, di kuadran manakah kamu sekarang? 😀

Dibaca sebanyak: 19986 kali.

Kurva Phillips

Masih pada ingat kurva Philips kan? Kurva Philips adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengangguran dengan tingkat inflasi di sebuah negara. Menurut Kurva Philips, hubungan keduanya adalah berbanding negatif. Jadi ketika inflasi naik, maka pengangguran turun. Dan ketika inflasi turun, maka pengangguran naik jumlahnya. Kedua poin dalam makroekonomi ini menjadi pilihan yang begitu rumit.

Kita ingin menurunkan inflasi, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan jumlah pengangguran bertambah. Kita ingin mengurangi pengangguran, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan inflasi menjadi tinggi. Lalu? Pilih yang mana dong?

Tiap negara punya prioritasnya masing-masing (sebab pola kurva phillips tiap negara juga berbeda-beda), meskipun kedua hal ini (inflasi maupun pengangguran) sama-sama penting. Mau contoh?

Indonesia: Inflation Targetting

Indonesia. Ya, negara kita ini cenderung memilih mengatur inflasi ketimbang pengangguran. That’s why setiap tahunnya pemerintah kita lebih gencar mengumumkan target inflasi tahun depan. Dan di akhir periode pula, keberhasilan perekonomian selalu diukur dengan tercapainya target inflasi atau tidak. Belum pernah saya mendengar kehebohan pemerintah kita mengumumkan target pengurangan tingkat pengangguran di awal tahun dan mengumumkan realisasinya di akhir tahun (meskipun laporan statistikanya memang ada). Mungkin pengangguran hanya sekedar data statistika yang urgensinya masih kalah jauh ketimbang inflasi.

Inflasi sebagai salah satu dinamika perekonomian adalah hal yang diprioritaskan pemerintah sebab dampaknya langsung terasa di masyarakat. Seperti itu yang sering kita dengar dan kita baca di berbagai media. Iya benar. Hal itu memang benar. Ketika inflasi tinggi, maka harga-harga barang yang tinggi akan menyebabkan masyakat kita semakin tercekik dengan sulitnya memenuhi berbagai kebutuhan pokoknya. Singkatnya, inflasi dirasakan dalam jangka pendek dan memiliki efek langsung (direct effect).

Lalu, bagaimana dengan pengangguran? Pengangguran seringkali tidak menjadi prioritas utama sebab efek pengangguran tidaklah dirasakan langsung oleh masyarakat (indirect effect). Dampak yang ditimbulkan dari banyaknya pengangguran pun tidak dirasakan dalam jangka pendek, melainkan dalam jangka panjang. Walaupun demikian, jangan dianggap dampak dari melubernya pengangguran tidaklah dahsyat.

Islandia: Unemployment Targetting

Dari apa yang saya baca di buku The Geography of Bliss, saya menemukan fakta bahwa Islandia, negara yang langitnya selalu hitam kelam di musim dingin, ternyata lebih memilih memprioritaskan mengurangi jumlah pengangguran ketimbang inflasi. Maka jangan heran dengan harga-harga yang mahal di Islandia.

Menyarikan dari apa yang ditulis oleh Eric Weiner, bagi mereka (warga Islandia), inflasi merupakan cubitan kolektif. Cubitan itu dirasakan oleh semua warga negara tanpa terkecuali. Sedangkan pengangguran adalah cubitan selektif. Cubitan yang hanya dirasakan oleh orang tertentu saja. Bagi mereka itu adalah sebuah ketidakadilan. Maka jangan heran, di Islandia, jika tingkat pengangguran mencapai 5%, itu dianggap skandal nasional dan presiden harus diturunkan.

Bagaimana dengan Indonesia? Apa jadinya ketika unemployment targetting dijadikan indikator untuk mengukur keberhasilan pemerintah mengendalikan perekonomian setiap tahunnya? Mungkin nggak ada yang mau jadi presiden karena jumlah rakyat Indonesia ada ratusan juta (yang berarti bila ada 5% jumlah pengangguran, itu sudah termasuk dalam kategori banyak). 😀

Dibaca sebanyak: 457 kali.

Garis Batas

garis batas

Saya baru saja tuntas membaca Garis Batas. Sebuah karya monumental dari seorang Agustinus Wibowo. Sebuah karya yang tidak sekedar bicara tentang travelling, tapi lebih kepada sebuah perjalanan. Perjalanan mencari sebuah meaning. Perjalanan yang pada akhirnya membuat kita selalu bersyukur akan tempat kita dilahirkan dan dibesarkan. Perjalanan yang pada akhirnya membuat kita senantiasa merindukan dan mencintai bangsa dan negara ini –Indonesia.

Bagi saya, Agustinus Wibowo telah menggambarkan sebentuk kisah yang lebih dari sekedar kisah negara-negara yang dikunjunginya. Ada kesan dan pesan yang tertinggal begitu dalam seusai membaca buku yang cukup tebal ini.

Beberapa pesan yang begitu melekat di benak saya yaitu

Tajikistan: “Roti adalah roti. Remah-remah roti juga adalah roti.”

Pepatah Tajik tersebut memang sesuai dengan kondisi Tajikistan yang merupakan salah satu negara pecahan Rusia. Meskipun ia hanya salah satu dari beberapa negara pecahan Rusia, Tajikistan tetap merasa sebagai Rusia. Meskipun pada kenyataannya, mereka adalah remah-remah roti dari sebuah roti besar yang ada. Mereka bangga berbicara bahasa Rusia dan berpenampilan trendy ala Rusia. Bagi mereka, Rusia adalah masa keemasan yang masih mereka kenang dan idam-idamkan dapat kembali ke masa itu lagi.

Berbeda dengan Afghanistan, negeri seberang Tajikistan. Keduanya hanya dipisahkan sungai Amu Darya. Sungai selebar 20 meter!.. Namun mampu memisahkan takdir kedua negara tersebut. Keduanya begitu berbeda.

Selain itu ada juga tentang Kazakhtan, Kirgiztan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

Turkmenistan juga begitu melekat di ingatan saya. Bagaimana diktatornya seorang pemimpin namun rakyatnya tetap mencintainya, tetap mengelu-elukannya. Turkmenistan mengingatkan kita pada masa orde baru, ketika semua titah perintah presiden tidak boleh ditolak dan harus dikonkretkan dalam sekejap mata.

Ah..negara-negara itu, semuanya begitu mendebarkan. Avgustin (sapaan Agustinus Wibowo dalam Russia Style) telah berhasil membuat saya tidak terlalu berminat ke negara-negara stan-stan itu (emangnya loepunya duit ke sana??? Wkwkwkwkk). Sungguh..negara-negara itu tampak sangat tidak menyenangkan untuk para backpackermiskin!… hahhaha..

Namun Garis Batas menyadarkan diri saya pada sebuah makna yang telah lama ada dalam diri kita masing-masing. Garis batas akan selalu ada, bagaimanapun bentuknya. Konsekuensi dari sebuah garis batas seringkali diperlakukan sedemikian rupa, berbeda-beda perlakuan antara individu yang satu dengan individu yang lain. Hidup kita dipenuhi garis-garis batas yang tampak maupun yang imajiner..

Sungguh.. garis batas membuat kita merenungi kembali diri kita, menengok kembali ke dalam batasan kita. Memandang sebuah wilayah lain di luar garis batas dalam area batas diri kita. Semuanya seperti sebuah perjalanan spiritual yang membuat kita semakin bersyukur, bersyukur dan bersyukur bahwa kita ada di Indonesia, bernegara dan berbangsa Indonesia –dengan segala kekurangan yag dimilikinya.

 

Thanks Avgustin!.. Rahmat. Spasibo (lupa yang ini artinya apaan.. tapi saya suka sekali dengan kata ini :D).

 

Identitas buku:

Judul: Garis Batas; Perjalanan di Negeri-negeri Asia Tengah

Penulis: Agustinus Wibowo

Terbitan PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Ketiga, Juli 2011.

 

Dibaca sebanyak: 606 kali.

Pentingnya Belajar!

“Jika kau berpendapat bahwa belajar itu sungguh repot,coba bayangkan betapa susahnya sebuah kebodohan.” – Rumah Baca Philosophia (20 Maret 2012)

Kutipan di atas, saya kutip dari status facebooknya Rumah Baca Philosophia. Sebuah kutipan yang benar adanya. Saya tahu rasanya jadi orang bodoh. Hehe.. oke, kita abaikan dulu ya persoalan dikotomi-dikotomi bodoh versus pintar. Kita abaikan dulu kalimat bijak “tidak ada orang bodoh di dunia ini”. Iya, memang nggak ada orang bodoh di dunia ini, yang ada hanyalah orang yang sangat tahu, orang yang cukup tahu, orang yang kurang tahu, dan orang yang tidak tahu sama sekali. Tapi kalau balik ke persoalan semantik, orang yang tidak tahu sama sekali itu disebut bodoh. Bodoh yang itulah yang saya maksudkan dalam kalimat “saya tahu rasanya jadi orang bodoh”.

Sungguh sangat tidak nyaman dan tidak enak menjadi orang bodoh yang sedang kelimpungan ngejar-ngejar orang pintar untuk minta diajarin suatu ilmu dan orang pintarnya sombongnya minta ampun… Hahahhaaa…

Sebenarnya itu bagian dari risiko. Siapa suruh nggak tahu ilmunya!… 😀 😛

Btw inget slogan untuk Steve Jobs nggak?

Stay Hungry, Stay Foolish.

Tetaplah lapar (ilmu), dan tetaplah bodoh.

Orang yang lapar (ilmu) dan dalam keadaan tidak punya pengetahuan terhadap ilmu tersebut, akan berusaha keras untuk mendapatkan ilmu yang diperlukannya tersebut. Entah bagaimana kerasnya usaha yang harus dilakukan.

Menurut Imam Ghazali, ada 4 kriteria orang berilmu, yaitu:

  1. Orang yang tahu kalau dia tahu
  2. Orang yang tidak tahu kalau dia tahu
  3. Orang yang tahu kalau dia tidak tahu
  4. Orang yang tidak tahu kalau dia tidak tahu

Termasuk golongan yang manakah kita?

Golongan yang manapun kita, jangan pernah berhenti belajar (dan mengajar: untuk yang tahu ilmunya). Bodoh itu nggak enak. Hihihiii.. 😀

“Jika kau berpendapat bahwa belajar itu sungguh repot,coba bayangkan betapa susahnya sebuah kebodohan.”

Good night!… Reading time!.. 😀

Dibaca sebanyak: 533 kali.

« Older Entries