Monthly Archives: May 2012

5 Jebakan Kemarahan dan Cara Mengatasinya

Marah. Siapa yang tidak pernah marah? Yang namanya manusia pasti pernah marah, hanya saja tiap orang punya cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kemarahannya. Ada yang mengekspresikannya dengan diam saja dan memilih tidak berbuat apa-apa. Ada pula yang mengekspresikan kemarahannya dengan tindakan-tindakan yang merusak, seperti membanting barang-barang yang ada di sekitar atau menyerang objek tertentu. Semuanya tergantung pada apa penyebab kemarahan.

Bicara soal penyebab kemarahan, setiap hari pasti ada saja hal yang dapat memancing kemarahan kita. Namun kita bebas memilih apakah kita akan melakukan tindakan positif ataukah tindakan destruktif dalam merespon emosi yang sedang bergejolak. Untuk itu penting bagi kita mengetahui mengapa kita marah? Hal-hal apa saja yang dapat memancing kemarahan kita? Berikut lima jebakan kemarahan menurut Anthony Dio Martin. Jebakan-jebakan kemarahan ini tanpa kita sadari, selalu ada di keseharian kita.

1. Labelling

Langkah pertama untuk menghindari marah yaitu hindari tindakan melabeli orang lain. Contohnya seperti ini: Anda melihat seseorang mengotori kursinya, lalu secara spontan Anda mengatakan kepadanya, “kamu jorok!” dan Anda merasa kesal kemudian marah padanya. Nah, ketika Anda mengatakan hal tersebut terhadapnya, itu berarti Anda sedang melabelkan sifat “jorok” pada orang yang bersangkutan. Lalu, bagaimana sebaiknya bertindak? Menurut Anthony Dio Martin, sebaiknya bukan kata-kata “kamu jorok!” yang keluar dari mulut Anda untuk orang tersebut, melainkan kata tanya untuk mengonfirmasi mengapa dia melakukan hal tersebut, misalnya dengan bertanya: “apa tujuanmu mengotori kursi itu?”. Dengan mengetahui apa maksud tindakan orang lain, maka kita akan lebih mudah memahami orang tersebut dan terhindar dari marah.

2. Mind-read

Hal kedua yang dapat kita lakukan untuk menghindari marah yaitu hindari mind-read. Apa itu mind-read? Mind-read yaitu mengira orang lain berpikiran begini atau begitu. Contohnya: si A mengira si B marah kepada dirinya, sehingga si A memilih menghindar dari si B dan hubungan mereka jadi menjauh, padahal sebenarnya si B tidak pernah marah pada si A. Namun pikiran A saja yang menganggap si B marah. Nah, betapa seringnya hal remeh temeh semacam ini hadir di keseharia kita kan? Untuk itu, cara mengatasi kebiasaan mind-read tersebut yaitu dengan berkomunikasi. Tanyakan apa yang penting untuk kita ketahui. Jangan pernah menyimpan pikiran “mungkin dia marah, mungkin dia tidak mau bertemu saya lagi, etc”, tanpa pernah mengkomunikasikannya dengan orang yang bersangkutan.

3. Meramal / Mengira-ngira

Seorang istri sudah menyiapkan makan malam spesial untuk suaminya, tapi ketika suaminya ditelpon, HPnya Β tidak aktif. Si istri menunggu hingga jam 9 malam dan suaminya belum juga pulang. Ia mencoba menelpon lagi, dan lagi-lagi HP suaminya tidak aktif. Pikiran buruk pun hadir, jangan-jangan suaminya sedang berada di tempat lain bersama perempuan lain. Sang istri menjadi kesal, akhirnya ia membuang makan malam spesial yang sudah dimasaknya untuk sang suami. Suaminya pun baru tiba di rumah jam 11 malam. Setelah minta maaf, sang suami menjelaskan bahwa ban mobilnya bocor dan dia terjebak kemacetan parah ketika perjalanan dari bengkel menuju rumah. Sang istri pun menyesal.Β Nah, apa yang dilakukan sang istri merupakan hasil dari future telling (mengira-ngira). Lalu bagaimana cara mengatasi jebakan kemarahan yang satu ini? Jawabnya yaitu dengan cek realitas. Jika kita tidak menemukan jawaban setelah mengecek realitas, maka yang perlu dilakukan hanyalah berusaha untuk tetap berpikiran positif.

4. Melebih-lebihkan Sebuah Masalah

Melebih-lebihkan masalah juga termasuk dalam jebakan kemarahan. Cara mengatasi hal ini yaitu mari melihat masalah secara obyektif dan tidak memberikan penilaian yang berlebihan. Dengan begitu, kita akan terhindar dari marah.

5. Should Think

Seringkali kita berpikir, seharusnya begini, seharusnya begitu. Sikap tersebut memang diperlukan untuk beberapa hal tertentu, namun tanpa kita sadari pada hal-hal lain,tindakan tersebut juga dapat menyebabkan kita merasa tertekan dan terdorong ingin marah. Contohnya sebagai berikut: ada sebuah masalah kecil di perusahaan yang menurut kita seharusnya hal tersebut mampu diatasi karyawan kita, namun ternyata masalah tersebut berdampak pada kita. Jika kita tetap berada pada sikap “seharusnya dia yang menyelesaikannya”, maka emosi akan bergejolak dan kita marah. Untuk mengatasi hal ini, sama seperti poin nomor 4, yaitu dengan mencoba melihat masalah secara objektif agar kita mampu berpikir lebih fleksibel dalam menemukan solusi atas permasalahan yang sedang kita hadapi.

Demikian 5 jebakan kemarahan dan cara mengatasi menurut talk show yang disampaikan oleh Anthony Dio Martin di Smart FM pada 17 Mei 2012 (pukul 23.40 WITA). Semoga bermanfaat dan semangat pagiiiii!!!!!!!!!!! ^_^

NB: pernah diposting di www.kompasiana.com

Dibaca sebanyak: 512 kali.

Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin

daun jatuh
Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Itu novel pertamanya Tere Liye yang saya baca sampai tuntas. Pertama kali baca novelnya Tere Liye itu yang judulnya Hapalan Shalat Delisa, tapi karena kurang menarik, jadinya bacanya nggak selesai. Hiiihiii..

Oh ya, novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin itu saya habiskan baca selama 3 jam. Dengan berakhir pada mata sembam karena terharu.. πŸ˜€ hehehee.. bener loh.. That’s why akhirnya saya jadi suka dengan Tere Liye.

Novel tersebut bercerita tentang seorang anak jalanan bernama Tania. Tania (masih berusia 10 tahun) dan adiknya -Dede-, suatu hari saat mengamen di bus, tak sengaja berkenalan dengan seorang pemuda bernama Danar ketika kaki Tania tak sengaja menginjak paku di bus. Danar menolongnya, membantu mengobati lukanya, mengantar ia dan adiknya pulang. Bahkan keesokan-keesokan harinya Danar (yang saat itu berusia 20-an), terus menerus hadir di kehidupan Tania. Menyekolahkan Tania dan Dede, juga membantu perekonomian keluarga Tania yang sudah tak mempunyai ayah. Tania menganggap Danar sebagai malaikatnya. Dan sejak hari itu, Tania berjanji untuk menuruti kata-kata Danar. Tania bersekolah tinggi-tinggi, ikut kursus ini itu dengan nilai-nilai sempurna, itu semua demi Danar.

Seiring waktu yang bergulir dan Tania beranjak dewasa.. Ia menyadari bahwa ada perasaan lain di hatinya. Bukan lagi perasaan sebagai adik, namun lebih dari itu. Sayangnya sudah ada seorang wanita yang selalu mendampingi Danar, dan mereka berencana menikah. Lalu bagaimana dengan Tania? Akankah Ia tetap menyatakan perasaannya pada Danar? Seseorang yang seharusnya dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.

Mau tahu? Baca sendiri yaa.. ehhehee…

Hmm..ada 1 hal yang menjadi point sorotan saya dari novel ini.

So why if she love him?

πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Segitu aja ah.. hihihi..selamat bobo’!…… πŸ˜€

Dibaca sebanyak: 377 kali.

Ion

Aku rindu kamu yang entah sedang apa dan bagaimana di sana

Di suatu tempat yang tak kuketahui di manakah tempat itu berada?

Tempat yang tidak terdeteksi oleh kecupan udara di hidungku..

Tempat yang tidak terjangkau oleh jarak pandang jendela duniaku.

Tempat yang masih dirahasiakan.

 

Aku yakin setiap proton dan elektron yang berada dalam tubuhmu saat ini masih tetap berotasi dengan selaras.

Aku yakin ion-ion itu akan berusaha mencari ion-ion pasangannya.

Meski waktu terlamapu sulit untuk dikompromi.

 

Tahu?

Kenapa aku selalu menolak tawaran ikut mendaki gunung.

Aku takut

 

Takut menemukan wajahmu di sana

Takut menemukan jejakmu yang tertinggal di setiap petak tanah

Atau mungkin berbekas di batuan yang terjal.

 

Tapi yang paling kutakuti

Puncaknya

Kau selalu ada di sana

Tanpa kompromi dan basa-basi

 

Bagaimana jika kapan-kapan kita tidak usah bersaing mendaki gunung lagi?

Bagaimana jika kita bersaing berlomba menemukan ion-ion pasangan untuk ion-ion dalam tubuh kita?

Tantangmu padaku suatu hari..

Dan tulisan ini kutorehkan karena aku teringat kata-katamu di hari itu..

 

Okey!.. We’ll see.. πŸ™‚

 

Apakah kau telah menemukan ion-ion itu?

 

 

Makassar, 14 Mei 2011, 23.26 WITA

Dibaca sebanyak: 303 kali.