Monthly Archives: June 2012

Credit Rating

Apa sih credit rating itu? Credit rating adalah peringkat yang mencerminkan opini dari Lembaga Pemeringkat tentang kemampuan suatu negara dan atau perusahaan dalam memenuhi financial commitment-nya. Hal ini diperlukan oleh calon investor yang berminat untuk memberikan pinjaman atau menanamkan modal dalam suatu negara. Salah satu Lembaga Pemeringkat misalnya yaitu Fitch Rating.

Seperti yang kita ketahui bersama, sejak akhir 2011, Fitch Rating menaikkan credit rating Indonesia yang tadinya BB+ menjadi BBB-. Artinya apa?

BBB- menunjukkan bahwa Indonesia telah masuk dalam kategori investment grade, yaitu berada pada peringkat yang menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia kondusif untuk berinvestasi. Lalu bagaimana dengan credit rating yang lain?

Tabel credit rating selengkapnya dapat disimak pada tabel berikut:

credit rating interpretation picture

Sebagai perbandingan, di bawah ini data credit rating beberapa negara di ASEAN.

credit rating asean

Dari tabel di atas, kita ketahui bersama bahwa Singapura adalah negara di ASEAN yang memiliki credit rating tertinggi diantara negara-negara ASEAN yang lain. Maka tak heran jika Singapura ibarat magnet bagi para investor. Para investor yang menanamkan modalnya di Singapura, selain mendapatkan keuntungan karena iklim investasi yang menguntungkan, juga memberikan kontribusi positif bagi Negara Singapura. Investasi yang masuk di negara tersebut tentu akan mendorong perekonomian Singapura sehingga melaju pesat setiap tahunnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana agar negara kita juga mampu mencapai credit rating AAA itu? Tentu hal tersebut merupakan PR jangka panjang yang sedang kita usahakan sedari dulu. 🙂

NB: juga diposting di www.ekonomgila.org

Semoga tulisan sangat sederhana ini bermanfaat untuk yang penasaran dengan credit rating.. 🙂 btw jika ada yang salah, silakan dikoreksi 😀

Dibaca sebanyak: 436 kali.

Culture Type

What is culture?

Culture is something that represents a distinctive way of live of a group of people, their complete design for living.

Our culture becomes so familiar to us until it develops into patterns and we take it for granted.

We get so used to the patterns and grow to be so acquainted and we usually do not question them.

Going further we hardly examine or think what we do or why we do it. WE JUST IT!

What are the 4 cultural types in an organization?

There are 4 types of people in an organization, they are:

1. Cultural Builders

What is cultural builders? Cultural builders is when you come up with new idea and adopt them for your organization. You know how to work and can get the best out of people. You are a leader and are willing to take risks. You are not afraid to make unpopular decisions if need be, for you, corporate goals are priority. Enterpreneurial in nature, you often lead the organization or department and the people around you to greater heights. You help your ogranization change, stay relevant and move forward.

2. Cultural Maintainers

You are the backbone of the organization and you need help maintain status quo. You makes sense of an ever changing world. Often you are the mediator between the builders and the followers. You are royal and wise. You ensure continously by bridging old culture with the new. You may not be an enterpreneur but you are a great corporate leader in your own right.

3. Cultural Followers

You are hardworking, conscientious, and action oriented. You understand your position and know your job well. You make the best of situation. You support the company culture without complaining. You ensure things get done. You are an asset in the company, without you the builders and maintainers cannot implement changes, strategics, and plans.

4. Cultural Disruptor

You say more than you do and hide behind complaints and intelectual debates. You are unproductive and unaware of it as you land to blame someone or something for your failure. It is not that you are bad, you are not in touch with what is going on and are unable to take action. Your words and actions do not generate into work. You are in opposition to the company culture and goals.

Some disruptors may have been a follower or a maintainer in their previous jobs. Perhaps they were from a larger organization. They complaint about how things are not right but do not have a clue of how to right them. They are confused, demoralised, and disruptive.

It is important to stay in touch and know your role. When you understand your strenghts and limitations you can fully utilise your potential and contribute to the organization. Then you add value, be relevant and affect positive change.

Tulisan di atas dikutip dari materi presentasi yang disampaikan oleh Mr. Anas Zubedy di event Inter-civilizational Youth Engagement Program, pada materi yang berjudul: How Youth Can Shape a Global Culture in the Future.

Dibaca sebanyak: 384 kali.

Wanita Imam & Lelaki Cahaya: Reranting Teduh Saat Gerimis Turun

wanita imam

Untuk Mama, Papa, & Max: Yang selalu menjadi reranting teduh di saat gerimis turun.”

Itulah kutipan halaman pembuka dari Buku Wanita Imam dan Lelaki Cahaya. Buku kumpulan cerpen dan puisi karya Aida Radar ini, patut diacungi jempol. Sebuah karya yang tidak sekedar menampilkan cerita-cerita yang membuatmu menghembuskan napas seraya berkata “hufft” karena terbawa dengan ceritanya, namun karya-karya Aida Radar dalam buku ini juga meninggalkan kesan-kesan mendalam seusai membacanya.

Aida menampilkan konflik yang cukup apik di awal cerita dan mengakhirinya dengan manis, entah cerita itu selesai ataupun menggantung begitu saja. Kira-kira seperti itu yang saya cermati setelah menikmati 11 cerita pendek dalam buku ini. Di review buku ini, saya hanya mereview sisi cerpennya saja, sebab untuk puisinya, saya nggak tahu harus berkomentar apa, sebab menurut saya, puisi itu persoalan preferensi, persoalan selera. Jadi, puisi yang menurut saya bagus, belum tentu bagus bagi orang lain. Lagipula, saya belum terlalu mampu memaknai kata-kata kiasan dalam puisi. Hehehee..

Hmm..oh ya, soal cerpen-cerpen dalam buku Wanita Imam dan Lelaki Cahaya ini, saya menyukai semuanya, Namun yang paling meninggalkan kesan mendalam buat saya, salah satu cerpen yang berjudul “Anak Perempuan Ayah”. Sebuah cerpen yang bercerita tentang keluarga. Tentang sikap seorang ayah terhadap anak perempuan satu-satunya. Saya suka sekali dengan kutipan kalimat berikut

“Ria harus menghabiskan waktunya selama masih ada kesempatan. Karena kita tidak akan pernah tahu Bu. Mungkin besok, mungkin lusa, mungkin minggu depan, dan mungkin tak akan lama lagi, seorang lelaki asing akan datang dan akan segera membawa anak perempuan kita satu-satunya itu keluar dari rumah ini. Anak perempuan kita satu-satunya itu mungkin akan segera menjadi istri orang dan meninggalkan kita, Bu.”

Demikian kutipan kalimat yang diucapkan tokoh Ayah dalam cerpen Anak Perempuan Ayah. Menarik bukan?

Meskipun secara teknis, isi buku ini masih terdapat beberapa misstypo alias kesalahan-kesalahan ketikan, namun itu tidak mengurangi keindahan pesan yang disampaikan melalui cerita-cerita dalam buku ini. Kemudian hal lain yang menjadi sorotan saya yaitu beberapa kali Aida Radar menggunakan nama tokoh yang agak mirip, misalnya: Dina-Dini dan Fauzan-Fahri-Fazlur. Walaupun penggunaan nama tokohnya untuk cerita yang berbeda, dan hal tersebut bukan hal yang penting, namun jadi terkesan terbaca bahwa si penulis memiliki preferensi tersendiri dengan nama-nama tersebut. Emang penting? Nggak sih, kan suka-suka penulisnya aja. 😀 cuman jadi mudah terbaca saja.

Kemudian point lain yang menjadi sorotan saya, yaitu penggunaan kata “aku” dan “saya”. Di beberapa cerpen ada yang menggunakan “aku”, ada pula yang menggunakan “saya”. Bagi saya pribadi, perubahan sudut pandang dari “aku” ke “saya” turut berpengaruh pada kenikmatan membaca.

So far, secara keseluruhan, saya kagum sama Aida Radar karena karya-karya yang dimuatnya di Buku Wanita Imam dan Lelaki Cahaya ini, menurut saya boleh dibilang “FLP banget!…”

Aida Radar berhasil menampilkan nilai-nilai islam tanpa perlu menggurui.Aida Radar berhasil mengemas cerpen-cerpen tersebut dengan indah, tertata rapi, dan sarat makna. Aida telah mencoba menjadi reranting teduh bagi pembaca yang ingin berlindung dari gerimis-gerimis yang menggalaukan hati. Selamat membaca.

Judul buku: Wanita Imam dan Lelaki Cahaya

Diterbitkan Penerbit Shofia

Mei 2012

Dibaca sebanyak: 30956 kali.

Cermin Lelaki Senja

7 Juni 2012, 10:55am

Tergesa kulangkahkan kaki menuju perpustakaan yang akan tutup beberapa menit lagi. Hpku berdering sedari tadi, buru-buru tangan kiriku mencari-cari ke dalam tas yang kukepit. Sedangkan tangan kananku menenteng 7 rangkap tugas akhir yg baru saja kuambil dari tempat penjilidan.

 Ketika hp sudah di genggaman, aku berpikir sejenak akan mengangkat telepon darimu atau tidak. Aku cukup kasihan padamu karena biaya telepon internasional tidaklah murah, tapi bukan itu yang menahanku untuk memencet tombol “accept”. Bukan pula karena persoalan kamu meneleponku ketika aku tiba di koridor fakultas, dan ada beberapa orang berdiri di sekitarku. Aku memang sungkan mereka mendengarkanku berbicara dalam Bahasa Inggris. Tapi bagaimana lagi kita berkomunikasi jika bukan dengan Bahasa Inggris?

 “Hai. You at home?”

“Hai. Sorry, I’m at the college. I’m not at home now.”

“Oh you at the college? Ok. What time you back home?”

“I don’t know yet. I’ll tell you later.”

“Okay.”

“Okay. Take care.”

 11:35am

Finally satu skripsi sudah kusetor di perpustakaan fakultas. Aku pun berjalan keluar fakultas, menuju halte, menunggu angkutan umum. Aku harus menyetorkan skripsi juga ke instansi tempatku meneliti. Aku teringat kamu.

“Hi. I’m sorry when u called me, I was in hurry go to the library.”

Message sent.

Bahasa Inggrisku sangat kacau. Sungguh tak mengerti kamu selalu mengatakannya bagus.

11:41am

Di sebuah angkutan kota yang kutumpangi. Aku mengamati dua anak kecil bermata sipit yang duduk di depanku. Seorang anak lelaki yang masih TK duduk di samping ibunya berbaju merah. Yang satunya anak perempuan bermata sipit dan berpipi tembem berusia sekitar 3 tahun sedang bermanja-manja dengan mamanya. Mereka membuatku teringat padanya. Setiap kali aku bertemu, berinteraksi, atau sekedar melihat seseorang dengan ciri umum kawan tionghoa, pikiranku senantiasa mengingatnya. Teringat lucu matanya yang selalu nampak segaris ketika tersenyum, teringat cerita-ceritanya ketika menghadapi pasien yang rewel, teringat pada benda darinya yang kusimpan di dalam lemari dan kuletakkan berdampingan dengan benda yang kuterima darimu. Seringkali aku ingin membuang benda-benda darinya maupun darimu. Tapi aku tak tahu mengapa hatiku berkata jangan.

 Tak sadar terlalu lama aku memandangi bocah perempuan berpipi tembem yang duduk di hadapanku. Aku tersenyum kepadanya, dan anak manis itu hanya menunjukkan wajah berekspresi datar, sama seperti ekspresi wajahnya ketika aku mulai membahas menanyakan kabar keluarganya. Sama seperti ekspresi wajahmu ketika bosan terhaap sesuatu. Kamu dan dia benar-benar memenuhi kepalaku.

01:20pm

Bioskop ini masih tampak lengang. Setelah membeli tiket, aku ke toilet sebentar, hendak menyegarkan wajah. Seharian ini aku tak tahu mengapa Tuhan seperti sengaja mengingatkanku padamu dan padanya. Bahkan hanya karena melihat papan iklan sebuah restoran ayam cepat saji, aku teringat kamu dan dia. Sungguh, punya ingatan visual yang terlalu kuat itu seringkali merepotkan diri sendiri.

01:30pm

Aku berjalan menuju hall bioskop.

Aku melihat sesosok lelaki senja dengan ujung mataku. Sedang duduk sendiri di salah satu bangku panjang bioskop yang masih tampak sepi. Film baru akan dimulai 45 menit lagi. Dia, beberapa pengunjung lain, dan juga diriku datang terlalu dini untuk latar belakang alasan yang berbeda-beda.

 Lelaki itu.. Warna kulitnya putih kemerahan serupa kulit bayi, seluruh rambut cepaknya pun putih, hanya arsiran-arsiran rambut hitam yang nampak diantara warna putih yang mendominasi.

 Seketika aku teringat dirimu dan dirinya. Bagaimana dirimu dan dirinya kelak saat usia senja menyapa? Akankah kamu seperti lelaki senja yang kulihat di bioskop siang ini? Pergi sendiri melakukan apa yang kamu sukai?

23 Desember 2011, 8pm

“Aku sudah memutuskan.”

“Memutuskan apa?”

“Aku tidak akan menikah.”

Hening

“Kenapa?”

“Nggak semua tindakan perlu punya alasan kan?”

“Ketika kamu berkata tak ada alasan, justru itulah alasanmu.” jawabku datar seraya menatap jauh ke dalam matamu, dan kutemukan kehampaan di sana.

“Aku bisa membantumu mencarikan perempuan idaman seperti apa yang kamu inginkan..” aku menambahkan.

“Tidak perlu. Aku memang sudah memutuskan untuk tidak akan menikah. Aku sudah yakin mengambil keputusan ini sejak beberapa tahun lalu.” katamu tersenyum, kosong.

Kuhela napas panjang. Lelaki senja itu berdiri, nampak berjalan agak ringkih menuju stand pembelian minuman.

 Terbayang olehku, suatu hari dirimu menua. Kemudaanmu lapuk oleh usia dan kamu berjalan ringkih sendiri kemana-mana.

 Perih sekali rasanya setiap kali teringat keputusan konnyol yang kamu katakan di depan mataku di hari itu.

30 Mei 2012, 9pm

“Dedek.. Aku punya kejutan untukmu.” katanya berbinar-binar.

“Oh ya? Apa kak mata sipit? Katakan padaku..” responku antusias.

“Aku ingin menjadi biksu..” jawabnya tersenyum.

Terdiam.

Love doesn’t limit itself to relationship….

Dibaca sebanyak: 415 kali.