Monthly Archives: July 2012

Cookies Coklat Ala Dyah

Cookies Coklat

Beberapa waktu lalu bikin cookies coklat untuk Mr.DAF. Nekat juga sih bikinnya, soalnya pakai resep baru kreasi sendiri. Kalau untuk dimakan sendiri sih nggak apa-apa, tapi ini untuk dikasih ke orang lain 😀 syukurnya alhamdulillah rasanya enak. Baiklah.. Ini dia resepnya.

Bahan:
300gr margarin
170gr gula halus
2 kuning telur
320gr terigu
1,5 sdm susu bubuk
50gr coklat bubuk
30gr coklat susu (diiris-iris acak)
5 sdm koko crunch (ditumbuk kasar)
1,5 sdt soda kue
1,5 sdt baking powder
1 sdm maizena
Parutan keju/ keju dipotong kotak2 dadu kecil, utk hiasan (boleh tidak pakai).

 

Cara Membuat: 

1. Campur dan ayak terigu, baking powder, soda kue, susu bubuk, maizena dan coklat bubuk. Sisihkan.
2. Mixer margarin dan gula halus sampai tercampur rata, lalu masukkan telur satu per satu. Kocok sampai rata (tidak perlu lama-lama, hanya diperlukan waktu sekitar 3-5 menit).
3. Matikan mixer. Masukkan sedikit-sedikit campuran tepung dan bahan-bahan lain yang sudah diayak. Aduk rata hingga kalis (tidak lengket).
4. Masukkan koko crunch dan serutan coklat batang. Aduk rata.
5. Olesi loyang dengan margarin. Cetak adonan di atas loyang, seukuran masing-masing 1 sendok teh.
6. Hiasi bagian tengahnya dengan sepotong keju bentuk dadu. Agak ditekan agar tidak mudah lepas.
7. Masukkan dalam oven yang telah dipanasi terlebih dahulu. Panggang dengan api kecil sedang, sekitar 20 menit.

Selamat mencoba!.. ^_^

Dibaca sebanyak: 18728 kali.

Arga

Klik.

Cukup dengan mengklik sebuah tautan yang kau sampirkan di halaman group jejaring sosialku, kini ku terhubung dengan sebuah web berisi tulisan-tulisan yang membuatku berdecak kagum.

Sudah 3 tahun kita tidak bertemu, namun rasanya baru kemarin kita sama-sama berproses di kampus merah. Berlari-lari mengejar jam kuliah, mengendap-endap berjalan pelan memasuki kelas ketika dosen menghadap ke papan, dan sembunyi-sembunyi keluar fakultas karena menghindar dari kegiatan pengumpulan yang dilakukan senior-senior atas nama pengkaderan. Ah, rasanya semua itu baru kemarin.

Kini, aku berada di depan desktop, membaca karya-karyamu yang selalu berapi-api. Kau tak pernah percaya dengan pemerintah. Katamu, kita tidak butuh negara, tidak butuh pemerintah.

Dulu kami menganggapmu gila, aneh. Tapi mungkin sekarang aku dan beberapa dari kawan-kawan lamamu dulu menganggapmu benar. Kita memang tidak butuh negara, tidak butuh pemerintah, asalkan ada 100 orang sepertimu di tanah ini.

Berlebihan kah jika kusebut demikian? Seringkali dirimu yang absurd, nampak begitu konyol dan rebel di hadapan orang-orang normal. Orang-orang normal yang kau sebut para oportunis. Kau tak peduli, kau tetap bergerak sesuai apa yang kau yakini. Gerakan kiri, mereka menyebutnya dengan istilah itu.

Entah kau masih mengingatnya, atau kah tidak.

Dan aku? Baru saja teringat kalau ini bulan juli. Bulan dimana kau pernah menitipkan sesuatu untukku.

“Ga, kamu fans beratnya Soe Hok Gie ya?” aku memulai percakapan karena mulai bosan dengan buku yang kubaca.

“Iya. Kenapa emang?” tanyamu sambil tetap asik membaca buku.

Kuambil buku yang ada di tanganmu.

“Baca apa sih, Arga? Serius amat? Perang?”, Perang. Ya itu judul buku yang kurebut darimu.

“Iya, judul bukunya memang Perang. Itu novel. Keren banget lho…”

“Hmm..ceritanya tentang apa? Sejarah?” tanyaku ragu.

“Hahaa..bukan, bukan. Itu tentang perang. Tepatnya perang batin yang dialami oleh seseorang yang sangat anti pemerintah.” jawabmu bersemangat menjelaskan.

“Hahaa.. jangan-jangan cerita tentang kamu nih di buku ini?” aku menyindir.

“Hahaha.. bukanlah. Tapi yang jelas ya, akhir dari buku itu, si tokoh utama bertemu dengan pasangan hidupnya, yang sama-sama anti pemerintah.” kamu tersenyum lebar.

“Lalu? Mereka gencar mempropagandakan makar, begitu?” tanyaku lalu menjulurkan lidah mengejekmu.

“Hahaha…Rahasia. Kamu harus membacanya sendiri!…” katamu lalu pergi beranjak dari kursi tempatmu duduk selama satu jam.

“Hey!.. Bukumu?” aku berteriak memanggilmu, melambaikan buku yang tadi kita bicarakan.

“Untukmu saja.” katamu tersenyum lebar, pergi keluar ruangan.

Setelah hari itu hingga kini, kita tak pernah bertemu lagi. Hanya sesekali kudengar berita tentangmu yang kadangkala ada di televisi ataupun media cetak. Kau menjadi incaran empuk para aparat karena kerap kali menjadi aktor utama di aksi-aksi protes atas sengketa lahan rakyat miskin. Mereka -para aparat itu- telah mengetahui bahwa kau adalah dalang dari setiap aksi yang seringkali mengesalkan mereka. Dan aku? Kadang tertawa kecil mengetahui itu semua. Kau terlalu lincah untuk mereka dapatkan. Kau terlalu cerdik untuk mereka kejar.

—-

Sejak hari kau memberikan buku itu kepadaku, aku selalu membawanya kemana-mana. Hingga tak sengaja suatu hari seseorang menyapaku gara-gara buku itu.

“Hai. Nunggu gate tiga juga?” seorang asing menyapaku di ruang tunggu bandara. Wajahnya tampak muram, entah mengapa ia menyapaku.

“Iya.” jawabku dengan senyum tipis, sekedar basa-basi, lalu meneruskan membaca buku Perang.

“Sorry, sepertinya buku itu sangat menarik.” pria muda itu terus menerus menatap buku yang sedang kupegang. Kemeja biru muda dengan dasi senada dan setelan jas hitam ditambah celana kain dan sepatu van tofel berwarna hitam, menunjukkan nuansa formal yang baru saja atau akan dihadirinya setelah penerbangan ini.

“Iya sangat menarik. Dan buku penting buat saya.” jawabku lagi dengan senyuman

“Boleh saya lihat?” pintanya dengan wajah penuh harap

“Oh tentu saja. Silakan.” ujarku sambil menyerahkan buku ke tangannya.

Cukup lama lelaki itu terdiam, kemudian ragu-ragu membuka sampul buku itu perlahan. Kuamati raut wajahnya. Terlihat ia menelan ludah ketika membaca tulisan di halaman awal buku itu.

“Kenapa? Anda baik-baik saja?” tanyaku keheranan.

“Darimana Anda mendapatkan buku ini?” matanya nampak berkaca-kaca.

“Dari kawan lama saya, Arga. Apa Anda mengenalnya?”

“Arga meninggal tadi pagi, kena tembakan aparat, tepat di dadanya.” pria itu mengabarkan berita mengejutkan kepadaku. Pria yang bahkan tak kuketahui namanya siapa.

Aku sangsi. Kutampilkan wajah tak suka pada pria itu. Bagaimana mungkin orang itu bisa berkata seperti itu? Sedangkan dengan jelas semalam aku masih membaca tulisan Arga di blog pribadinya, meskipun ada suara dari hati kecilku yang mengatakan bahwa tulisan di blog bisa diposting denga mengatur jadwal postingannya. Namun aku tetap berkeras hati bahwa lelaki berkacamata dan berwajah manis itu sungguh telah bersikap pahit kepadaku.

Kurebut buku itu darinya, lalu beranjak hendak ke kamar kecil.

Baru saja aku berdiri dari tempatku duduk, di layar LCD ruang tunggu, dengan jelas kudengar nama Arga disebut-sebut oleh seorang pembaca berita.

Seorang aktivis gerakan konfrontasi tertembak tadi pagi. Ia meninggal dunia saat dilarikan ke rumah sakit. Aktivis yang telah menjadi incaran aparat itu bernama Arga.

Tubuhku bergetar mendengar berita itu. Kutolehkan kepalaku ke arah LCD, dan dengan jelas kulihat sosok Arga di sana.

Kubuka halaman akhir buku itu perlahan, dengan napas yang sesak dan sisa-sisa tenaga yang kupunya.

Dina, aku ingin mati memperjuangkan kebenaran. – Arga

Bagiku, Arga telah berhasil memenangkan perang yang sesungguhnya, perang antara memperjuangkan suara rakyat atau memenangkan keegoisan diri.

Dibaca sebanyak: 687 kali.

Keywords

  • rela nunggu pesanmu berhari hari

Pendugaan Parameter dan Konspirasi

Kali ini nyoba-nyoba nulis tentang pendugaan parameter dalam ekonometrika, dikaitkan dengan konspirasi. Gimana jelasnya? Langsung aja ya..
Pendugaan

Di dunia statistika & ekonometrika, kita mengenal yang namanya pendugaan. Nah, apa sih pendugaan itu?

Pendugaan adalah proses menggunakan sampel statistik untuk menduga atau menaksir hubungan parameter populasi yang tidak diketahui.

Jika kita hubungkan dengan penyelidikan konspirasi, maka pendugaan dalam teori konspirasi merupakan proses menggunakan data-data yang ada, untuk menduga atau menaksir hubungan antara subjek yang satu dengan subjek lainnya.

Atau secara sederhana, pendugaan adalah proses yang dilakukan oleh seseorang dengan mengumpulkan dan menganalisa informasi-informasi yang ada untuk kemudian menyimpulkan adanya keterlibatan kasus antara pejabat A dengan pejabat B. Bingung nggak? Yang jelas, gitu deh, kalau bingung, saya nggak tanggung.. Hihihii.

Penduga

Nah, untuk mengetahui pendugaan parameter, maka perlu juga kita ketahui definisi dari penduga. Apa sih penduga itu?

Penduga adalah suatu statistik (harga sampel) yang digunakan untuk menduga suatu parameter.

Kalau dihubungkan (lagi) dengan teori konspirasi, maka penduga merupakan informasi-informasi yang digunakan oleh seseorang dalam menginvestigasi adanya konspirasi untuk suatu kasus tertentu.

Ciri-ciri Penduga yang Baik

Ada beberapa ciri penduga yang baik, antara lain:

– Tidak bias

Suatu penduga dikatakan tidak bias apabila nilai penduga sama dengan nilai parameternya.

Kalau dalam teori konspirasi: terbukti adanya konspirasi apabila informasi-informasi yang dikumpulkan valid sesuai dengan fakta yang terjadi.

– Efisien

Suatu penduga dikatakan efisien bagi parameternya apabila penduga tersebut memiliki varians terkecil.

Penyelidikan konspirasi: bukti-bukti dinyatakan valid apabila informasi-informasi yang ada tertuju pada pihak yang jelas keberadaannya.

– Konsisten

Jika ukuran sampel semakin bertambah, maka penduga akan mendekati parameternya.

Jika informasi-informasi valid yang tertuju pada pihak yang jelas semakin banyak, maka semakin jelas bukti adanya konspirasi.

Wah, ternyata statistika bisa digunakan untuk menyelidiki konspirasi!.. Hehehee…

Ssst..yang jelas, tidak ada konspirasi apa-apa di balik tulisan ini. 😀

Selamat weekend readers!… 😀

NB: jug diposting di www.ekonomgila.org

Dibaca sebanyak: 38735 kali.

Keywords

  • makalah pendugaan parameter
  • ciri pendugaan yang baik dalam statistik
  • penduga parameter yg baik
  • ciri ciri teori konspirasi
  • ciri pendugaan yang baik

Sampah-sampah di Kehidupan Kita

“Jangan sampai dosa kita menghambat rencana besar Tuhan yang sangat cemerlang.”– Anthony Dio Martin

Ada enam sampah dalam kehidupan kita, yang seringkali tanpa kita sadari, sampah-sampah itu menghambat kita tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Apa saja? Berikut intisari pesan Anthony Dio Martin di Smart FM, 6 Mei 2012, sekitar pukul 21.15 WITA.

1. Sampah barang-barang

Barang-barang yang sudah tidak kita gunakan, seringkali menumpuk di lemari, di ruangan, ataupun di setiap sudut rumah kita. Cara mengatasi sampai ini, bisa dengan menyumbangkan barang-barang yang tidak terpakai tersebut ke orang lain. Dengan menyumbangkan barang-barang yang sudah tidak kita pergunakan, maka suasana akan lebih lowong. Akan lebih banyak ruang  kosong yang membuat kita dapat menerima hal-hal baru.

2. Sampah zat dalam tubuh

Cara mengatasinya dengan detoksifikasi. Sebenarnya tubuh manusia selalu mengalami proses detoksifikasi alami. Namun kadang-kadang kita perlu campur tangan tindakan kita sendiri agar detoksifikasi (proses pembuangan zat-zat tidak berguna dari dalam tubuh) berjalan lebih lancar. Salah satu contoh detoksifikasi alami yang bisa kita usahakan yaitu dengan minum jus buah atau sayuran selama beberapa hari berturut-turut.

3. Sampah relasi sosial

“Kita perlu menjaga jarak dengan orang-orang yang mencuri mimpi-mimpi kita”, ungkapan Robert T.Kiyosaki tersebut dikutip oleh Anthony Dio Martin untuk memunjukkan bahwa mereka yang mencuri mimpi kita adalah mereka yang selalu meremehkan kita dan pesimis terhadap cita-cita kita. Orang-orang semacam itulah yang disebut sampah relasi sosial.

4. Sampah masa lalu

Masa lalu adalah kumpulan kenangan yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai. Kenangan yang manis kadang kala menjadi tembok yang memaksa kita untuk terus bernostalgia dan mengabaikan waktu yang terus berputar. Untuk itu, untuk mengatasi sampah masa lalu, caranya dengan: stop bernostalgia dengan masa lalu. Saatnya untuk terus move on dan menciptakan pencapaian-pencapaian baru.

5. Sampah pikiran

Sampah jenis ini adalah pikiran-pikiran negatif yang seringkali muncul ketika kita hendak mengambil sebuah keputusan, ketika kita hendak melakuka sebuah tindakan. Hal yang perlu kita lakukan untuk mengatasi sampah jenis ini yaitu dengan membuang jauh-jauh pikiran yang tidak penting  dan menghambat kemajuan diri. Caranya bagaimana? Yaitu renungkanlah pikiran-pikiran baru yang positif, yakini dan resapi hingga tertanam di otak kita.

6. Sampah spiritual

Apakah yang dimaksud dengan sampah spiritual? Tidak lain yaitu dosa-dosa kita. Ada satu kalimat menarik yang disampaikan Anthony Dio Martin terkait sampah spiritual ini, yaitu: jangan sampai dosa kita menghambat rencana besar Tuhan yang sangat cemerlang.

Itu dia enam jenis sampah dalam kehidupan kita. Dikatakan sampah sebab, hal-hal tersebut tidak penting, bahkan menjadi penghambat dalam proses pendewasaan kita menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga bermanfaat!… 🙂


Dibaca sebanyak: 432 kali.

Kata-kata Patah

Ada kata-kata patah yang tak mampu kuucapkan di percakapan terakhir kita di kala itu. Kata-kata patah yang hilang begitu saja, entah kemana. Kata-kata patah yang membuatku tergugu diam menerima realita.

Aku bersandar pada tembok rapuh yang kita bangun dua tahun yang lalu. Tembok yang serupa warna susu, tak begitu tinggi menjulang, namun cukup membatasi dunia kita dengan realita.

Kamu bersandar pada tembok rapuh itu. Juga bernyanyi di baliknya, bersenandung tentang puisi-puisi kehidupan di bait-bait yang sedang kau jalani.

Aku mendengarkan. Menikmati setiap kata-kata yang keluar dari setiap gaya bibir yang kau bentuk. Mengamati sekeliling dengan atmosfer suasana yang kau ciptakan.

Dimanakah kita sekarang? Tembok rapuh itu runtuh menimpa diriku dan dirimu.

Jatuh berserakan.

Berpuing-puing sendu bagiku.

Kesadaran hadir seketika. Ah, rupanya aku bermimpi. Mimpi itu rasanya sunggu nyata kualami. Tergesa-gesa kunyalakan notebook dan kukirimkan pesan singkat di messengermu.

“Aku bermimpi tentangmu”

Cemasku masih bersisa. Dahagaku memuncak dan keletihan menyergap. Aku bingung hendak mengatakan apa padamu. Mungkin mimpi itu muncul akibat peristiwa tadi siang.

“Kemarin, aku meminta pada ALLAH, agar DIA senantiasa melindungimu” katamu tersenyum ringan kepadaku.

“Terima kasih. Do’a apa yang harus kupinta padaNYA untukmu?”, jawabku seraya membalas senyumnya

“Berdo’alah agar kita berjodoh suatu hari nanti. Aku ingin kita bersama. Aku ingin kau menemani masa tuaku, menjadi ibu untuk anak-anak kita kelak.” raut wajahmu tegang.

Aku diam. Tak ada sebentuk kata-kata yang mampu kuucapkan kecuali senyum yang mengembang. Bukan senyum penuh harap. Aku takut berharap terlalu jauh. Aku takut bermimpi.

“Jadi, kamu nanti masuk Islam?” tanyaku menatap pada matamu.

Kamu hanya diam, tersenyum lagi, dan berkata

“Insya Allah”

Berhari-hari messengerku sepi darimu. Tak ada pesan, tak ada telepon, ataupun email. Semuanya menyadarkanku sebuah fakta, bahwa aku merindukanmu. Ya, aku rindu.

Ingatanku seketika berfokus pada mimpi tembok rapuh. Mimpi itu menyesakkan dadaku, meskipun aku tak mengetahui pasti maknanya. Aku hanya merasa tak nyaman pernah mengalami mimpi serupa itu. Apakah kau juga mengalaminya?

Dua bulan mungkin menjadi waktu yang cukup bagiku untuk belajar. Belajar menikmati hidup tanpamu. Kau pergi, tak ada kabar berita. Aku tak tahu hendak mencarimu kemana lagi. Aku hanya berharap suatu saat kau akan datang kembali.

Handphoneku bergetar, sebuah pesan masuk di inbox. Nuraniku turut bergetar. Itu pesan darimu.

“Selamat untuk pencapaian karirnya. Maaf, aku sudah menikah sebulan yang lalu, karena itu aku tak pernah menghubungimu lagi. Maafkan aku. Bagaimanapun juga, aku masih sangat menyayangimu.”

Tenggorokanku tercekat. Udara yang kuhirup seakan mencekik leherku sendiri. Kubiarkan kata-kata patah begitu saja. Tak perlu kusampaikan apapun. Hanya kujawab pesanmu dengan kata-kata patah

“Terima kasih. Semoga kelak menjadi suami dan ayah yang baik.”

 

Dibaca sebanyak: 844 kali.