Monthly Archives: August 2012

Sekufu

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Pernah denger kata sekufu?

“Si A nggak cocok sama Si B, soalnya mereka nggak sekufu.”

Mungkin readers pernah dengar percakapan seperti itu terlontar dari mulut seseorang ketika mereka berbincang persoalan jodoh atau pasangan hidup.

Kufu secara sederhana berarti sepadan.

Jadi, dua orang yang akan menikah, dianjurkan se-kufu, alias sepadan. Sepadan dalam hal apa? Nah, simak yang berikut πŸ™‚

Kufu (kesepadanan) itu ada lima, yaitu:

1. Agama

Dua orang yang akan menikah, hendaklah sekufu dari segi agama. Sekufu dari segi agama maksudnya yaitu keduanya sama-sama baik. Baik yang seperti apa? Yaitu tidak pernah melanggar hukum-hukum syariat.

Q: “Jadi, boleh dong yang biasa-biasa saja nikah sama ustadz atau ustadzah?”

A: “Boleh kok. Why not? Yang penting sama-sama beragama Islam. Kalau yang satunya baik, agar sekufu, yang satunya juga harus baik. Baik yaitu tidak pernah melanggar hukum-hukum syariat.”

Β Agama merupakan faktor kufu yang paling diutamakan.

2. Keturunan

Kufu yang kedua yaitu keturunan. Misalnya: anak raja menikah dengan anak raja dari kerajaan lain. Itu contoh sepadan dalam hal keturunan.

3. Status

Status juga merupakan faktor penting, sebab jika perbedaan statusnya terlalu jauh, (katanya siiihh) nantinya akan menimbulkan banyak percekcokan dalam pernikahan. Ya..who knows? Contoh untuk yang ini: anak presiden (agus) yang nikah ama anak mantan gubernur BI (annisa). Nah, itu namanya sekufu dalam hal status. πŸ™‚

4. Pekerjaan

Contoh: artis nikah sama artis. πŸ˜€

5. Kemampuan calon suami memenuhi kebutuhan istrinya kelak.

Yang ini juga termasuk dalam kesepadanan. Walaupun kadangkala terkesan tabu dibicarakan, padahal termasuk hal penting. Jadi misalnya si perempuan sejak sebelum menikah sering pakai barang-barang lux, belanja di tempat-tempat mahal dan keluar negeri setiap pekan. Berarti si calon suami harus siap memenuhi kebutuhan-kebutuhan perempuan itu kelak jika menjadi istrinya. Hihihihi..itu aja sii contohnya. Selebihnya pada paham sendiri kan.. πŸ™‚

Nah, jika salah satu kufu saja sudah terpenuhi, maka dua orang yang sudah akil baligh dan ingin menikah, sudah bisa dikatakan sekufu untuk menikah.

Walaupun yang utama tetaplah agama. πŸ™‚

Jadi gimana kalau calon istri atau calon suaminya baru mau masuk islam saat hendak menikah? πŸ™‚ coba aja ditengok 4 kufu yang lain, sudah sekufu nggak? Kan minimal terpenuhi satu. πŸ™‚

—-

NB: Tulisan di atas dibuat berdasarkan penyampaian salah seorang ustadz. Untuk lebih baiknya, silakan digali lebih dalam lagi informasinya. Karena apa yang saya tulis disini hanya poin-poin singkat saja. Terima kasih

 

Dibaca sebanyak: 12238 kali.

Keywords

  • nggak sekufu

Filosofi Luka

“Jempol kiriku panas banget, tadi nggak sengaja ketumpahan sambel waktu mau masukkan mangkuk sambel ke lemari makan. GimanaΒ  ya biar panasnya ilang?”

“Hmm..susah. Coba dicuci pakai sabun.”

“Udah coba cuci pakai dua jenis sabun, dah coba dicuci pakai air hangat, juga pakai susu bubuk (kalo makan kepedesan terus minum susu, pedesnya jadi agak berkurang –> jadi punya ide utk menghilangkan rasa panas sambel di tangan pakai susu bubuk). Hehehe”

“Hmm..kalo gitu, panasnya akan hilang sendiri seiring waktu. Hehehe..”

Rasa panas di jari akibat nggak sengaja ketumpahan sambel dapat diibaratkan sebagai masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan kita. Hal-hal yang tidak nyaman, hal-hal yang mengganggu rasa aman kita.

Usaha-usaha untuk menghilangkan rasa panas di jempol diibaratkan usaha-usaha yang kita lakukan untuk memecahkan persoalan kehidupan yang kita hadapi. Upaya menenangkan hati yang terluka, upaya menjernihkan masalah yang ruwet, semuanya adalah usaha untuk mengembalikan kondisi diri kita kembali pada titik nyaman dan tenang.

Namun, ketika berbagai upaya telah kita lakukan namun rasa panas di jempol akibat ketumpahan sambel masih begitu terasa..sama artinya dengan apapun yang kita lakukan utk kembali pada titik equilibrium diri kita, pada akhirnya akan terkoreksi sendiri oleh waktu.

Sepahit-pahitnya ujian, rasa kehilangan, dan segala ketidaknyamanan dalam kehidupan, insya Allah pasti akan hilang tergantikan oleh rasa syukur, nyaman, dan hati yang tenang.

Ada sebuah kalimat bijak yang entah darimana saya membacanya.. heheee..

Setiap luka pasti akan sembuh

Setiap luka punya sejarahnya sendiri.

Jadi, tak perlu repot-repot menghapus bekas luka.

Suatu hari, ketika memandanginya, kita akan semakin bersyukur untuk sebuah kondisi yang kita jalani sekarang. Bersyukur pernah ada di titik yang membuat luka itu ada.

^_^

Bulan ramadhan penuh berkah.. Semoga kita semua bisa menjadi insan yang lebih baik lagi setelah bulan ramadhan ini kita lalui. Amiin.

Dibaca sebanyak: 397 kali.

Keywords

  • filosofi luka