Monthly Archives: June 2013

Catatan Kecil untuk Film Temani Aku Bunda

Photo1737 - C

“Kalau kita mau generasi muda kita baik, Indonesia baik, maka stop kecurangan.”

Abu Juniarenta (Produser Film Dokumenter Temani Aku Bunda).

Beberapa waktu  lalu, tepatnya Sabtu 8 Juni 2013, di XXI Mall Panakkukang Makassar diadakan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Temani Aku Bunda. Acara nonton bareng di Makassar tersebut terselenggara atas kerjasama Rumah Ide Makassar dan Yayasan Kampung Halaman. Acara tersebut sekaligus merupakan roadshow terakhir dari keseluruhan roadshow film Temani Aku Bunda setelah 3 kota besar lainnya –Jakarta, Surabaya, dan Medan-.

“Diantara 4 kota tempat kami mengadakan roadshow, yang paling ramai adalah Medan. Sampai 2 studio dibuka untuk pemutaran film ini. Jumlah penontonnya kisaran 400 orang”, demikian kata Abu Juniarenta ketika ditanya mengenai roadshow film Temani Aku Bunda ini.

Film dokumenter ini bercerita tentang seorang anak bernama Muhammad Abrary Pulungan (disapa Abrar) yang merasa gelisah karena disuruh nyontek massal oleh gurunya saat menjelang UN. Dan Ibunda Abrar (Irma Winda Lubis) adalah orang yang cukup getol dan terus bersemangat membawa kasus tersebut kemana-mana untuk mencari penyelesaian.

Photo1735 - CUnik dan salut untuk Ibunda Abrar –seorang perempuan Batak- yang sampai hari ini terus bersemangat. Yang menjadi titik poin di film itu adalah tentang bagaimana perjalanan, bagaimana upaya-upaya yang ditempuh oleh Ibu Irma Winda Lubis. Ibunda Abrar sampai meminta bantuan tim investigasi tapi nihil. Tim investigasi menyatakan semua itu sia-sia. Bahkan kata salah seorang sepuh yang juga menjadi pengamat pendidikan, mengatakan pada Ibu Winda “Anda ibarat sedang berhadapan dengan tembok”. Ya wajar seorang sepuh itu mengatakan demikian, soalnya Ibunda Abrar memang berhadapan dengan sistem dan mengatakan di film itu bahwa ia ingin ada perubahan dalam sistem pendidikan Indonesia.

Nggak salah sebenernya. Mereka –orang-orang yang senantiasa berada di jalan yang lurus- terkadang dianggap manusia aneh. Orang lain kadang kala terlalu cepat menilai sebelum tahu/ berusaha memahami bagaimana seseorang yang dinilainya itu dan apa latar belakang yang membuatnya demikian? Hal-hal semacam itu seringkali hanya menjadi teori di buku-buku teks.

Ada beberapa hal yang dapat diambil pelajaran sekaligus menjadi catatan mengenai film dokumenter yang diproduksi oleh Yayasan Kampung Halaman dengan support Ford Foundation ini:

1. Gigihlah berjuang untuk setiap nilai yang kau yakini itu baik

Jika sikap Ibu Winda tidak segetol itu, tidak segigih itu, tentu tidak akan ada roadshow film Temani Aku Bunda ini. Sebagai catatan: Ibu Winda dan Abrar sudah ibarat artis, mereka menjadi tenar dan banyak orang berebutan foto saat film usai diputar. Bagaimanapun juga itu semua hanya efek saja. Hal utama yang membuat mengapa film tersebut tenar yaitu masih banyaknya orang yang berpandangan sama seperti apa yang dikatakan Ibu Winda saat ditanya “Kenapa film tersebut gencar dipromosikan?”, Jawabnya “Agar orang-orang tahu, agar orang-orang sama-sama mengingat bahwa kejujuran itu penting, dan masa depan anak-anak Indonesia adalah hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih”.

2. Butuh penyulut yang lebih besar untuk mewujudkan niat baik.

Roadshow film ini seperti hendak mengumpulkan massa. Jadi ingat koin prita, bagaimana orang-orang bergerak karena peduli pada Prita yang ketika itu tersangkut kasus dengan RS Omni Jakarta. Dan kalaupun benar bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam film Temani Aku Bunda ini ingin membangun gerakan, apakah itu salah? Apakah itu tidak diperbolehkan? Tentu saja jawabnya boleh dan tidak ada yang salah. Lalu pointnya apa? Menurut saya, apa yang terjadi pada Abrar (dan juga Alif) –meskipun diliput media- belumlah bisa menjadi penyulut agar orang-orang bergerak mendobrak kementrian pendidikan. Karena Abrar hanya 1 orang (Alif juga hanya 1 orang). Apa yang dilakukan pihak Kampung Halaman dan Bu Winda adalah upaya sedang menyalakan penyulut. Tapi itu ibarat menyalakan penyulut pada daun-daun basah seusai hujan. Tentu butuh usaha ekstra daripada menyalakan api pada daun-daun kering.

Daun-daun kering itu sifatnya lebih mudah terbawa angin daripada daun basah. Lebih mudah terbakar daripada daun basah. Lebih ringan daripada daun basah. Tingkat kelembamanannya pun lebih kecil daripada daun basah.

Kalau di demonstrasi-demonstrasi, orang-orang/massa demo itu ibarat daun-daun kering, mereka ngikut, mereka terbakar, dan mereka lebih cepat bergerak. Kenapa mereka ngikut/  mememutuskan mengikuti demo itu? Karena mereka free, dalam kondisi bebas (kering). Ketika ada yang menyulutnya, mereka jadi lebih mudah terbakar karena ‘bebasnya’ itu tadi. Berbeda dengan daun-daun basah yang memiliki ‘beban air’. Di kehidupan nyata kan seperti itu… Orang-orang yang ‘terikat’/’terdesak’ oleh sesuatu, bukanlah orang-orang yang mudah bergerak.

Wah dapat 1 pelajaran hidup lagi nih. Orang-orang yang susah move on, orang-orang yang belum berani melawan apa yang seharusnya mereka lawan, orang-orang yang ‘terikat’, itu semua ibarat daun-daun yang habis kena air hujan. Mereka harus ‘mengeringkan’ diri dulu untuk lebih mudah bergerak.

Namun ada 1 hal yang membedakan manusia dengan daun-daun. Ya tentu saja –bagaimanapun juga- membuat sebuah analogi tidaklah pernah serupa/ sama persis dengan realitas yang ada. Daun-daun tidak memiliki pilihan. Mereka hanya bergerak searah dengan arah tiupan angin. Berbeda dengan manusia yang bisa memilih kemana, kapan, dan seberapa cepat mereka memulai langkah, berlari, memelankan langkah, hingga istirahat sejenak. Manusia bisa mengatur kecepatan dirinya sendiri. Tergantung dia hendak menjadi apa atau hendak bagaimana. Persoalan hasil akhir, itu urusan Tuhan. Manusia hanya bisa bergerak, bergerak, bergerak,dan berdo’a. Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Kampung Halaman dan Keluarga Muh Abrary Pulungan. Mereka bergerak karena kegelisahan, mereka bergerak karena kekhawatiran. Mereka bergerak karena peduli pada nasib anak-anak Indonesia di masa depan.

Di suatu kehidupan, memang ada orang-orang seperti mereka –yang dengan sengaja ditentukan oleh Tuhan- sebagai penyeimbang. Bila tak ada lagi, maka tak ada lagi orang-orang yang mengingatkan manusia lain tentang nilai-nilai kebenaran, tak ada lagi kedamaian, tak ada lagi keharmonisan, hanya ada kebusukan-kebusukan yang terbungkus kemasan-kemasan palsu, dan dunia tinggal menghitung waktu untuk mengakhiri kehidupannya. Wallahu’alam bishawab.

Dibaca sebanyak: 49946 kali.

Keywords

  • download film temani aku bunda
  • Temani aku bunda
  • dowoad film temani aku bunda
  • film temani aku bunda download
  • free download film temani aku bunda

Memuji Anak-Anak

Salah satu kebiasaan orang tua yang menyebabkan perilaku buruk pada anak, menurut Ayah Edy adalah Menekankan pada hal-hal yang keliru.

Bagaimana itu? Menekankan pada hal-hal yang keliru yaitu ketika dua orang anak bertengkar, orang tua kerap kali memarahi keduanya. Itu adalah menekankan pada hal-hal yang keliru.

Lalu? Bagaimana seharusnya? Yaitu tekankan pada hal-hal yang positif.

Menekankan pada hal-hal yang positif itu mudah secara teori, namun perlu konsistensi yang kuat untuk praktiknya.

Menekankan pada hal-hal yang positif misalnya: saat anak-anak bertengkar, lerai dan puji saat mereka akur kembali. Pujian orang tua terhadap ke-akur-an kedua anaknya merupakan upaya menekankan pada hal-hal yang positif.

Kita sebagai orang tua kadang-kadang lupa bahwa sebenarnya anak-anak belajar langsung dan belajar banyak dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Kita pun kadang-kadang lupa, bahwa sebenarnya kita juga sedang belajar memperbaiki diri kita sendiri ketika menghadapi anak-anak.

Keluarga dan Ajaran Islam

Maka benarlah bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya. Mengapa? Karena orang yang paling baik terhadap keluarganya, terutama kepada anak-anaknya, adalah orang yang mau untuk belajar memperbaiki dirinya secara konsisten.

Dan tentu saja, hal ini juga menjadi alasan logis mengapa menikah adalah menyempurnakan setengah agama. Sebab ketika seseorang telah menikah, maka ia belajar banyak hal yang jika semua hal itu dilandasi dengan keimanan, sempurnalah setengah agamanya.

Sungguh.. Islam benar-benar agama yang lengkap.

Dibaca sebanyak: 525 kali.

Belajar Bikin Donat Empuk Sederhana

donut benjol

Donat empuk siapa sih yang tidak suka? Cemilan yang biasa menemani teh, kopi, ataupun coklat hangat ini cocok dimakan kapan saja dan disukai oleh semua kalangan usia. Anak-anak umur 1,5 tahun sampai nenek-nenek pun suka makan donat, apalagi jika donatnya berhias topping favorit, makin suka deh makannya, hehehe.

Weekend pekan lalu saya pengen banget bikin donat, kangen makan donat, jadinya bikin. Oh ya, karena saya pernah bikin donat gagal alias donatnya agak keras, jadinya sebelum bikin, sempetin browsing-browsing dulu nyari resep. Nyoba nyari resep donat empuk ala ncc. NCC itu loh.. Natural Cooking Club, resep-resepnya jitu-jitu.

Nah, saya nemu nih resep menarik disini. Lalu saya modifikasi sedikit berdasarkan ketersediaan bahan di rumah. Hehehhehe..

Ini dia resep donat empuk sederhana ala dapur restyani.. Sudah diuji coba loh.. Walopun ada kesalahannya dikit, tahukah apa? Yup!.. Donatnya keliatan benjol-benjol karena harusnya dah saya bentuk bulat-bulat berbolong lalu didiamkan, tapi saya malah cuman bentuk bulat-bulat belum dibolongin, jadinya bentuknya agak tidak menarik hati. Haahhaha.. 😀 😀 😀 Keliatan banget ya kalau memang bukan ahli donat. Hihihiii.. Nggak apa, buat saya setiap hal adalah pelajaran saat kita tahu letak salahnya dimana. *apologidotcom. 😀

Bailah, ini dia resep donatnya. Hasilnya empuk loh.. selamat mencoba yaa..

Bahan:

500 gram tepung terigu (saya pakai terigu kompas aja karena adanya itu di rumah :D)

100 gram margarin

2 sdm gula pasir

11 gram ragi instant (saya pakai 1 bungkus fermipan yang 11 gram)

1/2 sdt baking powder

1/2 sdt vanili bubuk

2 sdm susu bubuk (saya pakai 1 sachet kecil susu dancow bubuk)

2 kuning telur + 1 putih telur

200 ml air es

Boleh tambahkan garam halus sejumput jika mau (saya nggak pakai)

 

Cara Membuat:

1. Ayak campuran terigu, susu bubuk, baking powder, dan vanili bubuk. Lalu tambahkan ragi dan gula, aduk rata.

2. Masukkan telur di tengah-tengah adonan kering, campur dan uleni sambil sedikit-sedikit masukkan air.

3. Tambahkan margarin sedikit-sedikit dan uleni sampai kalis.

4. Diamkan 30 menit di dalam wadah yang ditutupi serbet kering.

5. Kempeskan adonan yang sudah didiamkan 30 menit, lalu bentuk-bentuk sesuai yang diinginkan, diamkan lagi 10 menit dalam keadaan ditutup serbet.

6. Goreng dan sajikan sesuai selera.

Jadinya 25 buah donat ukuran sedang.

Kali lain pengen nyoba belajar bikin yang resepnya teh ricke, yang empuk donatnya kebangetan empuknya, kalau sempetin ke toko bahan kue beli tepung komachi.. 😀

Selamat mencoba!.. ^_^

Tulisan lainnya tentang belajarku utak atik bahan di dapur:

1. Little Tips for Sponge Cake

2. Cookies Coklat ala Dyah

3. Beljar Bikin Negro Cake

 

 

Dibaca sebanyak: 16139 kali.

Keywords

  • resep donat empuk ncc
  • resep donat ncc
  • donat empuk ekonomis
  • donat empuk ncc
  • resep donat ricke