Fertilitas dan Kebijakan Kependudukan

Di ekonomi kependudukan ada empat cakupan penting yakni kelahiran penduduk (natalitas), kematian penduduk (mortalitas), tingkat kesuburan penduduk (fertilitas) serta perpindahan penduduk (migrasi). Kali ini kita akan membahas mengenai fertilitas.

Fertilitas ini erat kaitannya dengan potensi SDM yang di dalamnya tercakup jumlah, struktur, dan pertumbuhan penduduk. Potensi SDM tersebut pada akhirnya mempengaruhi pembangunan ekonomi.

Dalam ekonomi SDM, anak merupakan potensi yang suatu saat dapat dimanfaatkan sebagai faktor produksi, pemikiran yang capital banget kan keliatannya. Hihihihi 😀 tapi kalian akan menemukan penjelasannya di bawah ini.

Terkait potensi SDM yang mengarah ke perencanaan pembangunan ekonomi ini, sama halnya dengan bidang lain, ada 2 cara pandang terhadap penduduk sebagai fokus utama. Baik dari sisi demand maupun dari sisi supply, lengkapnya sebagai berikut:

1. Penduduk dipandang dari sisi konsumsi (demand side)

Bila penduduk dipandang dari sisi konsumsi maka kedatangan imigran di suatu wilayah akan ditolak karena dipikir akan menghabiskan nilai / sumber daya yang ada di wilayah tersebut. Di samping itu, dalam cara pandang ini pula, penduduk usia non produktif (anak dan lansia) akan dianggap sebagai beban negara. Cara pandang demikian biasanya akan melahirkan kebijakan-kebijakan anti natalis. Mayoritas ahli ekonomi berada pada sisi ini –memandang penduduk dari sisi demand side.

2. Penduduk dipandang bernilai investasi (supply side)

Bila penduduk dipandang bernilai investasi maka kedatangan imigran di suatu wilayah akan sangat diterima karena dipikir akan meningkatkan nilai / sumber daya yang ada di wilayah tersebut. Selain itu, dalam cara pandang ini, penduduk yang dipandang bernilai investasi adalah penduduk usia produktif. Cara pandang yang seperti ini biasanya akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang lebih mengutamakan bagaimana menghasilkan SDM yang bermutu tinggi. Salah satu ahli ekonomi yang mencetuskan teori bahwa penduduk seharusnya dipandang dari sisi supply (bernilai investasi) adalah Becker.

Dari 2 cara pandang tersebut, paling tidak sudah ada sedikit titik terang tentang mengapa mulai belakangan ini pemerintah sedang gencar-gencarnya mempromosikan KB untuk membatasi anak, bahkan sampai di beberapa case dimana para petugas medis mengharuskan para pengguna jampersal untuk berKB IUD. Semua itu sudah jelas merupakan kebijakan anti natalis meskipun sifatnya masih halus. Saat pemerintah memandang penduduk dari sisi konsumsi, dalam artian jika makin banyak penduduk maka sumber daya yang ada akan makin terbatas, orang-orang akan berebut sumber daya, bisa jadi ada yang tidak kebagian sumber daya (wabah kelaparan, kurang gizi, kematian). Rasa khawatir pemerintah akan tidak mampu bertanggungjawab terhadap penduduk berjumlah besar di suatu hari nanti, menyebabkan lahirlah kebijakan cenderung anti natalis tersebut.

Sayang sekali jika penduduk dipandang dari sisi konsumsi semata, sebab dengan demikian, tidak akan ada perhatian lebih kepada mutu penduduk. Yang menjadi fokus utama justru adalah “bagaimana agar penduduk tidak meledak?” –sebuah pertanyaan yang dapat dijawab dengan melakukan berbagai tindakan, yang penting tujuan tercapai. Fokus tersebut juga “melupakan” bahwa ada alam yang senantiasa melakukan penyesuaian-penyesuaian asalkan manusia senantiasa melakukan yang baik sebaik-baiknya terhadap amanah Tuhan.

Lalu bagaimana penjelasan untuk penduduk dari sisi supply? Jauh sebelum Becker mengemukakan teorinya, Al Qur’an sudah lebih dulu mengajarkan pada manusia bahwa sepatutnya penduduk (anak) dipandang sebagai investasi. Ketika penduduk dipandang sebagai investasi, maka penduduk (terutama anak-anak) akan diperlakukan sebaik-baiknya dan benar-benar diusahakan jaminan kebutuhan lahir batinnya, gizinya, kesehatannya serta pendidikannya hingga kelak dewasa ia menjadi SDM yang berkualitas tinggi yang mampu memberikan kontribusi besar pada agama, bangsa dan negara.

Semoga bermanfaat!.. 😉

Tulisan lainnya terkait ekonomi SDM:

1. Migrasi di Teori Ekonomi SDM

2. Faktor-faktor Migrasi

3. Brand Brain Migration

Dibaca sebanyak: 11466 kali.

Keywords

  • pertanyaan tentang fertilitas
  • pertanyaan fertilitas
  • Kebijakan Fertilitas
  • kebijakan fertilitas di indonesia
  • kebijakan tentang fertilitas